Sabtu, 30 Maret 2013

Secawan Rendang, Semangkuk Doa

Setiawan Chogah

(Dimuat dalam Antologi Berjalan Menembus Batas, A. Fuadi, dkk, Bentang Pustaka, 2012 - Nominasi Buku Non Fiksi Terfavorit dan Cover Buku Non Fiksi Terfavorit Anugerah Pembaca Indonesia 2012)

Siapa yang mau dilahirkan di tengah-tengah keluarga serba kekurangan? Aku rasa tidak ada! Pun begitu denganku. Namun apa daya ketika Allah berkehendak, apapun bisa terjadi.

Masih segar betul di kepalaku ini, sebuah negeri nan elok nian, jauh dari hiruk pikuk kota, dengan suasana bukit-bukit hijau yang dipenuhi tanaman karet. Orang-orang menyebutnya Nagari Atar, Ah! Mungkin kalian tidak tahu apa itu nagari. Baiklah, akan aku kisahkan demi kau, Kawan. Semoga ceritaku ini dapat membuka matamu yang bernasib tak seelok kawan-kawan kita yang manciak[1] di tengah-tengah keluarga berada. Bagi kalian yang merasa hidup tidak pernah adil, dengarkanlah kisahku ini;

Kembali kepada kata nagari yang aku sebutkan tadi. Biar lebih gampang, kalian tentu tahu apa itu kelurahan, kecamatan, ataupun kabupaten. Nah, begitulah juga dengan nagari di kampungku. nagari satu level dengan kelurahan, atau boleh juga kita sebut desa. Di Nagari Atar itulah aku terlahir, di sebuah gubuk reot. Nagari-ku bukan nagari yang maju, berada 125 kilometer dari Kota Padang, atau biar gampangnya lagi akan aku ceritakan detailnya pada kalian. Bila kalian datang ke Bukittinggi, dan ingin melihat seperti apa nagari-ku itu, maka naiklah bus bermerk Doris tujuan Batusangkar, sekitar satu setengah jam perjalanan kalian akan sampai di sebuah kota yang orang-orang di Ranah Minang menyebutnya Kota Budaya. Aku rasa itu tidak salah, di kota inilah kalian bisa menemukan kebudayaan asli Minangkabau. Sebut saja kerajaan Pagaruyung yang masyur itu, atau Batu Batikam yang melegenda. Nah, dari terminal yang bernama Piliang, tumpangilah bus bermerek Sitangkai! Katakan kalian ingin turun di Taratak Duo Baleh, Nagari Atar, persisnya di bengkolan sebelum sekolah es-em-pe 2 Padang Ganting. Jangan takut, Kawan! Itu satu-satunya es-em-pe di kampungku, jadi tak perlulah kalian risau akan tersesat. Di sepanjang perjalanan kalian akan melewati horizon berkelok dan jalan-jalan yang diapit bukit-bukit. Atau kalian akan terkesiama ketika menyaksikan aliran sungai yang membelah nagari-ku, memisahkannya dengan nagari Lintau Buo.

Dari ceritaku, tentulah kalian ngiler ingin menyaksikannya secara langsung. Ah! Tunggu dulu, Kawan! Nagari-ku tidaklah seelok itu.

Masih segar di ingatanku ini, waktu itu kalender pemberian juragan fotokopi yang menggantung di dinding gubukku menunjukkan kalau aku tengah berada di tahun 1996. Beruntung aku mempunyai Amak dan Abak yang mengerti kalau aku butuh pendidikan. Saat itu usiaku menanjaki umur delapan tahun. Ai! Delapan tahun orangtuaku baru berpikir kalau aku butuh sekolah? Jangan heranlah, Kawan. Itu memang hal yang biasa di nagari-ku. Yah! Saat itulah aku mengenyam pendidikan di sebuah es-de satu-satunya di Jorong[2]Taratak Duo Baleh. Sekolah yang berjarak kurang lebih tiga kilo meter dari gubukku. Kalian pasti berpikir, apalah arti tiga kilometer, dalam waktu lima belas menit tentulah bisa ditaklukkan dengan motor, ataupun mobil. Ah! Tak semudah itu, Kawan. Nagari-ku bukanlah sama dengan nagari-nagari lain yang ada di ranah ini. Apalagi dengan kelurahan maupun desa-desa yang ada di tempat kalian. Nagari-ku termasuk istimewa. Di tahun itu kami belum mengenal yang namanya ojek ataupun angkutan desa. Motor pun boleh di hitung dengan jari. Itu barang yang langka.

