Selasa, 15 Desember 2015

Aku Ingin Tua dan Mati di Kampung Kita

Setiawan Chogah



Tahun-tahun usai dan datang kembali, dan aku kian tua di sini.
Di dadaku, Mak, tumbuh subur sebatang pohon.
Pohon berdaun lebat dan akar kokoh menghujam jantung. 
Dedaunnya terus saja membisikiku, "Pulanglah." 
Sadar diriku ini, Mak. Kelak, pun aku tak ingin jasadku bersemayam di pandam-pandam yang aku sendiri tak mengenalnya ini.

Di kepalaku, Mak, tumbuh pula pohon angan berdaun lebat.
Hijau serupa daun-daun talau yang kerap memiangiku di masa bocah.

Di masa menjelang petang seperti ini, daun-daunnya kususun, menjelma rumah sederhana kita dengan anak sungai di belakangnya. 

Rumah yang kuperuntukkan untukmu, menantu, dan cucu-cucumu. Di sana kita hidup bersama, ditemani dendang uwie-uwie dan cekikik kawanan simpai yang berlompanan di pohon-pohon karet.

Mak, aku ingin tua, dan mati di kampung kita.


Rantau, 27/05/2015


Selasa, 18 Agustus 2015

Kisah Perjalanan Tiga Kaleng Coke, Kita yang Mana?

Setiawan Chogah

Ilustrasi
Saya kembali gemar “ngadem” di Path. Path itu kesannya lebih seru aja dibanding Facebook yang ke sini-sini, kok, kesannya makin crowded. Ya, meski setiap kali share moment di Path, paling banter saya dapet 5 loves. *Nasib. Tapi bukan itu toh tujuan kita ber-Path ria? Sama seperti ketika main Fesbuk, di Path saya suka memperhatikan (Ternayata yang benar itu ‘memperhatikan’, bukan ‘ memerhatikan’. Rujukannya KBBI IV) kegiatan teman-teman saya di “jalanan sempit” (baca: Path). Ada yang lucu, seru, menyedihkan, mengerikan, dan yang saya suka ketika ada yang nge-share cerita-cerita inspiratif. Salah satunya kisah tentang perjalanan tiga kaleng coke di bawah ini, yang saya copas dari akun sahabat nge-Path saya, Kawula Banyu. 

***

Pada suatu hari, sebuah mobil distribusi coke datang untuk mengangkut minuman kaleng tersebut dengan tiga tujuan berbeda.

Pemberhentian pertama di Indomaret. Kaleng coke diturunkan, dipajang di rak, diberi label harga Rp4.000,00.

Kemudian, mobil melanjutkan perjalanannya, dan sampai di pemberhentian kedua, Sogo Super Store. Kaleng coke diturunkan, disimpan di kulkas, dijual Rp7.500,00.

Mobil terus berjalan, berhenti di pemberhentian ketiga, Hotel Sheraton. Kaleng coke diturunkan, tidak ditaruh di kulkas. Ketika ada yang memesan, baru coke dikeluarkan dari tempat penyimpannya bersama gelas kristal, ditambah es batu cube block. Pelayan meletakkannya di atas baki, mengantarkannya ke meja pemesan seraya membuka tutup kaleng coke dan menuangkan ke dalam gelas dengan sangat sopan dan hati-hati. Harga dibanderol Rp40.000,00.

Mengapa harga ketiga kaleng coke itu berbeda? Padahal ketiganya diproduksi di satu pabrik yang sama, diantar dengan mobil yang sama, kemasan pun sama, dan aroma serta rasanya juga sama.

Jawawabnya, lingkunganlah yang membedakannya.

Begitulah, ketika kita berada di lingkungan yang mendorong kita untuk berbuat baik, niscaya kita akan cemerlang. Sebaliknya, jika kita berada di lingkungan yang mengerdilkan kita, maka kerdillah kita.

