Jumat, 10 April 2015

Allah Akan Bayar Utang Saya

Setiawan Chogah


Ping!

Layar ponsel Dompet Dhuafa (DD) Banten berkedip, sebuah pesan BlackBerry Messenger  dari seorang teman di friendlist DD Banten membuyarkan konsentrasi saya siang itu. Di penghujung bulan seperti ini biasanya pekerjaan saya sebagai Corporate Communication agak padat—menulis berita untuk sejumlah media lokal, mendesain komunikasi visual di sosial media untuk di-publish selama satu bulan ke depan, mengatur jadwal menulis amil DD Banten, juga membalas semua pertanyaan dari masyarakat yang ditujukan lewat nomor dan akun resmi DD Banten yang saya pegang.

“Assalamualaikum…, Ustad, bisa ke rumah?”

Ada jeda beberapa detik sebelum saya memutuskan mengetik jawaban di layar sentuh smartphone yang saat itu sudah berada di tangan saya. Saya menarik napas agak dalam. Hingga detik ini saya merasa sangat belum pantas disapa dengan kata ‘ustad’. Saya masih sangat jauh dari kriteria seorang ustad. Bagi saya, kata ‘ustad’ adalah kata yang sangat sakral. Dan saya masih dalam proses belajar, akan terus belajar.

“Waalaikumsalam, terima kasih, Mas. Dengan Setiawan di sini, ada yang bisa saya bantu?”

Dalam beberapa menit percakapan di BBM itu, Sahabat DD Banten yang menyebut namanya Tedi ini ingin dijemput donasinya sekaligus berkonsultasi seputar pembayaran fidyah. Kami membuat janji di Ciruas, beberapa kilometer dari kantor Dompet Dhuafa Banten di Kepandean. Saya memutuskan untuk berangkat ditemani Farhan, tim fundraising DD Banten.

Langit Kota Serang tengah jingga ketika saya dan Farhan membelah jalanan aspal Kota Serang menuju daerah Serang Timur, Ciruas.

“Pelan-pelan aja, Han,” saya menepuk pundak Farhan. Jalur menuju Ciruas adalah jalur padat lalu-lintas, lebih-lebih di jam pulang kerja seperti ini, kepadatannya akan semakin menjadi-jadi.

Farhan memarkir kendaraan di depan alun-alun Ciruas yang mulai kusam tak terawat. Saya men-dial nomor Kang Tedi yang sebelum berangkat, saya sempatkan memintanya untuk mempermudah komunikasi.

“Kang, saya sudah di depan alun-alun, ya….”

Sebuah ruang sekira 3x4 meter persegi tanpa perabotan. Seorang laki-laki muda menyilakan kami masuk. Saya taksir usianya menjelang 27 atau 28 tahun, beberapa tahun di atas saya.

Saya dan Farhan bersila di tikar yang dibentangkan pemilik rumah. Saya memilih duduk dekat pintu agar dapat menikmati embusan angin sore yang bertiup sepoi. Dari arah dalam, langkah-langkah kecil menghampirinya dan dalam selang beberapa detik sudah berada di pangkuan Kang Tedi.

“Ayo salim dulu sama Pak Ustad,” Kang Tedi membimbing tangan bocah itu untuk menyalami saya dan Farhan. Ah, sebuah pemandangan yang haru. Seketika ada rindu yang menyergap saya.

Punten, Ustad. Keadaan rumahnya kayak gini, maklum masih ngontrak,” ujar Kang Tedi sembari menyuguhkan dua teh botol ke hadapan kami. Saya mengulas senyum takjub seraya berterima kasih. Dua teguk teh botol dingin mengaliri tenggorokan saya.

“Sudah lama tinggal di sini, Kang?”

“Baru berapa bulan, Tad. Tadinya saya kerja jadi karyawan. Tapi lama-lama kok capek juga, berangkat pagi pulang malam. Waktu ketemu anak jadi sedikit,” jawabnya panjang-lebar.

Saya mencerna kalimatnya. Ah, benar adanya.… saya menganguk-ngangguk.

“Bulan lalu saya mutusin buat resign dan buka usaha server pulsa. Alhamdulillah berjalan, pelanggannya teman-teman dekat dulu. Hehehe,” lanjutnya.

“Wah, hebat, Kang Tedi. Saya sampai hari ini malah masih tahap rencana buat buka usaha. Belum berani eksekusi,” saya menganggapi dengan pengakuan yang sejatinya cukup membuat malu.

“Hehehe. Memang harus berani action, Tad. Tadinya saya juga banyak takutnya. Tapi setelah ikutan seminar Ippho Santosa yang diadain DD (Dompet Dhuafa Banten.red) waktu itu, saya jadi makin pede,” akunya.

Subhanallah… alhamdulillah, diam-diam saya bersyukur, kegiatan seminar Percepatan Rezeki yang digelar DD Banten waktu itu bermanfaat untuk peserta, salah satunya Sahabat DD Banten yang saat ini ada di depan saya.

Kang Tedi beranjak dari duduknya, “Oh, ya, Tad, sebentar, ya….”

Selang beberapa menit, ayah muda itu kembali dengan seperangkat netbook di tangannya.

“Jadi begini, Tad. Saya mau donasikan netbook ini lewat DD. Mudah-mudahan bermanfaat…,” ungkapnya.

“Alhamdulillah, insya Allah akan sangat bermanfaat, Kang.”

Kang Tedi mulai membuka cerita yang semestinya saya tidak perlu tahu….

