Selasa, 08 Oktober 2013

Untuk Ibu yang Hari Ini Ulang Tahun

Setiawan Chogah
Untuk Ibu yang Hari Ini Ulang Tahun 

“Udaaa … jangan lupa makan, ya!” “Udaaa … ayooo semangaaat! Move on, Udaaa!” 
Kalimat-kalimat ceria seperti itu kerap menyapa saya saban hari. Kalimat yang begitu mahal dan tidak akan mampu saya tebus seandainya saya harus membayarnya setelah mendapatkannya. Ah, ini mungkin catatan pertama saya untuk beliau di halaman ini. Tapi, di relung sini, dada saya sesak dengan kata terima kasih kepada Ibu yang hari ini ulang tahun.


Saya memang tidak lahir dari rahim beliau, tapi …. :) Beliau sudah menjelma melebihi peran ibu bagi saya di tanah rantau. Ibu kerap berujar, “Uda … baik-baik ya kerjanya. Awas kalau bandel, ibu laporin ke Emak di Padang!” Ibu dan Mak dua sosok yang serupa tapi beda fisik. Keduanya adalah perempuan berharga dalam hidup yang Tuhan menitipkan saya kepada mereka.


(-------)
Saya tidak pernah menduga bahwa saya ini akan masuk ke dalam kehidupan Ibu; pun ke dalam kehidupan keluarga beliau di sini. Bagaimana tidak, melihat cara Ibu memperlakukan saya, terkadang saya merasa bukan saya. Ibu begitu ramah, selalu bertanya kabar saya, mengingatkan saya untuk menjaga kesehatan, menjadi reminder saya untuk senantiasa bersyukur atas nikmat persahabatan yang Tuhan berikan pada saya.
Saya mengenal Ibu di pertengahan 2010 lalu. Ketika itu saya dan Rayhan (anak Ibu) berteman baik. Kami sama-sama gemar menulis, meski secara usia, Ray jauh lebih muda di bawah saya. 
Dari Ray saya mengenal Ibu. Ah, maaf, Bu … saya harus jujur sekarang, menjadi sahabat dan anak Ibu, saya sempat merasa minder. ^_^
Tapi saya sadar, kebaikan Ibu memang sudah dari sananya. Ibu baik dan ramah pada semua orang. Mungkin saya kaget saja menemukan sosok Ibu yang tidak pernah saya temukan orang seperti beliau sebelumnya.
Ceritakan pada saya, ibu-ibu mana yang nekad travelling antar pulau? Ceritakan pada saya, ibu-ibu mana yang mau hadir di acara-acara anak muda? Ceritakan juga pada saya, ibu-ibu mana yang … yang … yang … begitu banyak hal unik dan berbeda dari Ibu yang saya kenal.
Mengenal Ibu, saya seperti diantarkan pada sebuah pemahaman bahwa tak perlu menunggu kaya untuk menjadi dermawan. Menjadi orang baik tak perlu dengan harta, tapi dengan seraut senyum di muka ketika bertemu seseorang, itu tindakan seorang dermawan. 
Ah, cerita saya menjadi melompat-lompat ke sana ke mari. Bukan kenapa, ada begitu banyak tentang Ibu yang harus saya bongkar dari kenangan saya. Tentang Ibu yang tetiba mengagetkan saya lewat panggilan telepon satu tahun yang lalu, “Uda … lagi sibuk nggak? Temenin Ray ke TA, yuk! Syukuran nih, Ray diterima di Smansa, katanya Ray pengin ajak main ice skating, hayuuuk!” Heih! Ice skating? Makhluk apa lagi itu?
“Uda … ada salam dari Ayah, kata Ayah, buruan wisuda!” 
Ayah … ya, Ayah … mengenal Ibu bearti mengenal orang-orang terdekatnya juga; Ayah, Faris, Inaz, Rayhan, Dhiva, Mas Ganjar, Didi ….
Ray … seorang adik laki-laki yang cerdas, penulis, low profile dan tak pernah malu untuk bertanya. Itulah Rayhan Hanif Usamah, salah satu penulis termuda di Gilolova #3.
Faris … terlalu sedikit pembendaharaan kata saya untuk mendeskripsikan seorang Mas Faris. Yang pasti, Faris adalah saudara laki-laki yang melebihi perannya sebagai saudara untuk saya. Faris adalah sahabat, terkadang menjelma sebagai Kakak buat saya, meski secara usia, saya lebih tua. Satu fase dalam hidup yang tak akan pernah saya lupakan. Pada suatu siang, saya dan Faris terlibat obrolan berat; tentang hidup yang getir! Tapi apa yang terjadi, siang itu juga Faris mendepak saya dari jurang keterpurukan. “Yaudah, gini, deh. Besok Senin lo datang aja ke rumah, gue coba bantu semampu gue. Hidup terus berlanjut, Bro. No Excuse!” Ya, Faris adalah saksi pertobatan saya untuk kembali ke jalan yang benar; engineer! :)