Bakat dan kemampuan yang sama di lingkungan yang berbeda akan menghasilkan nilai yang berbeda pula. So, pastikan diri kita berada di lingkungan yang mendorong kita untuk memiliki nilai lebih. Berteman dan bergaullah dengan orang-orang positif, lalu lihat apa yang terjadi! :)

Sabtu, 01 Agustus 2015

Banten Muda dalam Semangat Kekinian

Setiawan Chogah



Pertengahan Agustus 2014 lalu, tablet murahan saya berdering. Sebuah panggilan masuk dari mantan atasan saya di Banten Muda, Kang Irvan Hq. Seingat saya, sudah lama sekali saya tidak berkirim kabar kepada beliau pascapindah bekerja ke perusahaan fabrikasi di Cilegon dulu. Lagi pula, setahu saya, Kang Irvan dipindahtugaskan oleh perusahaannya ke Lampung.

Dalam sapaan singkat, beliau mengundang saya untuk ngobrol. Saya penuhi undangan terhormat itu.

“Lagi pulang ke Serang, Kak? Katanya sekarang tugas di Lampung, ya?” saya membuka obrolan dengan Ketua Umum Banten Muda Community itu—yang sudah seperti kakak saya sendiri.

Kang Irvan bertanya perihal kuliah saya (yang alhamdulillah waktu itu tinggal sidang Tugas Akhir), juga tentang kesibukan saya yang serabutan. Ya, kebetulan waktu itu saya masih aktif di Kremov Pictures, juga jadi volunteer di Dompet Dhuafa cabang Banten untuk mengisi waktu luang sampai wisuda. Lalu setelah lulus, baru akan mencari pekerjaan tetap di Jakarta, mengejar cita-cita untuk bekerja sesuai kecintaan saya. Seperti itu rencana yang saya susun waktu itu.

“Bikin Banten Muda versi website, yuk!” seru Kang Irvan, usai beliau bercerita tentang pekerjaannya dan tentang tabloid Banten Muda yang harus berhenti terbit lantaran beliau sering bolak-balik Serang-Lampung—membuat tabloid yang “dilahirkannya” pada 2007 lalu itu “kurang perhatian”.

Saya setuju. Paling tidak, Banten Muda tetap berwujud di dunia maya. Lagi pula, setahu saya, banyak sekali media cetak yang telah bertransformasi dari media konvensional menjadi media online. Seperti yang terjadi di Amerika, Tempo.co memberitakan bahwa sekitar 40 koran di Amerika menghadapi kebangkrutan dan tidak mampu bertahan dalam versi cetak. Seperti majalah Newsweek yang setelah 80 tahun menyebarkan berita di Amerika Serikat, harus mengakhiri edisi cetaknya pada akhir tahun 2012. Ada pula surat kabar Tribune Co, The New York Times, majalah Reader's Digest,  dan si raksasa Rocky Mountain News ikut mengisi daftar media yang gulung tikar.

Hal serupa pun terjadi di dalam negeri kita sendiri. Beberapa majalah dan tabloid yang pernah menemani masa remaja saya turut hilang di loper koran langganan saya. Majalah Annida, Aneka Yess!, tabloid Gaul, Top Idol Indonesia, juga majalah Story yang pernah “melahirkan” saya itu. :(

Ya..., tentu saja saya paham, tanpa iklan, media mau hidup dari mana? Ongkos produksi mau dibayar pakai apa? Dan karyawan mau digaji dari mana?

Saya mendukung niat Kang Irvan untuk menggarap Banten Muda versi online. Mendukung penuh! Kenapa?

Dengan pekerjaan Kang Irvan yang demikian menyita waktu, media online memberikan solusi agar semangat “berkarya dan berbagi inspirasi” beliau tetap terwadahi. Terus tersalurkan.

Ongkos produksi media online jauh lebih murah, juga whole package alias multimedia capability. Selain teks, tentunya bisa memuat moving image, suara, dan video. Media online juga dapat dibaca kapan saja dan di mana saja, menjangkau seisi dunia pula. Kapasitasnya juga tidak terbatas, gampang diedit kalau ada salah ketik, gampang di-share, sangat dapat dibaca sambil tidur atau waktu mati lampu di malam hari, dan tidak membutuhkan karyawan yang banyak. Berita dan artikel pun bisa diproduksi sambil nongkrong di toilet kafe. Sesederhana dan semenyenangkan itu! (Dan memang media seperti itu, bukan, yang tengah dibutuhkan oleh generasi saat ini?)

Obrolan berakhir dengan kesepakatan untuk melahirkan Banten Muda versi online. Tapi siapakah yang akan dimintai pertolongan untuk mewujudkan rencana ini selain Allah Swt?