“Sebenernya saya masih punya utang beberapa juta sama temen waktu mau buka usaha ini….,” katanya sembari mengelap debu yang menempel di netbook. “Tadinya mau dijual, tapi setelah saya diskusi sama istri, kalaupun dijual, uangnya tetep nggak akan bisa lunasin utangnya,” lanjutnya.

“Oh…, tapi paling nggak bisa mengurangi utangnya, Kang.”

Kang Tedi tersenyum. Saya dibalut banyak tanya.

“Hehehe. Iya, sih. Tapi nggak apa-apa, biar Allah saja yang ngelunasin utang saya, Tad.”

Aamiin! Saya terdiam. Ada haru dan perasaan salut yang tiba-tiba membuncah. Saya seperti pengarang yang kehilangan kata. Ah, malu… saya merasa amat malu dan kerdil di hadapan Kang Tedi.
***
Cerita Kang Tedi menyisakan kesan mendalam di hati dan pikiran saya, tentu juga di hati pembaca semua. Seringkali kita mengadapi bergulatan batin ketika  dihadapkan pada situasi untuk berbagi ketika dalam keadaan tidak ‘berlebih’. Kita masih sering mengomel apabila ongkos angkutan umum kurang kembalian atau mengumbar kekecewaan di sosial media ketika membayar suatu barang yang harganya agak lebih dari yang biasanya kita bayar. Kita masih berat untuk menyedekahkan uang Rp50 ribu rupiah ke kotak amal masjid ketimbang membawa uang dengan jumlah itu ke mall yang akan habis dalam satu kali transaksi di kedai kopi. Ah, kita lupa, Allah yang Mahakaya telah berjanji, tidak akan miskin orang-orang yang berbagi di kala dia sulit.

Mari kita renungi firmanNya di Surah Al Baqarah ayat 261 ini: “Perumpamaan nafkah yang dikeluarkan oleh orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir, pada tiap-tiap butir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki . Dan Allah Mahaluas (kurniaNya) lagi Maha Mengetahui.”

Demikian Sang Pemilik Hidup telah menjamin bahwa ada keberkahan di setiap rezeki yang kita bagikan. Sesuatu yang kita bagikan bukannya berkurang, tapi justru akan terus bertambah… bertambah… dan bertambah, seperti itu wasiat kekasihNya dalam hadist. Tentu kita tidak mau menungkiri, bukan? Ketika ada kelegaan yang menghampiri kita, dada terasa demikian lapang setiap kali kita usai berbagi. Itulah salah satu berkah yang Allah hadiahkan kepada orang yang senantiasa rindu untuk berbagi, sekalipun tidak dalam keadaan berkecukupan.

Saya teringat sebuah artikel yang pernah saya baca tentang publikasi Prof. Dr. David McClelland, di sana dituliskan, melakukan sesuatu yang positif terhadap orang lain akan memperkuat sistem kekebalan tubuh. Sebaliknya, orang kikir cenderung terserang penyakit. Mengapa demikian? Karena orang kikir biasanya cinta materi (seperti uang). Bila uangnya berkurang, maka dia akan stres, tubuh akan mengeluarkan hormon kortisol yang mengurangi kekebalan tubuhnya.

Menolong orang lain secara sukarela meningkatkan kebugaran tubuh dan angka harapan hidup. Kisah nyata tentang Rockeffeler, orang kaya yang tidak bahagia dan sulit tidur. Dokter memvonis hidupnya tidak akan lama. Lalu Rockeffeler memutuskan mengubah hidupnya untuk menolong kaum miskin. Lalu apa yang terjadi? Kesehatannya membaik dan berlawanan dengan perkiraan dokter. Ia hidup sampai 98 tahun dan dikenal sebagai ahli filantropi dan dermawan. Dengan demikian, keindahan dan kekuatan bersedekah bersifat universal, dapat dirasakan oleh siapapun, baik Muslim maupun non-Muslim yang melakukannya. Sekaligus hal ini membuktikan bahwa ajaran Islam yang kebenarannya bersifat universal.
***
Ping!

“Assalamualaikum, Tad… alhamdulillah, barusan saya transfer zakat penghasilan ke rekening DD Banten, ya, semoga berkah.”

Sebuah pesan BlackBerry Messenger  dari Kang Tedi. Saya mengulas senyum, mengetikkan sebait doa untuknya. Semoga Allah memberi pahala atas apa yang engkau berikan dan menjadikannya suci bagimu, memberikan keberkahan terhadap hartamu yang tinggal. Aamiin. [*]



Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Swara Cinta edisi 50, April-Mei 2015


About the Author

Setiawan Chogah / Author & Editor

Penulis buku "SMS Terakhir" | Corporate Communications Dompet Dhuafa Banten | Pemimpin Redaksi biem.co (Banten Muda Online) CP: +62 821 1040 9641

4 komen dari temen² gue:

  1. Salam...
    Memang betul sekali.. Sodaqoh yang ikhlas tidak lah membuat seseorang itu miskin ya sob...

    BalasHapus
  2. Terima kasih sudah menulis posting ini. Membaca posting ini memancing haru. Saya tersadar, sedekah, berbagi, kunci dari rizki. :)

    BalasHapus
  3. Terima kasih sudah menulis posting ini. Membaca posting ini memancing haru. Saya tersadar, sedekah, berbagi, kunci dari rizki. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama, Cha. Tengkyu udah mampir ya ^^

      Hapus

Silakan dikomentari, Sob! : (◠‿◠)