Kamis, 25 Juni 2015

Hai, Mimpi-mimpiku, Apa Kabar Kalian Sekarang?

Setiawan Chogah




Rantau berkalang rindu, 26 Juni 2015

Saya merasa berdosa pada halaman yang dulu saya bangga-banggakan ini. Halaman yang pernah begitu setia mendengar semua ceracau kacau saya, tanpa protes. Tapi... lihat! Update-an terakhir saja beberapa bulan yang lalu, itu pun bekas artikel yang pernah dimuat di Majalah Swara Cinta yang kembali saya posting. Anjaaai, ke mana diri saya yang dulu? Saya kehilangan dia.

“Udah lama, ih, Annis gak main ke blog Kak Chogah, ada postingan baru gak, Kak?” tanya Annisa Sofiah Wardah, adik kelas di Untirta yang mengaku pembaca blog ini dari dulu. Tapi sekarang Annis jadi keluarga saya di Dompet Dhuafa Banten. Alhamdulillah, dia sangat antusias ketika saya share info open recruitment Sahabat Ramadhan DD Banten 1436 H.
Saya ngakak keras. Kemudian malu sendiri. “Ya ampun, sudah lama sekali saya nggak nge-blog, thanks, Annis, sudah mengingatkan,” saya membatin dalam hati.

“Hahaha... nanti, insya Allah Kakak update, ya. Mampir, dong!”
ucap saya ketika tadi selepas berbuka puasa di kantor Dompet Dhuafa kepada Annis.

***

Sekian lama melupakan blog ini, sekian lama pula saya mengendapkan mimpi-mimpi. Entah kini separti apa rupa mereka. Barangkali sudah mengeras, menjelma bebatuan keras di dunia tak nyata sana.

Saya adalah lelaki yang terlahir sebagai seorang pemimpi. Aduhai, tanpa mimpi, apalah saya ini....

Mimpi... ya, mimpi. Mimpi yang pernah menjadi napas. Mimpi yang pernah menjadi alasan kuat bagi saya untuk bertahan hidup di rantau ini, tak pulang-pulang sekian kali Lebaran.

Eh, sekarang umur saya berapa tahun, ya? Hahaha. Beberapa kali ulang tahun dalam rentang dua, tiga tahun terakhir saya tak mau mengingat umur. Sebentar, saya pinjam jari-jemari saya untuk menghitungnya.... (diam)... hei, saya masih 26 tahun! (diam lagi). Arg! Itu angka yang tua, Saudara-saudara!

Hfff, di 26 tahun ini apa yang sudah saya capai? Sejauh mana saya menepati janji-janji saya kepada mimpi yang kami pernah hidup harmonis itu?

Main Film
Mungkin ini mimpi paling konyol dari si anak kampung ini. Dulu, ketika saya belum insaf, bermain film (saya malu menyebutnya pengin jadi artis) adalah salah satu mimpi yang pernah bersarang di dada kempes ini. Beberapa kali saya pernah ikutan audisi pencarian bakat. Lokal maupun nasional. Hasilnya? Ya... sukses, dong! Sukses ditolak. Hahaha. Tapi, paling tidak, saya punya cerita konyol yang kelak akan saya bagikan kepada anak-anak saya. (Doakan saya cepat nikah, ya).

Eh, omong-omong main film, 2013 lalu saya pernah terlibat dalam project pembuatan film pendek yang digagas Komunitas Kremov Pictures. Film yang mengangkat sejarah pahlawan Banten Ki Wasyid. Kalau mau melihat akting jelek saya, bisa ditonton di di bawah, ya!



Lalu sekarang apa? Sudahlah, bukan saatnya lagi saya larut dalam angan yang sepertinya sulit terwujud itu. Saya juga udah tobat. Apalah hidup ini, hanya sementara. Yang penting bahagia, toh? Anjaaai! ^_^

Punya Buku Solo
Yeah! Jelek-jelek begini, nama saya pernah menghiasi beberapa majalah remaja ibu kota, lho. (Yang mau muntah silakan, yang mau pesen buku SMS Terakhir, silakan mention saya di Twitter, ya! Hihihi).

Ya, saya sedih, beberapa majalah yang pernah memuat cerpen-cerpen saya harus kolaps aka. gulung tikar. Kenyataan itu diperparah dengan hasrat menulis saya yang ngedrop drastis. Menulis fiksi maksud saya. Entahlah, saya berpikir hidup saya ini udah terlalu drama, tidak perlu didramatisir lagi, kali, ya.... Wkwkwkwk.