Diam.

Kang Irvan bertanya, tepatnya menawarkan…, “Iwan kan sering ngeblog, tuh. Pasti bisalah urusin website. Waktu luangnya masih banyak, kan?”

Saya diam aja.

Hmmm, baiklah. Tak kuasa rasanya melihat semangat yang demikian menyala di mata “kakak” saya itu tiba-tiba harus redup. Bukan! Bukan karena saya merasa yang paling pantas mengurus Banten Muda online, apalagi merasa yang paling bisa mewujudkan keinginan Kang Irvan itu. Tapi ini adalah tentang amanah besar yang beliau berikan dan percayakan pada saya. Saya tidak punya pilihan jawaban lain selain “Siaap, Jendral!”

Proses pembuatan website rupanya memakan waktu yang lumayan lama. Menyusun rubrikasi (kanal/channel dalam istilah media online), membuat sitemap, mengurus persyaratan melahirkan perusahaan media yang diwajibkan pemerintah, pemilihan font, tampilan website, dan kesepakatan nama dan logo ada baiknya diperbarui. Jadilah, setelah 6 bulan diutak-atik, Banten Muda versi online lahir dengan wajah yang baru dan lebih interaktif dibanding kakaknya yang pernah saya urus (blog Banten Muda).

biem.co, adalah wujud Banten Muda (BM dibaca bi-em) dalam semangat kekinian. Hari ini, tak hanya orang Banten yang bisa membaca Banten Muda dengan sangat mudahnya. biem.co bisa menyebarkan inspirasinya ke berbagai tempat di belahan dunia.

So, Kawan-kawan hebat di luar sana, yang saya tahu, pasti mempunyai keinginan untuk bercerita, untuk bersuara, dan untuk mengispirasi dunia, karena itu adalah fitrahnya manusia. Mari menulis, dan biem.co siap menyebarkan pemikiran-pemikiran luar biasa kalian kepada dunia.

Ayo periksa folder-folder di PC dan laptopmu! Buka laci meja belajarmu, atau map-map tua di rak buku dan lemari di kamarmu. Adakah tulisan-tulisan melow yang pernah kalian tulis menjadi berkas terbengkalai di sana? Mungkin ada beberapa cerpen dan puisi yang gagal tampil di media lantaran kalian belum berani mengirimkannya, atau ada catatan-catatan perjalanmu yang sangat sayang bila hanya dibaca dan di-kelonin sendiri. Kirim saja ke redaksi@biem.com dan cc ke redaksi@biem.co. Lalu biarkan tulisanmu hidup di dunia maya, membuat jutaan mata terbuka. Ah, hidup kita ini singkat bukan? Ayolah, jangan mau kita menua tanpa makna. Mari berkarya dan berbagi inspirasi! 

Kamis, 25 Juni 2015

Hai, Mimpi-mimpiku, Apa Kabar Kalian Sekarang?

Setiawan Chogah




Rantau berkalang rindu, 26 Juni 2015

Saya merasa berdosa pada halaman yang dulu saya bangga-banggakan ini. Halaman yang pernah begitu setia mendengar semua ceracau kacau saya, tanpa protes. Tapi... lihat! Update-an terakhir saja beberapa bulan yang lalu, itu pun bekas artikel yang pernah dimuat di Majalah Swara Cinta yang kembali saya posting. Anjaaai, ke mana diri saya yang dulu? Saya kehilangan dia.

“Udah lama, ih, Annis gak main ke blog Kak Chogah, ada postingan baru gak, Kak?” tanya Annisa Sofiah Wardah, adik kelas di Untirta yang mengaku pembaca blog ini dari dulu. Tapi sekarang Annis jadi keluarga saya di Dompet Dhuafa Banten. Alhamdulillah, dia sangat antusias ketika saya share info open recruitment Sahabat Ramadhan DD Banten 1436 H.
Saya ngakak keras. Kemudian malu sendiri. “Ya ampun, sudah lama sekali saya nggak nge-blog, thanks, Annis, sudah mengingatkan,” saya membatin dalam hati.

“Hahaha... nanti, insya Allah Kakak update, ya. Mampir, dong!”
ucap saya ketika tadi selepas berbuka puasa di kantor Dompet Dhuafa kepada Annis.

