Minggu, 15 Desember 2013

Analisis Maksim Kerja Sama Grice pada Cerpen 'Botol' karya Setiawan Chogah

Setiawan Chogah

Oleh: Evin Winangsih




AKU mengenalnya dua minggu lalu. Tepatnya bukan kenal tapi laki-laki itu memungutku dengan sukarela dan membawaku hidup bersamanya di rumah ini. Aku sungguh beruntung bertemu dengan pria yang belakangan aku ketahui bernama Pak Sobri. Bagaimana tidak, seminggu lalu aku masih terlunta-lunta di pertigaan jalan Pasar Ciruas itu, berteman wirog-wirog gembel, kecoa miskin yang menggerogoti sampah dan bekas makanan basi.

Sebenarnya dari awal aku sudah meronta ingin keluar. Aku tidak terbiasa dengan lingkungan yang benar-benar membuat aku bergidik. Ah, malang nian nasibku. Padahal dua minggu sebelum ini aku masih hidup nyaman di sebuah lemari yang ada di ruangan dapur rumah orang mewah di kota ini. Tapi keberuntungan tengah tidak memihak kepadaku, bocah sialan anak majikanku melemparku ke tempat ini setelah kemauannya tidak terpenuhi. Dasar bocah tengil! Tidak tahu berterima kasih, padahal kalau boleh aku mengungkit-ngungkit, satu tahun sudah aku habiskan umurku untuk mengabdi kepadanya, menjadi tempat air minum untuknya.Melepaskan dahaganya. Ah, lagi lagi aku hanya bisa mengeluh.

Rumah ini tidak mewah. Hanya gubuk, tapi setidaknya Pak Sobri telah mengangkat derajatku dari sebuah botol terbuang. Aku seperti menemukan dua sisi pribadi yang sangat kontras dengan mantan majikanku sebelumnya. Keluarga Pak Sobri bukan keluarga kaya, gubug reot dengan lantai tanah, dua bilik kecil, dan dapur yang menjorok di sisi kanan menyatu dengan ruang utama. Tak ada meja makan, lemari es adem, atau pun satu set peralatan memasak mewah seperti yang aku temukan dulu di rumah si bocah tengil yang telah membuang aku di bak sampah busuk. Di sisi kiri yang berbatasan dengan jendela kecil, menyatu sebuah meja tua dengan dua kaki. Dua kaki lainnya seperti lenyap pada dinding papan di depannya. Di sanalah aku pertama kali aku menginap saat Pak Sobri menemukanku di gerbang sore lalu membawaku ke rumah ini.

Hari ini aku ikut Pak Sobri berkeliling mencari botol-botol terbuang lainnya. Ah, ternyata aku jauh lebih beruntung, Pak Sobri memperlakukanku lebih terhormat. Lelaki paruh baya itu mempercayaiku menjaga bekal minumannya. Aku bangga, aku mengalami sensasi luar biasa, badanku serasa mengembang, pipiku merah stroberi, perutku menggelembung, ketika Pak Sobri meminta istrinya mengisiku dengan air minum tadi pagi. Ai! Aku baru menyadari ternyata aku pun mempunyai organ-organ seperti itu.

Aku seperti mempunyai mulut, mata, hidung, dan juga telinga. Aku merasakan tiba-tiba tubuhku dilengkapi dengan kaki dan tangan layaknya tangan Pak Sobri. Hei! Apakah kau melihat kaki dan tanganku? Ah! Aku percaya kau tidak akan melihatnya! Hanya orang-orang seperti Pak Sobri yang mampu melihat bagian-bagian tubuh baruku ini. Orang-orang yang mampu melihat dengan mata hati. Mata kalbu! Entah aku lupa atau memang tidak pernah menyadari, organ-organ itu baru berfungsi semenjak aku bertemu dengan Pak Sobri dengan segala kesederhanaannya.

“Bu, aku mau pake botol ini buat tempat minum.Tolong diisi, ya.”

“Bapak beneran mau pake botol ini? Aih! Kotor atuh, Pak,” jawaban istrinya, membuat aku cemberut.

“Ya dicuci dulu, atuh, Bu. Tadi bapak nemuinnya juga nggak kotor-kotor amat.” Pak Sobri membelaku, aku kembali dibuatnya tersanjung.

***

Matahari siang tengah berada di ubun-ubun ketika aku dan Pak Sobri sampai di terminal kota.

“Bapak! Bapak haus? Minum dulu, geh!”Aku menawarkan minum kepada lelaki pahlawanku itu. Dan lagi-lagi hanya kami yang dapat menyaksikan interaksi ini.

