Jumat, 30 Agustus 2013

BANTEN MUDA: Cinta, Cita-cita, Bangga, Pengabdian, dan Impian

Setiawan Chogah


BANTEN MUDA
Cinta, Cita-cita, dan Pengabdian

Hampir dua minggu saya puasa hang out bersama teman-teman sebaya saya, kongkow dan bergurau, tertawa lepas bersama sahabat-sahabat saya sembari menikmati secangkir cokelat panas atau minuman soda dengan pancake stawberry kegemaran saya di Pondok Tiara. Mencicipi harumnya Roti O dengan topping gurih pun saya hentikan, dengan satu tekad—sarjana teknik! Ya, sepulang dari kampung Lebaran kemarin, saya dan Mak, khususnya keluarga besar—Mamak-mamak saya, Ante, juga Mak Wak, telah membuat sebuah kesepakatan bahwa tahun ini saya harus diwisuda. Meski ini semester keempat saya mengontrak Seminar dan Tugas Akhir dengan total 6 SKS saja, tapi, ah entahlah, di otak bebal saya, Tugas Akhir bukan lagi sesuatu yang menantang untuk saya kerjakan. Gila!

Namun malam ini, hasrat untuk ngakak tanpa ada yang mau saya pikirkan semakin sulit dikendalikan, akhirnya saya tidak tahan, saya mengirim pesan singkat ke sahabat saya, Downy, untuk mendengarkan cerita-cerita tolol saya tentang apa saja. Hahaha. Ya, bukannya definisi paling ideal tentang sahabat adalah demikian? Tak pernah menuntut jawaban!
Puas mengikis kerak jenuh yang beberapa minggu ini tumbuh subur di kepala saya, Downy mengantarkan saya pulang ke basecamp, ah, barangkali lebih tepat saya menyebutnya rumah. Di sinilah sekarang saya merenda mimpi-mimpi manis saja, di sini juga beberapa mimpi manis itu saya nikmati hasilnya, sedikit demi sedikit.
Saya menatap cukup lama pada kalender di atas rak buku saya. Tak sengaja, retina saya menangkap selembar kartu berharga yang sampai hari ini masih saya simpan, dan mungkin esok, atau lusa, kartu itu akan saya bingkai dan saya pajang di kamar tempat saya menyimpan artefak karya-karya yang pernah lahir dari ‘rahim’ saya.
Kartu nomor kursi malam puncak Banten Muda Award 2012. Sebenarnya kartu itu miliknya Gun, sahabat saya, abang saya, pemenang BM Award waktu itu. Panjang ceritanya, mengapa kartu itu sampai berada di tangan saya, lalu saya jaga sedemikian rupa.
Tujuh bulan sudah sudah saya berlindung di bawah payung Banten Muda. Izinkan saya untuk mengenang perjalanan panjang saya di sini. Sebentar saja. Oke, cukup! Hfff … bicara Banten Muda, saya belum bisa menemukan kalimat yang pas untuk menggambarkan arti Banten Muda bagi saya. Bahkan dalam satuan kata sekalipun, tak ada yang benar-benar sreg di hati saya, yang saya percaya untuk mewakili apa yang akan dikatakan bibir saya, lidah saya, tangan saya, kaki saya—tubuh saya ingin mengungkapkan tentang Banten Muda.
Banten Muda adalah … cinta, terlalu sederhana. Bangga … hmmm, tak mewakili secara utuh. Pengabdian … lebih dari sekadar pengabdian. Impian, cita-cita, ah, semoga kombinasi kata per kata itu sedikit mampu menjabarkan tentang arti Banten Muda bagi saya. Ekstrimnya, saya terlalu mencintai Banten Muda dibanding diri saya sendiri. Kurang lebih demikian.
Tindakan berbicara lebih keras daripada kata-kata! Ah, jangan bicara seperti itu. Saya malu. Tindakan saya memang masih sangat jauh dibanding rasa sayang saya pada Banten Muda. Tak banyak yang dapat saya lakukan untuknya, tapi sebaliknya, Banten Muda terlalu banyak melakukan sesuatu untuk saya.
Main Film
Sudah bosan barangkali Sahabat pembaca blog ini tentang aksara yang saya paksa bercerita mengenai impian konyol saya untuk jadi artis. Hahaha. Tak apalah, terkadang sesuatu di dunia ini memang akan maksimal hasilnya ketika kita melakukan sedikit pemaksaan, bukan begitu? Barangkali Banten Muda tidak merasa berperan dalam pencapaian kecil dari impian yang saya tulis 4 tahun yang lalu itu (lihat di sini dan di sini).  Empat tahun saya memupuk mimpi itu sendirian. Sendiri saja. Tak banyak yang tahu, apalagi ingin tahu, juga keluarga saya. Tapi, suatu hari, ketika Ketua Umum Banten Muda Community, Irvan Hq, atasan saya yang saya paksa untuk bersedia saya panggil ‘Kakak’ berujar, “Bagus, Wan. Ikutan aja, selagi kegiatannya positif, Kakak selalu dukung anak-anak Banten Muda untuk menyalurkan kreativitas mereka.” Bagi orang lain, kalimat singkat itu mungkin tidak berati apa-apa, tapi bagi saya … itu kalimat yang mahal. Saya ingin membelinya jikalau saja ada orang yang menjualnya. Itulah, arti sebuah dukungan, motivasi, dan serum semangat yang disuntikkan ke otak saya, lalu tubuh dan nyawa saya meresponnya dengan baik. Barangkali asing sekali dengan kalimat seperti itu. Saya ikut casting dengan perasaan berbeda. Lebih hangat! Dengan satu alasan, untuk menebus utang kalimat mahal yang sudah diberikan oleh bagian Banten Muda pada saya.
Insya Allah, bila Tuhan menginginkan, pun mengizinkan, film perdana saya siap tayang akhir September nanti di 21 Cinema Cilegon. Lihat trailer-nya di bawah ini.