***

Sekian lama melupakan blog ini, sekian lama pula saya mengendapkan mimpi-mimpi. Entah kini separti apa rupa mereka. Barangkali sudah mengeras, menjelma bebatuan keras di dunia tak nyata sana.

Saya adalah lelaki yang terlahir sebagai seorang pemimpi. Aduhai, tanpa mimpi, apalah saya ini....

Mimpi... ya, mimpi. Mimpi yang pernah menjadi napas. Mimpi yang pernah menjadi alasan kuat bagi saya untuk bertahan hidup di rantau ini, tak pulang-pulang sekian kali Lebaran.

Eh, sekarang umur saya berapa tahun, ya? Hahaha. Beberapa kali ulang tahun dalam rentang dua, tiga tahun terakhir saya tak mau mengingat umur. Sebentar, saya pinjam jari-jemari saya untuk menghitungnya.... (diam)... hei, saya masih 26 tahun! (diam lagi). Arg! Itu angka yang tua, Saudara-saudara!

Hfff, di 26 tahun ini apa yang sudah saya capai? Sejauh mana saya menepati janji-janji saya kepada mimpi yang kami pernah hidup harmonis itu?

Main Film
Mungkin ini mimpi paling konyol dari si anak kampung ini. Dulu, ketika saya belum insaf, bermain film (saya malu menyebutnya pengin jadi artis) adalah salah satu mimpi yang pernah bersarang di dada kempes ini. Beberapa kali saya pernah ikutan audisi pencarian bakat. Lokal maupun nasional. Hasilnya? Ya... sukses, dong! Sukses ditolak. Hahaha. Tapi, paling tidak, saya punya cerita konyol yang kelak akan saya bagikan kepada anak-anak saya. (Doakan saya cepat nikah, ya).

Eh, omong-omong main film, 2013 lalu saya pernah terlibat dalam project pembuatan film pendek yang digagas Komunitas Kremov Pictures. Film yang mengangkat sejarah pahlawan Banten Ki Wasyid. Kalau mau melihat akting jelek saya, bisa ditonton di di bawah, ya!



Lalu sekarang apa? Sudahlah, bukan saatnya lagi saya larut dalam angan yang sepertinya sulit terwujud itu. Saya juga udah tobat. Apalah hidup ini, hanya sementara. Yang penting bahagia, toh? Anjaaai! ^_^

Punya Buku Solo
Yeah! Jelek-jelek begini, nama saya pernah menghiasi beberapa majalah remaja ibu kota, lho. (Yang mau muntah silakan, yang mau pesen buku SMS Terakhir, silakan mention saya di Twitter, ya! Hihihi).

Ya, saya sedih, beberapa majalah yang pernah memuat cerpen-cerpen saya harus kolaps aka. gulung tikar. Kenyataan itu diperparah dengan hasrat menulis saya yang ngedrop drastis. Menulis fiksi maksud saya. Entahlah, saya berpikir hidup saya ini udah terlalu drama, tidak perlu didramatisir lagi, kali, ya.... Wkwkwkwk.

Tapi meski demikian, orang jelek ini pernah juga merasakan memiliki buku tunggal. Yes! SMS Terakhir, kumpulan cerpen saya dipinang Sheila (imprint Penerbit Andi) dan terbit di sana. Setahun kemarin buku itu mejeng di toko buku. Bangga? Jangan ditanya!
 
Buku Kumpulan Cerpen saya yang diterbitkan Penerbit Andi, Yogyakarta, 2013.

Lalu sekarang apa? Saya membiarkan hidup saya mengalir. Keinginan untuk melahirkan buku-buku selanjutnya tetap panas di dalam dada saya. Soal kapankah itu, sekali lagi, biarkan mengalir dan tunggu indah pada waktunya. Ciaelllah!

Saya tengah menikmati keseharian saya di Dompet Dhuafa. Dompet Dhuafa itu adalah sekolah, dan saya salah seorang murid yang haus menimba ilmu di sana.

Saya ceritakan sedikit ya, mengapa saya bisa “terdampar” di non-govermental organization ini.