Tapi meski demikian, orang jelek ini pernah juga merasakan memiliki buku tunggal. Yes! SMS Terakhir, kumpulan cerpen saya dipinang Sheila (imprint Penerbit Andi) dan terbit di sana. Setahun kemarin buku itu mejeng di toko buku. Bangga? Jangan ditanya!
 
Buku Kumpulan Cerpen saya yang diterbitkan Penerbit Andi, Yogyakarta, 2013.

Lalu sekarang apa? Saya membiarkan hidup saya mengalir. Keinginan untuk melahirkan buku-buku selanjutnya tetap panas di dalam dada saya. Soal kapankah itu, sekali lagi, biarkan mengalir dan tunggu indah pada waktunya. Ciaelllah!

Saya tengah menikmati keseharian saya di Dompet Dhuafa. Dompet Dhuafa itu adalah sekolah, dan saya salah seorang murid yang haus menimba ilmu di sana.

Saya ceritakan sedikit ya, mengapa saya bisa “terdampar” di non-govermental organization ini.

Setahun lebih yang lalu, persisnya Februari 2014 saya melamar di Dompet Dhuafa. Ceritanya bermula ketika kesuliatan hidup saat itu datang menyapa, saya baru saja resign dari perusahaan fabrikasi di Kota Baja, Cilegon. Padahal saat itu saya lagi butuh-butuhnya biaya, tak sekadar untuk melanjutkan hidup, tapi Tugas Akhir saya sebagai mahasiswa tua juga tengah di ujung tanduk saat itu.

Dalam keadaan kelaparan, saya mengirim pesan via inbox Facebook Dompet Dhuafa Banten. Seperti ini bunyi pesan inbox itu:

Assalamualkum. Selamat pagi, Dompet Dhuafa Banten. Apakah di DDB masih ada lowongan pekerjaan yang bisa saya kerjakan. ^_^ Oh ya, perkenalkan, saya Iwan, mahasiswa tingkat akhir Teknik Industri Untirta dan tinggal di Serang. Saya berniat di masa pengerjaan Tugas Akhir saya punya kegiatan lain. Saya bisa mengoperasikan komputer (Ms. Office, blogging). Di samping itu saya pernah bekerja part time sebagai staf administasi di sebuah perusahaan, serta memiliki beberapa pengalaman menulis di media massa. Sekiranya di DDB ada pekerjaan yang bisa saya kerjakan, dengan senang hati Admin mau mengabari. Terima kasi sebelumnya. Wassalam. - Setiawan C

Ya, pesan itu saya copas, murni tanpa edit. Barangkali di sanalah Allah meletakkan rezeki si anak malang, inbox itu langsung dibalas, yang intinya meminta saya untuk datang ke kantor Dompet Dhuafa Banten untuk walk-interview. What? Saya sempat terperanjat, Allah demikian cepat menjawab doa saya. Alhamdulillah.

Singkat cerita, di hari wawancara, saya angkut semua majalah dan koran yang memuat tulisan saya. Di hadapan Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Banten saat itu, Mas Imam Baihaqi, saya ceritakan bahwa saya bisa menulis dan biasa nge-blog.

“Kamu bisa desain grafis?” tanya Mas Imam waktu itu.

Saya diam beberap detik. Memang, meski gak pintar-pintar amat, saya tahu kalau software olah foto itu namanya Photoshop.

“Bisa, Mas!” jawab saya lantang. Soal bisa atau tidak, itu urusan nanti, yang penting saya bisa bekerja di Dompet Dhuafa.

Usai interwiew, saya pulang dengan segudang kekhawatiran. Ya, bagaimana tidak khawatir. Kan saya nggak bisa Photoshoooooop! >,<. Oke, kita masuk ke sesi pengakuan doa. Sore itu saya langsung ke toko buku di salah satu mall di tanah rantau ini. Sekitar 3 jam saya mojok cantik ditemani beberapa buku Photoshop dan Corel Draw. Saya baca lamat-lamat. Beberapa bagian penting seperti membuat teks, cropping, membuat ukuran workspace, dll, saya foto. Kan saya sudah bilang kalau kondisi saya lagi kere, jadi mana mungkin membawa buku itu ke kasir? >,<

Alhamdulillah, sudah dua kali Ramadhan saya di Dompet Dhuafa. Setahun pernah menjadi relawan yang pekerjaan saya menulis, admin website (eh, bukan, ding, waktu itu DD Banten masih pakai blog gratis dari Google, aka. blogspot). Tapi jangan anggap remeh, blog itu pernah dinobatkan sebagai penyumbang nomor satu brand awardness Dompet Dhuafa secara nasional. Tepuk tangan!