Menjemput Impian Menjadi Jurnalis yang Diakui
Dari kecil, saya telah terobsesi mimpi menjadi reporter, gara-gara tayangan Arena 123 di TVRI dengan pembawa acaranya Kak Dewi dan Si Kumba. Meski saya telah menjemput sebagian kecil dari mimpi itu ketika saya coba-coba menuliskan pengalaman saya, perasaan saya, juga khayalan saya lewat cerita pendek dan sempat dimuat di beberapa media lokal dan nasional, ternyata saya paling tamak dalam mengumpulkan mimpi. Saya tetap ingin menjadi reporter. Sepertinya mewawancara narasumber, atau menceritakan keindahan alam, tempat wisata, atau perhelatan konser akbar, jumpa artis, dan lain sebagainya adalah sesuatu yang sangat keren! Banten Muda memberikan kesempatan itu pada saya. Terima kasih J
24 Januari 2013, Kak Irvan menerima saya sebagai bagian dari Banten Muda dengan identitas sebagai jurnalis. 26 Januari 2013 adalah liputan perdana saya di acara SMANSA FAIR 2013, di malam harinya saya harus membaca beberapa koran untuk belajar bagaimana menulis berita yang enak dibaca, yang tidak membuat jidat berkerut, yang tidak berat, yang menghibur, “Berita yang ringan-ringan aja dulu, Wan,” ujar Kak Irvan pada saya waktu menyerahkan kartu pers dan pocket camera untuk saya di salah satu food court Mall of Serang.
27 Januari 2013, impian saya untuk bertemu dan mewawancara artis, saya tebus bersama Rayi, Asta, dan Nino—RAN! What’s next?
Editor di Tabloid Banten Muda
Saya bangga dengan bakat ‘gemar membaca’ yang Tuhan anugerahkan pada saya. Alhamdulillah. Saya juga bangga dengan bakat ‘gemar mengkritik’ yang Tuhan titipkan pada saya, ketika saya tahu bahwa apa yang saya kritik adalah salah (menurut versi saya). Saya pun jujur, saya pun pernah melewati fase alay dalam hidup saya. Bahkan mencapai fase yang sangat akut! Namun lambat laun, dari membaca, belajar dari siapa saja, sahabat-sahabat saya, guru saya, saya akhirnya mengambil sebuah keputusan bahwa menjadi alay tidak baik untuk saya. Bermula dari pengalaman menulis cerita pendek, membaca cerita pendek penulis lain, novel-novel, majalah, apa saja yang bisa saya baca, saya diantarkan pada sebuah kesadaran bahwa sebuah tulisan akan nyaman untuk dibaca ketika dituliskan dengan baik dan benar. Saya coba-coba melamar bekerja paruh waktu sebagai editor di sebuah situs yang intens mempublikasikan cerita-cerita pendek. Lalu diajak untuk menjadi asisten editor yang sudah berpengalaman mengedit tulisan yang lebih panjang. Terima kasih Bude Eno, sampai mati pun jasa Bude tidak akan saya lupakan. Tuhan memang maha segalanya, sampai pada masa saya dipercaya untuk mendampingi penulis novel-novel best seller, Agnes Davonar dalam menyelesaikan novel-novel terbarunya beberapa waktu lalu. Kemudian Denny Delian, yang saat ini masih bersedia untuk percaya dengan kemampuan cetek saya.  Menuliskan kisah hidup beberapa orang berpengaruh di negeri ini dengan nama samaran, lalu dipercaya menjadi editor tetap Tabloid Banten Muda mulai edisi 18 (September 2013) yang baru saja terbit.