Setahun lebih yang lalu, persisnya Februari 2014 saya melamar di Dompet Dhuafa. Ceritanya bermula ketika kesuliatan hidup saat itu datang menyapa, saya baru saja resign dari perusahaan fabrikasi di Kota Baja, Cilegon. Padahal saat itu saya lagi butuh-butuhnya biaya, tak sekadar untuk melanjutkan hidup, tapi Tugas Akhir saya sebagai mahasiswa tua juga tengah di ujung tanduk saat itu.

Dalam keadaan kelaparan, saya mengirim pesan via inbox Facebook Dompet Dhuafa Banten. Seperti ini bunyi pesan inbox itu:

Assalamualkum. Selamat pagi, Dompet Dhuafa Banten. Apakah di DDB masih ada lowongan pekerjaan yang bisa saya kerjakan. ^_^ Oh ya, perkenalkan, saya Iwan, mahasiswa tingkat akhir Teknik Industri Untirta dan tinggal di Serang. Saya berniat di masa pengerjaan Tugas Akhir saya punya kegiatan lain. Saya bisa mengoperasikan komputer (Ms. Office, blogging). Di samping itu saya pernah bekerja part time sebagai staf administasi di sebuah perusahaan, serta memiliki beberapa pengalaman menulis di media massa. Sekiranya di DDB ada pekerjaan yang bisa saya kerjakan, dengan senang hati Admin mau mengabari. Terima kasi sebelumnya. Wassalam. - Setiawan C

Ya, pesan itu saya copas, murni tanpa edit. Barangkali di sanalah Allah meletakkan rezeki si anak malang, inbox itu langsung dibalas, yang intinya meminta saya untuk datang ke kantor Dompet Dhuafa Banten untuk walk-interview. What? Saya sempat terperanjat, Allah demikian cepat menjawab doa saya. Alhamdulillah.

Singkat cerita, di hari wawancara, saya angkut semua majalah dan koran yang memuat tulisan saya. Di hadapan Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Banten saat itu, Mas Imam Baihaqi, saya ceritakan bahwa saya bisa menulis dan biasa nge-blog.

“Kamu bisa desain grafis?” tanya Mas Imam waktu itu.

Saya diam beberap detik. Memang, meski gak pintar-pintar amat, saya tahu kalau software olah foto itu namanya Photoshop.

“Bisa, Mas!” jawab saya lantang. Soal bisa atau tidak, itu urusan nanti, yang penting saya bisa bekerja di Dompet Dhuafa.

Usai interwiew, saya pulang dengan segudang kekhawatiran. Ya, bagaimana tidak khawatir. Kan saya nggak bisa Photoshoooooop! >,<. Oke, kita masuk ke sesi pengakuan doa. Sore itu saya langsung ke toko buku di salah satu mall di tanah rantau ini. Sekitar 3 jam saya mojok cantik ditemani beberapa buku Photoshop dan Corel Draw. Saya baca lamat-lamat. Beberapa bagian penting seperti membuat teks, cropping, membuat ukuran workspace, dll, saya foto. Kan saya sudah bilang kalau kondisi saya lagi kere, jadi mana mungkin membawa buku itu ke kasir? >,<

Alhamdulillah, sudah dua kali Ramadhan saya di Dompet Dhuafa. Setahun pernah menjadi relawan yang pekerjaan saya menulis, admin website (eh, bukan, ding, waktu itu DD Banten masih pakai blog gratis dari Google, aka. blogspot). Tapi jangan anggap remeh, blog itu pernah dinobatkan sebagai penyumbang nomor satu brand awardness Dompet Dhuafa secara nasional. Tepuk tangan!

Selain jadi admin blog, saya juga tukang cetak-mencetak; spanduk, backdrop, dll (tentunya dengan desain ala kadarnya waktu itu).

Tapi, bukan saya kalau bukan gila-gilaan belajarnya. Banyak tutorial Photoshop saya unduh dari Youtube. Saya tonton berulang-ulang, saya praktikkan, ah, menyenangkan sekali.

Setahun berlalu, saya diangkat ke posisi corporate communicatios, yang notabene tugas saya tentu lebih menantang dan menyenangkan. Saya berurusan dengan press release, bertemu dengan teman-teman wartawan, mewawancara penerima manfaat program Dompet Dhuafa. Ah, hati ini rasanya penuh sesak oleh kisah-kisah haru biru mereka. Awalnya., saya mengira adalah makhluk paling malang yang diciptakan Allah, tapi di luar sana? (Hening).