Pak Sobri menggenggam pinggangku. Aku geli luar biasa, perlahan tangan kokoh lelaki itu membuka katup mulutku, aku ternganga. Dengan segenap perasaan, aku curahkan air putih jernih mengaliri kerongkongannya. Ketika itulah aku menyaksikan deretan gigi putih bersih seraya menghirup aroma napas wangi. Heran! Aku malu pada diriku sendiri, seketika pemikiran skeptisku mengenai orang-orang kelas menengah yang selalu alpa memperhatikan kebersihannya, tiba-tiba hancur lebur setelah aku menyaksikan mulut Pak Sobri.

Beberapa teguk, Pak Sobri kembali menautkan mulutku. Terkunci rapat. Lalu kami melanjutkan petualangan.

Baru beberapa langkah Pak Sobri membawaku beranjak, seorang dengan perawakan tua tiba-tiba mencegat langkah tuanku itu. Seorang gembel peminta-minta.

Lalu perlahan selaput gendangku menangkap rintihan yang seperti dibuat-buat. Kau heran? Beuh! Aku sudah katakan kalau aku mempunyai telinga, tentu saja telingaku dilengkapi selaput gendang, sama dengan telingamu.Mmm, tidak juga sama persis, aku dapat melihat telingamu, sementara kamu tidak bisa melihat telingaku.

Masih heran? Tanyakan saja pada Pak Sobri! Lelaki paruh baya dengan gerobak sampah yang bisa kau temui di ujung jalan utama ini, bila kau ingin bertemu dengannya ditengah hari. Namun bila kau hanya ada waktu setelah ba`da ashar, maka tunggulah dia di pelataran mushola dekat deretan ruko cina di pasaran Ciruas itu, di sanalah Pak Sobri beristirahat sejenak sekadar melepas lelah dan tentu saja berdialog khusuk dengan sang Ghofur.

“Paaak, kasihani Pak...,” gembel itu menadahkan tangan sambil terus menceracau yang dibuat seiba mungkin.Ya! Aku yakin itu dibuat-buat. Dasar gembel profesional.

“Aku hanya ada air minum, Kek. Bila kakek haus, silakan diminum beberapa teguk.

“APA? Oh! Pak Sobri menyerahkanku pada gembel ini? Ah! Demi membalas budi baikmu aku ikhlas, Pak.”

Lalu aki-aki pengemis itu mulai mengulum bibirku. Aku memejam. Aroma busuk seketika menyerangku. Arg! Aroma mulut orang ini benar-benar tidak sedap. Kutangkap bibir hitam yang terbuka lebar tengah meneguk isi perutku.

“Hei! Hentikan! Ini sudah dua teguk Bapak tua!” Oh Tuhan, pandanganku bertaut dengan kerak-kerak nikotin disetiap sela gigi. Benar-benar tak tahu diri. Dia merokok?Alamak! Sungguh sebuah kebiasaan yang tidak tahu diuntung aku kira. Benar dugaanku, lelaki tua ini bukan fakir sungguhan. Gembel dan meminta-minta pasti profesinya, Sungguh memalukan. ”Bawa aku dari sini Pak Sobri! Aku mohon.” Aku meronta-ronta.

Hanya sepersekian detik kami berlalu dari pengemis tua itu, aku dikejutkan dengan suara ribut-ribut di depan kami. Aku mengintip dari balik badan Pak Sobri. Beuh! Kampanye kepala daerah! Seketika aku melihat mulut-mulut berpidato menjanjikan mimpi hari esok. Basi! Mimpi siapa yang mereka renda? Mimpi sekelumit manusia yang duduk di kursi lalu menyejahterakan dan membuncitkan tujuh keturunannya ataukan mimpi manusia bodoh kota ini yang mau saja dibodohi keluarga dinasti korup itu. Ah! Aku berkeyakinan, mulut yang berkoar itu tidak akan menang kali ini, sebab aku tahu sekarang ada manusia cerdas dan merakyat tengah bersamaku. Dialah tuanku kini. Dia adalah Pak Sobri.

Bah! Aku terperanjat, tiba-tiba saja di sekeliling kami telah menganga ribuan mulut tanpa kata-kata! Dasar manusia bodoh! Kalian mau mengabadikan kekuasaan rezim keluarga itu? Ckckck.

Hei! Calon pejabat! Lihatlah di sekelilingmu, lihatlah mulut-mulut yang menganga! Mulut-mulut tua renta yang keriput ini. Atau yang di sebelah kirimu itu, mulut-mulut bayi yang merengek, mulut-mulut yang menangis. Aku menggeleng, lalu pandanganku menangkap botol-botol terbuang, kantong plastik dan bungkus rokok yang terkapar di sepanjang jalan.

