Rabu, 08 Mei 2013

Bro, Saya Takut Dibilang Sombong

Setiawan Chogah



Bro, Saya Takut Dibilang Sombong


Kadang, saya pengin ngegigitin pohon jambu di halaman rumah tetangga saya setiap kali membaca chat dari teman-teman saya semasa sekolah. Mereka bilang, sekarang saya sombong. Saya tidak pernah lagi mau menyapa mereka. “Cieee, yang udah sukses jadi cerpenis, sombooong. Udah kaya ya sekarang, nggak pernah nyapa aku lagi.” Hiiiks! Chat yang dimulai dengan sapaan seperti itu biasanya tidak langsung saya balas. Andai saja mereka tahu hidup saya yang sebenarnya, sayalah yang patut untuk dikasihani.

Cerpenis..... Entahlah, saya tidak bangga dengan kata yang selalu ditempelkan teman-teman itu pada saya. Bro, kalian tahu, berapa pendapatan yang saya terima dari menulis cerpen? Baiklah.... Mari kita ngobrol sejenak. Bro... satu cerpen yang dimuat media, paling mahal dibayar 1 juta lebih. Wow! Iya, itu nominal yang fantastis untuk bayaran 5 sampai 8 halaman karangan. Tapi, apakah kau tau, Bro? Hanya orang-orang tertentu yang menerima bayaran sespektakuler itu. Saya tidak termasuk di dalamnya.

Boleh... sangat boleh bila menyebut saya cerpenis. Tapi... jangan pakai embel-embel sombong di belakangnya. Hiks! Saya tidak kaya dengan menulis cerpen, Bro. Satu cerpen yang dimuat di media massa, paling mahal saya dibayar Rp 300 ribu (catat! Itu kalau dimuat, ya). Berapa cerpen sih yang mampu saya tulis dalam satu bulan? Berapa kali juga keberuntungan memihak pada saya, sehingga ada redaktur berbaik hati atau khilaf meloloskan naskah saya untuk dimuat? Sedikit, Bro. Sedikit sekali. Tapi, tunggu dulu! Jumlah 300 ribu itu bukan nilai mutlak. Banyak sekali media yang tidak mau membayar honor penulisnya. Lebih banyak lagi yang membayar di bawah angka itu. 50 ribu, 75 ribu, 100 ribu, 150 ribu, 200 ribu.... Untuk penulis dengan jam terbang tinggi, atau yang menjual nama sebagai penulis tersohor, angka itu mungkin akan menjadi bearti dengan 10 sampai 20 tulisan dimuat dalam satu bulan. Lagi-lagi, saya tidak termasuk di dalamnya.

Oke, kita fair saja, Bro. Saya bersyukur, bersyukur sekali, ketika Tuhan masih memberikan kemampuan pada saya untuk menulis. Dulu, mungkin menulis bagi saya adalah dapur. Dari menulis saya mengantungkan hidup saya. Pahit, Bro! Sangat pahit perjuangan untuk mendapatkan kepercayaan. Saya mau bercerita, di awal-awal ketertarikan saya untuk menjadi seorang ‘penulis’ (sampai saat ini saya tidak berani menyebut diri saya penulis, saya hanya manusia kecil yang kebetulan suka menulis. Itu saja), dari 7 naskah yang saya kirim ke redaksi media massa, mungkin hanya 1 yang berhasil terbit. Dua ratus ribu, satu bulan! Alamaaak, untuk saat itu mungkin jumlah yang sangat berharga untuk saya. Memegang uang dari hasil jerih payah sendiri. Nilainya lebih kepada rasa. Value! Sensasi!

Memang, seribu langkah selalu dimulai dari satu langkah kecil. Meski sekarang (alhamdulillah) ada beberapa redaktur yang memesan tulisan, namun bayaran saya tidaklah sefantastis yang kalian bayangkan.