Enam bulan kemudian, Pimpinan Cabang yang baru memberikan tantangan baru. Entah apa alasan beliau menawarkan jabatan yang membuat saya merinding itu ditawarkan kepada saya; Resource Mobilization Manager. What?!! Manager, Boy! Manager!

Wait! Saya menolak. Buka jabatan yang saya kejar. Saya sadar tentang siapa diri saya, yang me-manage diri sendiri saja masih belum mampu. Saya diberi waktu satu minggu untuk berpikir.
  
Oh tidaaak!? What should I do? Hah?!!

Di hari terakhir saya letakkan surat penawaran itu di meja atasan. Coba tebak apa jawaban saya! OKE, SAYA TERIMA. Hahaha. Ya, mungkin saat itu pikiran saya tengah error.

Diamanahi sebagai Manajer REMO, mau tidak mau saya kudu belajar semakin keras. Buku-buku bertema leadership berserakan di kamar saya. Kenangan masa-masa kuliah kembali saya bongkar. Di situlah kadang saya merasa sedih, pengin meraung-raung. Andai... andai dulu saya rajin masuk kelas mata kuliah Strategi Korporasi, atau Manajemen Bisnis, Manajemen Risiko, dan jemen-jemen yang lain, tentunya itu akan sangat membantu. Untungnya, materi-materi itu bisa saya baca kembali di buku-buku yang ada di toko buku (terima kasih, toko buku). Beruntung pula, Mas Usman, Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa saat ini begitu mendukung timnya untuk terus belajar, entah itu melalui training, seminar, maupun capacity building yang diadakan lembaga.

Lalu apa sekarang? Ya, waktu saya habis di DD. Hidup saya saat ini untuk DD. Saya tersiksa? Tidak... justru inilah salah satu mimpi yang Allah wujudkan (padahal saya tidak pernah memimpikan ini). Ah, Allah Mahabaik, SisBro... Mahabaik.

Mimpi... saya masih terus bermimpi. Mimpi punya buku kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya. Mimpi kelak bisa seperti para muzzaki yang menjadi donatur Dompet Dhuafa. Mimpi menghabiskan mata tua di kampung. Dan tentunya yang paling urgent untuk segera di-aamiin-kan, mimpi untuk membina rumah tangga. Anjaaai! Hihihi. Aamiin.

Kepada SisBro yang rela menyumbangkan waktu berharga kalian untuk membaca postingan ini, rawatlah mimpi-mimpi kalian. Karena apa yang tidak kalian mimpikan saja Allah pasti akan kasih, apalagi yang kalian mimpikan, dan kalian mengerahkan effort yang besar untuk mewujudkan mimpi itu. Keajaiban itu nyata adanya! 

Jumat, 10 April 2015

Allah Akan Bayar Utang Saya

Setiawan Chogah


Ping!

Layar ponsel Dompet Dhuafa (DD) Banten berkedip, sebuah pesan BlackBerry Messenger  dari seorang teman di friendlist DD Banten membuyarkan konsentrasi saya siang itu. Di penghujung bulan seperti ini biasanya pekerjaan saya sebagai Corporate Communication agak padat—menulis berita untuk sejumlah media lokal, mendesain komunikasi visual di sosial media untuk di-publish selama satu bulan ke depan, mengatur jadwal menulis amil DD Banten, juga membalas semua pertanyaan dari masyarakat yang ditujukan lewat nomor dan akun resmi DD Banten yang saya pegang.

“Assalamualaikum…, Ustad, bisa ke rumah?”

Ada jeda beberapa detik sebelum saya memutuskan mengetik jawaban di layar sentuh smartphone yang saat itu sudah berada di tangan saya. Saya menarik napas agak dalam. Hingga detik ini saya merasa sangat belum pantas disapa dengan kata ‘ustad’. Saya masih sangat jauh dari kriteria seorang ustad. Bagi saya, kata ‘ustad’ adalah kata yang sangat sakral. Dan saya masih dalam proses belajar, akan terus belajar.

“Waalaikumsalam, terima kasih, Mas. Dengan Setiawan di sini, ada yang bisa saya bantu?”