Hatiku miris. Duhai, betapa malangnya nasib karibku itu, tapi lebih malang lagi manusia-manusia terlantar ini. Mereka saja masih mengemis perhatian pada penguasa bermulut manis, tetap tak digubris, apalagi karibku yang hanya botol-botol buruk. Terima saja kehidupanmu, hai teman, nikmati saja pemandangan kota ini, hirup saja udara berdebu, dan bila kalian haus, merangkaklah ke got-got kumuh di sisi-sisi jalan berlubang. Kecaplah dengan segenap perasaan bersyukur, jangan dengan lidah yang tak pernah puas, maka hidup ini akanterasa sangat manis. Coba kalian perhatikan manusia dengan mulut terbuka dan tangan menengadah itu. Pada siapa mereka menengadah? Pada mulut yang tengah berkoar? Hahaha, perjuangan yang sia-sia.

Mulut mereka menganga bukan saja karena lapar kupikir, tetapi juga karena dahaga, juga perih, perih, dan sedih. Tangis yang tak terucap, lara tak terperi. Menyangkut di tenggorokan. Menohok ke hulu hati.

Ah, Pak Sobri. Aku muak dengan pemandangan ini. Ayolah kita pulang saja, aku ingin berdiam diri sejenak di gubukmu nan teduh. Gubuk kita. Mulut-mulut ini sungguh membuat aku tiba-tiba merasa tidak betah. Mulut pengemis yang tak tahu diri, mulut pejabat yang hanya bisa berpidato, menyogok, mengumbar janji di hadapan mulut-mulut manusia miskin yang bodoh karena dibodohi. Membujuk bocah-bocah tolol yang ditololi dengan lollipop murahan. Dasar Botol! Bocah tolol.

Teguklah lagi sisa air di perutku, Pak.

Barangkali wangi napasmu mampu menawar perasaan mual yang tiba-tiba menyerangku.(*)

Analisis Maksim Kerja Sama Grice

1. Pelanggaran Maksim Kuantitas
Tapi keberuntungan tengah tidak memihak kepadaku, bocah sialan anak majikanku melemparku ke tempat ini setelah kemauannya tidak terpenuhi.

Wacana di atas terletak di paragraf 2, penulis tampak melanggar maksim kuantitas karena kontribusi yang diberikan penulis kepada pembaca kurang memadai. Artinya maksud atau informasi yang diberikan penulis kepada pembaca masih kurang jelas. Hal itu tampak dalam tuturan Tapi keberuntungan tengah tidak memihak kepadaku, bocah sialan anak majikanku melemparku ke tempat ini setelah kemauannya tidak terpenuhi. Pembaca masih bertanya-tanya kemauan yang seperti apa yang tidak terpenuhi dari penulis tersebut. Informasi yang kurang jelas itulah yang menyebabkan penulis telah melanggar maksim kuantitas, karena maksim kuantitas mewajibkan peserta tutur untuk memberikan informasi yang jelas dan memadai.

2. Pelanggaran Maksim Kuantitas
Keluarga Pak Sobri bukan keluarga kaya, gubug reot dengan lantai tanah, dua bilik kecil,dan dapur yang menjorok di sisi kanan menyatu dengan ruang utama. Tak ada meja makan, lemari es adem, ataupun satu set peralatan memasak mewah seperti yang aku temukan dulu di rumah si bocah tengil yang telah membuang aku di bak sampah busuk. Di sisi kiri yang berbatasan dengan jendela kecil, menyatu sebuah meja tua dengan dua kaki. Dua kaki lainnya sepertii lenyap pada dinding papan di depannya.

Tuturan di atas terdapat pada paragraf 3. Tuturan di atas dapat dikatakan melanggar maksim kuantitas karena mitra tutur memberikan informasi yang diberikan terlalu panjang dan berlebihan sehingga tidak menjadi tuturan yang efektif dan efisien. Maksim kuantitas mewajibkan peserta tutur untuk memberikan informasi yang jelas dan memadai. Jika penyampaian informasi sifatnya berlebihan maka informasi tersebut menyimpang dari maksim kuantitas.

3. Pelaksanaan Maksim Relevansi
“Bu, aku mau pake botol ini buat tempat minum. Tolong di isi ya.”
“Bapak beneran mau pake botol ini, aih! kotor atuh pak.” jawaban istrinya membuat aku cemberut.
“Ya dicuci dulu atuh, Bu. Tadi bapak nemuinnya juga enggak kotor-kotor amat,” Pak Sobri membelaku, aku kembali dibuatnya tersanjung.