Selain jadi admin blog, saya juga tukang cetak-mencetak; spanduk, backdrop, dll (tentunya dengan desain ala kadarnya waktu itu).

Tapi, bukan saya kalau bukan gila-gilaan belajarnya. Banyak tutorial Photoshop saya unduh dari Youtube. Saya tonton berulang-ulang, saya praktikkan, ah, menyenangkan sekali.

Setahun berlalu, saya diangkat ke posisi corporate communicatios, yang notabene tugas saya tentu lebih menantang dan menyenangkan. Saya berurusan dengan press release, bertemu dengan teman-teman wartawan, mewawancara penerima manfaat program Dompet Dhuafa. Ah, hati ini rasanya penuh sesak oleh kisah-kisah haru biru mereka. Awalnya., saya mengira adalah makhluk paling malang yang diciptakan Allah, tapi di luar sana? (Hening).

Enam bulan kemudian, Pimpinan Cabang yang baru memberikan tantangan baru. Entah apa alasan beliau menawarkan jabatan yang membuat saya merinding itu ditawarkan kepada saya; Resource Mobilization Manager. What?!! Manager, Boy! Manager!

Wait! Saya menolak. Buka jabatan yang saya kejar. Saya sadar tentang siapa diri saya, yang me-manage diri sendiri saja masih belum mampu. Saya diberi waktu satu minggu untuk berpikir.
  
Oh tidaaak!? What should I do? Hah?!!

Di hari terakhir saya letakkan surat penawaran itu di meja atasan. Coba tebak apa jawaban saya! OKE, SAYA TERIMA. Hahaha. Ya, mungkin saat itu pikiran saya tengah error.

Diamanahi sebagai Manajer REMO, mau tidak mau saya kudu belajar semakin keras. Buku-buku bertema leadership berserakan di kamar saya. Kenangan masa-masa kuliah kembali saya bongkar. Di situlah kadang saya merasa sedih, pengin meraung-raung. Andai... andai dulu saya rajin masuk kelas mata kuliah Strategi Korporasi, atau Manajemen Bisnis, Manajemen Risiko, dan jemen-jemen yang lain, tentunya itu akan sangat membantu. Untungnya, materi-materi itu bisa saya baca kembali di buku-buku yang ada di toko buku (terima kasih, toko buku). Beruntung pula, Mas Usman, Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa saat ini begitu mendukung timnya untuk terus belajar, entah itu melalui training, seminar, maupun capacity building yang diadakan lembaga.

Lalu apa sekarang? Ya, waktu saya habis di DD. Hidup saya saat ini untuk DD. Saya tersiksa? Tidak... justru inilah salah satu mimpi yang Allah wujudkan (padahal saya tidak pernah memimpikan ini). Ah, Allah Mahabaik, SisBro... Mahabaik.

Mimpi... saya masih terus bermimpi. Mimpi punya buku kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya. Mimpi kelak bisa seperti para muzzaki yang menjadi donatur Dompet Dhuafa. Mimpi menghabiskan mata tua di kampung. Dan tentunya yang paling urgent untuk segera di-aamiin-kan, mimpi untuk membina rumah tangga. Anjaaai! Hihihi. Aamiin.

Kepada SisBro yang rela menyumbangkan waktu berharga kalian untuk membaca postingan ini, rawatlah mimpi-mimpi kalian. Karena apa yang tidak kalian mimpikan saja Allah pasti akan kasih, apalagi yang kalian mimpikan, dan kalian mengerahkan effort yang besar untuk mewujudkan mimpi itu. Keajaiban itu nyata adanya! 

About the Author

Setiawan Chogah / Author & Editor

Penulis buku "SMS Terakhir" | Corporate Communications Dompet Dhuafa Banten | Pemimpin Redaksi biem.co (Banten Muda Online) CP: +62 821 1040 9641

0 komen dari temen² gue:

Posting Komentar

Silakan dikomentari, Sob! : (◠‿◠)