Dalam beberapa menit percakapan di BBM itu, Sahabat DD Banten yang menyebut namanya Tedi ini ingin dijemput donasinya sekaligus berkonsultasi seputar pembayaran fidyah. Kami membuat janji di Ciruas, beberapa kilometer dari kantor Dompet Dhuafa Banten di Kepandean. Saya memutuskan untuk berangkat ditemani Farhan, tim fundraising DD Banten.

Langit Kota Serang tengah jingga ketika saya dan Farhan membelah jalanan aspal Kota Serang menuju daerah Serang Timur, Ciruas.

“Pelan-pelan aja, Han,” saya menepuk pundak Farhan. Jalur menuju Ciruas adalah jalur padat lalu-lintas, lebih-lebih di jam pulang kerja seperti ini, kepadatannya akan semakin menjadi-jadi.

Farhan memarkir kendaraan di depan alun-alun Ciruas yang mulai kusam tak terawat. Saya men-dial nomor Kang Tedi yang sebelum berangkat, saya sempatkan memintanya untuk mempermudah komunikasi.

“Kang, saya sudah di depan alun-alun, ya….”

Sebuah ruang sekira 3x4 meter persegi tanpa perabotan. Seorang laki-laki muda menyilakan kami masuk. Saya taksir usianya menjelang 27 atau 28 tahun, beberapa tahun di atas saya.

Saya dan Farhan bersila di tikar yang dibentangkan pemilik rumah. Saya memilih duduk dekat pintu agar dapat menikmati embusan angin sore yang bertiup sepoi. Dari arah dalam, langkah-langkah kecil menghampirinya dan dalam selang beberapa detik sudah berada di pangkuan Kang Tedi.

“Ayo salim dulu sama Pak Ustad,” Kang Tedi membimbing tangan bocah itu untuk menyalami saya dan Farhan. Ah, sebuah pemandangan yang haru. Seketika ada rindu yang menyergap saya.

Punten, Ustad. Keadaan rumahnya kayak gini, maklum masih ngontrak,” ujar Kang Tedi sembari menyuguhkan dua teh botol ke hadapan kami. Saya mengulas senyum takjub seraya berterima kasih. Dua teguk teh botol dingin mengaliri tenggorokan saya.

“Sudah lama tinggal di sini, Kang?”

“Baru berapa bulan, Tad. Tadinya saya kerja jadi karyawan. Tapi lama-lama kok capek juga, berangkat pagi pulang malam. Waktu ketemu anak jadi sedikit,” jawabnya panjang-lebar.

Saya mencerna kalimatnya. Ah, benar adanya.… saya menganguk-ngangguk.

“Bulan lalu saya mutusin buat resign dan buka usaha server pulsa. Alhamdulillah berjalan, pelanggannya teman-teman dekat dulu. Hehehe,” lanjutnya.

“Wah, hebat, Kang Tedi. Saya sampai hari ini malah masih tahap rencana buat buka usaha. Belum berani eksekusi,” saya menganggapi dengan pengakuan yang sejatinya cukup membuat malu.

“Hehehe. Memang harus berani action, Tad. Tadinya saya juga banyak takutnya. Tapi setelah ikutan seminar Ippho Santosa yang diadain DD (Dompet Dhuafa Banten.red) waktu itu, saya jadi makin pede,” akunya.

Subhanallah… alhamdulillah, diam-diam saya bersyukur, kegiatan seminar Percepatan Rezeki yang digelar DD Banten waktu itu bermanfaat untuk peserta, salah satunya Sahabat DD Banten yang saat ini ada di depan saya.

Kang Tedi beranjak dari duduknya, “Oh, ya, Tad, sebentar, ya….”

Selang beberapa menit, ayah muda itu kembali dengan seperangkat netbook di tangannya.

“Jadi begini, Tad. Saya mau donasikan netbook ini lewat DD. Mudah-mudahan bermanfaat…,” ungkapnya.

“Alhamdulillah, insya Allah akan sangat bermanfaat, Kang.”

Kang Tedi mulai membuka cerita yang semestinya saya tidak perlu tahu….

“Sebenernya saya masih punya utang beberapa juta sama temen waktu mau buka usaha ini….,” katanya sembari mengelap debu yang menempel di netbook. “Tadinya mau dijual, tapi setelah saya diskusi sama istri, kalaupun dijual, uangnya tetep nggak akan bisa lunasin utangnya,” lanjutnya.