Wacana di atas terdapat dalam paragraf 6-8. Dalam wacana di atas penulis telah melaksanakan maksim relevansi karena kontribusi yang diberikan kepada pembaca sudah relevan yakni antara penutur dan mitra tutur sama-sama membahas atau membicarakan tentang pemakaian botol. Keduanya berkesinambungan mengaitkan topik pembicaraan tentang botol tersebut. Hal ini terlihat dalam percakapan yang sering menggunakan kalimatmau pake botol ini. Dengan demikian penulis telah melaksanakan maksim relevansi.

4. Pelanggaran Maksim Pelaksanaan
“Bapak! Bapak haus? Minum dulu, geh!”Aku menawarkan minum kepada lelaki pahlawanku itu. Dan lagi-lagi hanya kami yang dapat menyaksikan interaksi ini.

Pak Sobri menggenggam pinggangku. Aku geli luar biasa, perlahan tangan kokoh lelaki itu membuka katup mulutku, aku ternganga.

Tuturan di atas terdapat dalam paragraf 10-11. Tuturan penulis dalam wacana di atas masih bersifat kurang jelas maksudnya. Pelanggaran yang dilakukan oleh penulis terhadap maksim pelaksanaan adalah penggunaan kalimat Pak Sobri menggenggam pinggangku. Aku geli luar biasa, perlahan tangan kokoh lelaki itu membuka katup mulutku. Penggunaan kalimat tersebut akan menyulitkan pembaca untuk menafsirkan maksud tuturan penulis.

Pelanggaran yang dilakukan oleh penulis terhadap maksim pelaksanaan bertujuan untuk memberikan gambaran bahwa botol yang kita kenal sebagai benda mati pun memiliki perasaan sama seperti manusia. Apalagi kita manusia yang sifatnya hidup pasti memiliki perasaan yang jauh lebih peka dibandingkan dengan botol yang hanya sebuah benda mati. Dengan demikian, penyimpangan tuturan penulis tersebut memiliki maksud dan tujuan yang jelas yaitu untuk memberikan renungan bagi para manusia untuk selalu mempergunakan dan melihat dengan hati dan perasaannya dalam menyikapi hidup ini.

5. Pelanggaran Maksim Pelaksanaan
Lalu aki-aki pengemis itu mulai mengulum bibirku. Aku memejam. Aroma busuk seketika menyerangku. Arg! Aroma mulut orang ini benar-benar tidak sedap.

Tuturan di atas terdapat di paragraf 19. Tuturan penulis dalam wacana di atas masih bersifat kurang jelas maksudnya. Pelanggaran yang dilakukan oleh penulis terhadap maksim pelaksanaan adalah penggunaan kalimat mulai mengulum bibirku. Penggunaan kalimat tersebut akan menyulitkan pembaca untuk menafsirkan maksud tuturan penulis.

Pelanggaran yang dilakukan oleh penulis terhadap maksim pelaksanaan bertujuan untuk memberikan gambaran bahwa aki-aki pengemis sedang meminum air yang diberikan oleh Pak Sobri. Namun kalimat mulai mengulum bibirku dalam kalimat tersebut digunakan penulis untuk menambah nilai estetis dari sebuah karya sastra.

6. Pelanggaran Maksim Kuantitas
Hatiku miris. Duhai, betapa malangnya nasip karibku itu, tapi lebih malang lagi manusia-manusia terlantar ini.

Tuturan di atas terdapat dalam Paragraf 24. Dalam tuturan di atas penulis tampak melanggar maksim kuantitas karena kontribusi yang diberikan penulis kepada pembaca kurang memadai. Artinya maksud atau informasi yang diberikan penulis kepada pembaca masih kurang jelas. Hal itu tampak dalam tuturan di atas. Pembaca masih bertanya-tanya manusia terlantar yang seperti apa yang penulis maksud dari ujaran tersebut. Informasi yang kurang jelas itulah yang menyebabkan penulis telah melanggar maksim kuantitas, karena maksim kuantitas mewajibkan peserta tutur untuk memberikan informasi yang jelas dan memadai.

Tulisan ini diambil dari skripsi Evin Winangsih "ANALISIS MAKSIM KERJA SAMA GRICE DALAM CERPEN SURAT KABAR RADAR BANTEN EDISI JULI 2012 DAN MODEL RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARANNYA DI SMA". Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, 2013.

About the Author

Setiawan Chogah / Author & Editor

Penulis buku "SMS Terakhir" | Corporate Communications Dompet Dhuafa Banten | Pemimpin Redaksi biem.co (Banten Muda Online) CP: +62 821 1040 9641

0 komen dari temen² gue:

Posting Komentar

Silakan dikomentari, Sob! : (◠‿◠)