Be Nice Be Care to Everything!
Saya terlahir dengan karakter cuek, masa bodoh dengan lingkungan saya. Selagi hidup saya tidak diganggu, saya enggan untuk ikut campur dalam hal-hal yang menurut saya tidak begitu penting untuk saya perhatikan. Namun, di Banten Muda saya diajarkan untuk berbuat baik pada semesta dan isinya, peduli, dan banyaklah memberi ketimbang meminta. Ya, Banten Muda bukan saja sebuah media dan penerbitan. Lebih luas, Banten Muda Community adalah ruang yang maha luas untuk kadernya bergerak bebas, namun tetap dengan catatan; Berkarya dan Berbagi Inspirasi.
Saya paling benci dengan orang-orang yang tak sehaluan dengan saya. Selalu begitu dari dulu. Ternyata, dalam hidup saya tidak bisa sendiri. Ada banyak hal yang tidak bisa saya paksanakan. Banyak orang dengan aneka karakter dan kebiasaannya. Dulu, saya bisa saja memaki orang yang buang sampah sembarangan, atau menghardik teman saya yang berisik ketika makan, teman yang mengeluarkan bunyi menjijikkan ketika menyeruput minuman, atau lawan diskusi yang suka memotong pembicaraan orang lain dengan seenak perut. Saya alergi sekali dengan hal-hal semacam itu. Hahaha. Saya jadi ingat kejadian lucu sekaligus tidak bisa saya hapus dari memori saya. Abak saya pernah memaki saya yang kira-kita kalau saya terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia bunyinya seperti ini, “Kamu itu lagaknya seperti orang kaya. Ganti baju tiap sebentar. Tidak baik begitu, bau-bau begini, saya ini bapak kamu!” tegas Abak ketika saya ngomel-ngomel dengan kebiasaan Abak yang kurang mau memerhatikan kebersihan badannya. Saya juga sering ditegur ketika minggat dari ruang makan gara-gara tidak tahan mendengar saudara yang mengeluarkan bunyi ‘cap cap cap’ ketika makan. Hahaha.
Cerita belagu di atas hanya contoh saja. Banten Muda mengajarkan saya untuk menjadi problem solver dari permasalahan-permasalahan kecil yang saya hadapi—khususnya. Saya diajarkan untuk berhenti menuntut perubahan, saya dididik untuk menciptakan perubahan, meski untuk diri saya sendiri. Demikianlah arti maha Banten Muda bagi saya. Ah, sudah lama sekali rasanya saya tidak bercerita di sini. Masih ada begitu banyak kisah yang ingin saya tumpahkan, tapi saya harus segera tidur. Sebab, nanti pagi-pagi sekali saya harus mengantarkan pesanan tabloid ke beberapa pembaca. Ya, lagi-lagi Banten Muda mengajarkan hal baru pada saya. Bangun lebih pagi, dan itu sangat menantang! Selamat tidur, Sahabat. J
Basecamp Banten Muda, Akhir Agustus yang senyap.

About the Author

Setiawan Chogah / Author & Editor

Penulis buku "SMS Terakhir" | Corporate Communications Dompet Dhuafa Banten | Pemimpin Redaksi biem.co (Banten Muda Online) CP: +62 821 1040 9641

0 komen dari temen² gue:

Posting Komentar

Silakan dikomentari, Sob! : (◠‿◠)