Selasa, 15 Desember 2015

Aku Ingin Tua dan Mati di Kampung Kita

Setiawan Chogah



Tahun-tahun usai dan datang kembali, dan aku kian tua di sini.
Di dadaku, Mak, tumbuh subur sebatang pohon.
Pohon berdaun lebat dan akar kokoh menghujam jantung. 
Dedaunnya terus saja membisikiku, "Pulanglah." 
Sadar diriku ini, Mak. Kelak, pun aku tak ingin jasadku bersemayam di pandam-pandam yang aku sendiri tak mengenalnya ini.

Di kepalaku, Mak, tumbuh pula pohon angan berdaun lebat.
Hijau serupa daun-daun talau yang kerap memiangiku di masa bocah.

Di masa menjelang petang seperti ini, daun-daunnya kususun, menjelma rumah sederhana kita dengan anak sungai di belakangnya. 

Rumah yang kuperuntukkan untukmu, menantu, dan cucu-cucumu. Di sana kita hidup bersama, ditemani dendang uwie-uwie dan cekikik kawanan simpai yang berlompanan di pohon-pohon karet.

Mak, aku ingin tua, dan mati di kampung kita.


Rantau, 27/05/2015


About the Author

Setiawan Chogah / Author & Editor

Penulis buku "SMS Terakhir" | Corporate Communications Dompet Dhuafa Banten | Pemimpin Redaksi biem.co (Banten Muda Online) CP: +62 821 1040 9641

0 komen dari temen² gue:

Posting Komentar

Silakan dikomentari, Sob! : (◠‿◠)