Tapi saya bangga dengan hobi menulis, lalu tulisan saya dibaca banyak orang. Bangga sekali. Dengan menulis, saya punya banyak teman. Punya saudara di mana-mana. Pun punya musuh di mana saja. (Dunia kepenulisan itu kejam, Bro. Lelaki dan perempuan sama saja. Suka bergosip!)

Tapi, bila kalian jangan takut! Bila ada niat untuk menjadi penulis, teruslah.... Kalian bisa! Sangat bisa! Saya hanya berpesan, tempalah mental dari sekarang. Karena tidak ada profesi yang luput dari risiko di dunia ini. Tulisan kalian jelek, pasti ada yang merasa tulisannya bagus akan mencerca kalian. Tulisan kalian bagus, tetap saja pasti ada cela di mata manusia-manusia syirik di luar sana.

Eh, kenapa obrolan kita jadi bias begini, Bro? Hahaha. Oke, kita kembali ke persoalan tadi. Tentang predikat ‘sombong’ yang kalian sematkan di dada saya. Jujur, saya tidak terima!

Bro, kalian sudah paham, kan, kalau saya tidak kaya? (Kalaupun saya kaya, saya tidak mau menjadi sombong. Doakan saya jadi kaya, Bro. Kaya adalah cita-cita saya. Dengan kaya, saya bisa mendirikan sekolah, memberi beasiswa buat bocah-bocah malang di luar sana. Ah, saya ingin kaya!)

Bicara soal kaya, saya mati-matian memperjuangkan cita-cita saya itu. Bro. Apa pun saya lakukan untuk bisa kaya. Saya teringat, saya sadar saya tidak akan bisa kaya dengan hanya menulis cerpen—dengan kualitas dan kuantitas tulisan saya yang kata orang-orang ‘cemen’. Beuh beuh beuh... saya tidak menjadikan menulis cerpen sebagai jalan untuk mencari kekayaan. Saat itu.

2011 saya berkenalan dengan seorang pengusaha asal Bandung. Pak Yusuf namanya. Beliau ini pecinta literasi. Beliau mengelola sebuah website cerpen dan novelet. Dari beliaulah saya mendapatkan jalan untuk menjadi seorang editor. Waktu itu saya ditawarkan memeriksa cerpen-cerpen yang akan diposting di website milik dia. Saya ahli bahasa? Wiiiih, jangan ditanya, Bro! Titik sama koma saja saya suka salah pakai. Hahaha. Tapi kesempatan tidak datang dua kali, kan, Bro? Itu kata orang-orang, meski saya tidak sepenuhnya setuju dengan kata-kata itu. Kesempatan bisa datang kapan saja. Kesempatan bukan ditunggu, tapi diciptakan. Ya, kesempatan itu kita yang menciptakan!

Saya langsung menerima tawaran Pak Yusuf, dengan bayaran 3 ribu untuk satu naskah cerpen. Dalam satu bulan saya bisa memeriksa tanda baca 50 naskah cerpen. Jadi sebulan saya dapat 150 ribu. Sudah besar untuk seorang mahasiswa galau seperti saya saat itu. Bulan kedua, Pak Yusuf mulai memercayakan saya untuk mengedit novelet dengan bayaran 5 ribu sampai 7 ribu satu naskah. Bulan selanjutnya 30 ribu untuk 70 halaman novel. Begitu seterusnya. Namun saya hanya bertahan beberapa bulan, dengan alasan tuntutan Tugas Akhir.

2012 saya ditawarkan Mbak Enno untuk menjadi asisten editor. Ya, dari perempuan Bandung super inilah saya belajar banyak tentang dunia editor. Tentang kata baku, tanda baca, kalimat logis, kalimat bertingkat, kalimat keriting, fitur track changes. Tugas saya hanya mengoreksi tanda baca, me-rebonding kalimat keriting, lalu mengirimkannya kembali ke Mbak Enno. Satu bulan saya bisa mendapat jatah 4 samapi 5 naskah setebal 200 sampai 300 halaman dengan kadar ‘kekurangajaran’ naskah yang beragam. Bayangkan, Bro, ada ternyata penulis yang semena-mena terhadap editor. Copy paste tulisan dari blog ke mic. word tanpa dirapikan terlebih dahulu. Aih, tega!