Dhiva. Ah, adik perempuan yang manis dan juara! Dhiva yang multitalenta. Dhiva di jago karate. Dhiva yang piawai menari. Dhiva yang dengan polosnya akan berteriak, Om Chogaaaah … kapan datang?” di setiap kali saya berkunjung ke rumah Ibu. ^_^
Sementara dengan Inaz saya tidak begitu akrab. Saya dan Inaz memang baru satu kali bertemu, tapi saya tahu, Inaz adalah anak gadis kesayangan Ibu. Inaz yang cantik, Inaz yang berani, Inaz yang beberapa kali pernah muncul di sampul Banten Muda. Itu yang saya tahu tentang Inaz. ^_^
Oh ya, beberapa waktu yang lalu Mak menelepon dari kampung dan bertanya tentang kabar kedua orangtua saya di tanah rantau ini. “Kak Irvan dan Bu Suzy apa kabar, Nak?” Tentang Kak Irvan, Mak sudah tahu banyak lewat cerita-cerita saya dan foto beliau yang dipajang di ruang tengah gubuk kami. Sementara dengan Ibu, ternyata Mak telah berkacakap-cakap beberapa kali. Saya kaget, di hari pertama masuk kerja (17 September 2013), saya disuruh Ibu untuk datang ke rumah terlebih dahulu. “Uda, tadi Mak pesan, kerjanya harus rajin dan harus cepat diwisuda. Ayah juga pesen begitu, lho …” tuturnya sembari sibuk memaksa saya untuk sarapan terlebih dahulu.
Terima kasih, Tuhan. Telah Engkau berikan orang-orang baik untuk mengelilingi hamba. 
Hei, saya hampir lupa. Ah, tunggu sebentar, izinkan saya berdiam dan memejamkan kedua mata saya beberapa saat. Tiba-tiba saya dikuasai rasa haru yang bertumpuk-tumpuk setiap kali mengingat kejadian ini.
25 September 2013 adalah salah satu tanggal yang saya tulis tebal di kamus kehidupan saya. Gala Premiere film pertama saya; Ki Wasyid. Sebuah film yang saya persembahkan untuk mereka yang pernah hadir dalam hidup. Ada banyak orang yang saya harapkan untuk bisa ikut merasakan kebahagiaan yang membah yang saya rasakan di tanggal itu. Saya ingin Mak dan Abak bisa datang ke Serang, tapi itu sangat tidak mungkin. Saya juga ingin beberapa keluarga besar bisa datang dan sepertinya juga tidak mungkin (karena bagi mereka, mencari uang lebih dari segala-galanya) :), saya juga ingin Kak Irvan dan keluarga besar Banten Muda ikut menyaksikan rerupa saya muncul di layar bioskop, tapi apa daya, Kak Irvan tidak bisa lepas dari jibaku pekerjaannya. Ibu … ya, hanya Ibu dan Ayah yang ada untuk saya.:)
Hari ini, 9 Oktober 2013, Ibu berulang tahun. Di satu sisi saya turut bahagia menyamakan kebahagiaan Ibu, di sisi lain, saya merasa malu … hal apa yang bisa saya hadiahi untuk Ibu di hari bersejarahnya? 
Hanya doa! Hanya doa, ya, Bu. Hanya kado harap berpita doa yang mampu saya minta kepada Tuhan untuk diberikan kepada Ibu; Selamat ulang tahun, semoga Ibu senantiasa dalam lindungan Allah dan tetap menjadi Ibu yang ceria untuk Dunia. Aamiin.
  
Bojonegara, 9 Oktober 2013

About the Author

Setiawan Chogah / Author & Editor

Penulis buku "SMS Terakhir" | Corporate Communications Dompet Dhuafa Banten | Pemimpin Redaksi biem.co (Banten Muda Online) CP: +62 821 1040 9641

4 komen dari temen² gue:

  1. Aamiin, tetap selalu bersyukur ya bang ^_^

    BalasHapus
  2. Menyentuh sekali kakak ^^
    Eh, sering2 di-update donk kak blog nya :D
    hehehe.

    BalasHapus
  3. gak pernah bosen baca untaian kata nan indah darimu, uda cgogah :) hidup ini penuh arti.. terkadang skenario-Nya tidak seperti apa yg kita harapkan, namun hadapilah !! syukuri dan nikmati :) :) :)

    BalasHapus

Silakan dikomentari, Sob! : (◠‿◠)