“Oh…, tapi paling nggak bisa mengurangi utangnya, Kang.”

Kang Tedi tersenyum. Saya dibalut banyak tanya.

“Hehehe. Iya, sih. Tapi nggak apa-apa, biar Allah saja yang ngelunasin utang saya, Tad.”

Aamiin! Saya terdiam. Ada haru dan perasaan salut yang tiba-tiba membuncah. Saya seperti pengarang yang kehilangan kata. Ah, malu… saya merasa amat malu dan kerdil di hadapan Kang Tedi.
***
Cerita Kang Tedi menyisakan kesan mendalam di hati dan pikiran saya, tentu juga di hati pembaca semua. Seringkali kita mengadapi bergulatan batin ketika  dihadapkan pada situasi untuk berbagi ketika dalam keadaan tidak ‘berlebih’. Kita masih sering mengomel apabila ongkos angkutan umum kurang kembalian atau mengumbar kekecewaan di sosial media ketika membayar suatu barang yang harganya agak lebih dari yang biasanya kita bayar. Kita masih berat untuk menyedekahkan uang Rp50 ribu rupiah ke kotak amal masjid ketimbang membawa uang dengan jumlah itu ke mall yang akan habis dalam satu kali transaksi di kedai kopi. Ah, kita lupa, Allah yang Mahakaya telah berjanji, tidak akan miskin orang-orang yang berbagi di kala dia sulit.

Mari kita renungi firmanNya di Surah Al Baqarah ayat 261 ini: “Perumpamaan nafkah yang dikeluarkan oleh orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir, pada tiap-tiap butir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki . Dan Allah Mahaluas (kurniaNya) lagi Maha Mengetahui.”

Demikian Sang Pemilik Hidup telah menjamin bahwa ada keberkahan di setiap rezeki yang kita bagikan. Sesuatu yang kita bagikan bukannya berkurang, tapi justru akan terus bertambah… bertambah… dan bertambah, seperti itu wasiat kekasihNya dalam hadist. Tentu kita tidak mau menungkiri, bukan? Ketika ada kelegaan yang menghampiri kita, dada terasa demikian lapang setiap kali kita usai berbagi. Itulah salah satu berkah yang Allah hadiahkan kepada orang yang senantiasa rindu untuk berbagi, sekalipun tidak dalam keadaan berkecukupan.

Saya teringat sebuah artikel yang pernah saya baca tentang publikasi Prof. Dr. David McClelland, di sana dituliskan, melakukan sesuatu yang positif terhadap orang lain akan memperkuat sistem kekebalan tubuh. Sebaliknya, orang kikir cenderung terserang penyakit. Mengapa demikian? Karena orang kikir biasanya cinta materi (seperti uang). Bila uangnya berkurang, maka dia akan stres, tubuh akan mengeluarkan hormon kortisol yang mengurangi kekebalan tubuhnya.

Menolong orang lain secara sukarela meningkatkan kebugaran tubuh dan angka harapan hidup. Kisah nyata tentang Rockeffeler, orang kaya yang tidak bahagia dan sulit tidur. Dokter memvonis hidupnya tidak akan lama. Lalu Rockeffeler memutuskan mengubah hidupnya untuk menolong kaum miskin. Lalu apa yang terjadi? Kesehatannya membaik dan berlawanan dengan perkiraan dokter. Ia hidup sampai 98 tahun dan dikenal sebagai ahli filantropi dan dermawan. Dengan demikian, keindahan dan kekuatan bersedekah bersifat universal, dapat dirasakan oleh siapapun, baik Muslim maupun non-Muslim yang melakukannya. Sekaligus hal ini membuktikan bahwa ajaran Islam yang kebenarannya bersifat universal.
***
Ping!

“Assalamualaikum, Tad… alhamdulillah, barusan saya transfer zakat penghasilan ke rekening DD Banten, ya, semoga berkah.”

Sebuah pesan BlackBerry Messenger  dari Kang Tedi. Saya mengulas senyum, mengetikkan sebait doa untuknya. Semoga Allah memberi pahala atas apa yang engkau berikan dan menjadikannya suci bagimu, memberikan keberkahan terhadap hartamu yang tinggal. Aamiin. [*]



Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Swara Cinta edisi 50, April-Mei 2015