Saya bertahan 3 bulan saja. Lagi-lagi dengan alasan tuntutan Tugas Akhir. Hahaha.

Bro... kalian percaya, kan, dengan kalimat saya sebelumnya? Tentang kesempatan itu diciptakan, bukan ditunggu. Saya suka berkicau di Twitter. Dari Twitter-lah saya berkenalan dengan Agnes Davonar, penulis novel fenomenal Surat Kecil untuk Tuhan. Penulis yang masuk dalam daftar 7 penulis terkaya di Indonesia, dengan penghasilan 200 juta dari penjualan SKUT (buku dan film). Ah, saya jingkrak-jingkrak ketika Agnes menawarkan saya untuk jadi editornya. Bukan bayaran selangit yang saya bayangkan, tapi kesempatan. Kesempatan yang diberikan Agnes untuk kenal dia, untuk berkomunikasi dengan dia, untuk menjadi sahabat dia.

Novel Bidadari Terakhir adalah debut perdana saya dengan Agnes. Dalam 10 hari waktu yang diberikan Agnes, novel itu jadi dan tersebar di toko buku dan sold out dalam 5 hari di beberapa toko buku. Bro... saya menangis! Saya menangis!

Usai Bidadari Terakhir, kesempatan kedua datang. Agnes memercayakan saya untuk kembali jadi editor di novel yang mengangkat kisah nyata Tjong A Fie; sang dermawan dari Medan. Agnes membawa bintang terang, tawaran lain datang dari Denny Delian, seorang penyanyi ibu kota dan penulis novel bertema LGBT, pun E.L. Hadiansyah, penulis novel Hujan di Bawah Bantal, Cinta dalam Secangkir Cappucino, dan Daun yang Terlanjur Jatuh.

Bicara tentang Tjong A Fie, saya teringat dengan kakak saya, Reni Erina dan Irvan Hq. Ah, Bro. Mereka berdua adalah manusia berhati malaikat.

Saya ingat awal perkenalan saya dengan Mbak Erin. Saya yang tertampang culun hadir di pelatihannya, 10 Desember 2010 di Uhamka, Jakarta. Jakarta, Bro.... Jakarta yang masih begitu asing di mata saya. Mbak Erin adalah guru hebat yang saya punya. Mbak Erinlah yang melahirkan ‘Setiawan Chogah’ untuk pertama kalinya di media nasional dengan cerpen Kiara. Mbak Erin jaga yang menjadikan saya jurnalis dengan berita kecil perdana di NewsCeeS Majalah Story. Mbak Erin yang mengajak saya menemani dia hadir di press conference dan gala premiere Cita-Citaku Setinggi Tanah. Merasakan sensasi meliput acara besar, dihadiri media nasional; wartawan surat kabar dan stasiun TV di Jakarta, juga bertemu artis ibu kota. Bah! Saya selalu kehabisan kata untuk mengurai jasa seorang Reni Erina dalam hidup saya, Bro.

Pun begitu dengan Kak Irvan. ‘Ayah’ yang menerima saya di Banten Muda. Laki-laki yang sangat saya cintai. Ya, saya mencintai Kak Irvan, Bro. Cinta sekali.

Begini; teman saya, Fandi, Bembi, suka berkometar aneh tentang diri saya sekarang. Fandi tahu betul bagaimana saya sebelum menjadi bagian Banten Muda. Fandi kenal aroma kamar 2 x 3 meter persegi tempat saya tidur di Bhanyangkara. Kenal juga dengan pola hidup saya, makan saya, ah, kenal luar dan dalam.

“Sekarang lo mewah, ya, Gah. Tidurnya di spring-bed, euy. Mandi di kamar mandi, gak nimba-nimba lagi kayak di Bhayangkara. Internet lancar jaya, kulkas penuh makanan. Edian!”

“Ebuset, lo beneran dibayar satu berita segitu? Enak bangeeeet! Itu kamera dikasih kantor? Yang megang website BieM lo, Nyet?”

“Kak Chooo... Envyyy!!! Kerjaanya asyik, ketemu artis. Huwaaa, udah foto sama RAN, Wanda Hamidah. Hiks, pengeeen!”

Irvan Hq—
Bukan alasan ‘perubahan hidup yang lebih layak’ itu yang membuat saya mencintai dia, Bro. Bukan! Tapi, kesempatan. Kesempatan yang saya minta, lalu Kak Irvan memberikannya. Di Banten Muda, saya meng-create dunia saya sendiri. Irvan Hq bukan sekadar atasan. Lebih! Dia adalah motivator yang ‘membayar’ saya ketika saya menerima asupan semangat dari dia. 

“... ingat, ya, Iwan. Justru pada titik terendah itulah, Allah tidak memberi jalan dan celah kepada kita, kecuali untuk naik dan bangkit.

“... enjoying life is often thought to be a mindset, the result of reflection, action, and gratitude. Semangat3x.”

Seorang Mario Teguh mungkin akan dibayar puluhan juta rupiah untuk satu kalian bergizi seperti itu. Tapi saya mendapatkannya cuma-cuma dari Irvan Hq. Lalu, adakah alasan saya untuk tidak berkata bahwa saya mencintai dia? Nothing!

Bro... saya takut sekali dibilang sombong. Demi Tuhan, saya takut.
Kota saya sudah renta, Bro. Bagaimana kota kalian? Kita istirahat sejanak, jangan mau telat menyaksikan perjalanan matahari ke singgasananya esok pagi. Matahari kalian, matahari saya. Selamat malam. Obrolan kita jadi semakin bias bila saya teruskan. Hahaha. Selamat tidur untuk kalian yang pernah mesra, dan saya tidak akan pernah meninggalkan kalian. Banyak cinta dari Serang.

Banten Muda—9 Mei 2013. 12:44AM
  

About the Author

Setiawan Chogah / Author & Editor

Penulis buku "SMS Terakhir" | Corporate Communications Dompet Dhuafa Banten | Pemimpin Redaksi biem.co (Banten Muda Online) CP: +62 821 1040 9641

5 komen dari temen² gue:

  1. Gak selamanya perspektif kesombongan itu bersifat negatif, kesombongan dengan tujuan memperbaiki diri akan menjadi bumerang buat yang menilai dengan memandang sebelah mata.

    BalasHapus
  2. Ini yang gw alamin sob setelah pindah ke jakarta. temen gw pada ngomong gw udah jd anak ibu kota, udah lupa sama temen di pekanbaru. padahal gw di sini masih sengsara sob.
    memang semua ini ada pahit nya, semoga apa yg mereka bilang bisa menjadikan gw lebih baik aja deh.
    thx sob, tulisan yg bermanfaat. semoga lu bisa menggapai apa yang lu ingingkan (y)
    si fandi terus yah yg bawa gw kemana" -_-
    tp alhamdulillah membawa gw ke tempat yg positif :D

    BalasHapus
  3. Setiap langkah yg indah pasti ada kekeruhannya ,yg lahir dari sekeliling kalian atau diluar lingkup kalian itulah manusia ada iri ,dengki,maupun lainya .karna mereka tidak bisa seperti yg lainya ada kekurangan dan kelebihan masing .jdi u menanggapi itu biasa saja karna hal lumrah dari
    manusia.semangat yaa

    BalasHapus

Silakan dikomentari, Sob! : (◠‿◠)