Tak hanya itu, kalaupun aku mengatakan keberadaan motor ataupun angkutan kota langka di nagari-ku itu, itu bearti bukan tidak ada sama sekali. Ya! Barang semacam itu ada, tapi keluargaku tidak punya!

Tiap pagi, dengan seragam putih merah aku berjalan kaki menyusuri tepi aliran sungai, pematang sawah, dan bahkan ketika Amak kuatir dengan isu penculikan anak yang berembus kala itu, aku harus menjelajahi jalan-jalan kampung yang dilalui masyarakat untuk pergi berkebun. Bisa kalian bayangkan, jalan-jalan yang jarang dilalui manusia, semak-semak, dan tak jarang aku dikejutkan oleh segerombolan babi hutan yang numpang lewat di jalan-jalan itu.

Itu demi sekolah, kata Abak; aku harus kuat. Aku masih ingat, dulu sering sekali Amak membuat hidungku kembang-kempis ketika sesekali Amak mengantarku ke perbatasan kampung dan melewati perempuan-perempuan di tengah sawah.

“Wooi, Niar! Kama juo bakundang Si Awan tu lai?”[3] perempuan di tengah sawah menyapa kami.

Lalu Amak akan menjawab dengan suara berbinar-binar dan bibir yang tak lelah mengulas senyum.

“Iko hah, maantakan calon sarjana ka sikolah,” Amak mengatakan kalau dia mau mengantarkan calon sarjana ke sekolah.

Sarjana! Satu onggok kata itulah yang kini masih terngiang-ngiang di telingaku. Tiap malam aku berjibaku dengan buku-buku pelajaran pembagian dari sekolah. Ya, seingatku hanya buku pembagian, ah, lebih tepat kalau akau mengatakan buku pinjaman, sebab di akhir tahun aku harus mengembalikan buku-buku itu ke sekolah.

Bangun pagi-pagi sekali, saat kabut masih menutupi sebagian bukit-bukit karet di belakang gubukku. Aku telah bakacimpuang[4] di sungai yang dinginnya menusuk tulang. Lalu saat matahari mulai menyapa, dengan langkah terseok Amak telah membimbingku menuju perbatasan kampung kami dengan sekolah yang berjarak tiga kilometer tadi. Sebuah tas warisan dari Etek Len saat beliau bersekolah dulu bergelantungan di bahuku. Cukup berat, Kawan. Di dalam tas itu ada buku-buku pelajaran yang dipinjamkan sekolah padaku, ada buah rambutan, kedondong, dan kadang-kadang buah marapalam[5] sebagai barang dagangan yang akan aku jual kepada kawan-kawanku di sekolah nanti. Ya! Aku tidak malu menjual buah-buah itu. Buat apa malu? Bagiku urusan perut jauh lebih penting dari sekadar menjunjung gengsi. Begitulah Abak dan Amak mengajari hidup padaku dulu.

Amak hanya mengantarku separuh penjalanan, sebab setelah melewati perkebunan karet kami, Amak akan berhenti di sana dan bakureh[6] sampai sore menyadap getah karet. Lalu aku melanjutkan perjalanan mengumpulkan ilmu-ilmu yang dicurahkan oleh para guruku di sebuah sekolah es-de di pelosok nagari.

Enam tahun aku seperti itu, sepulang bersekolah, mengantarkan nasi untuk Abak di sawah, atau membantu Amak mengumpulkan panen karet kami di setiap hari Kamis. Atau di kala terlepas dari dua kegiatan itu, aku memanfaatkan kebebasanku untuk mengumpulkan uang bersama kawan-kawan sesama anak kampung. Kami menjelajah masuk hutan, mengumpulkan kayu-kayu kering, kami ikat tiga-tiga potong, lalu kami tumpuk di pinggir jalan. Biasanya di setiap Minggu sore akan ada oto cigak baruak[7] yang mengambil ke kampungku untuk dijadikan bahan bakar pabrik kopi di daerah Limo Kaum, 25 kilo meter dari kampung kami yang terisolir.

Tak jarang juga kami terjun ke sungai, mengumpulkan pasir dan kerikil lalu pun kami onggok di pinggir jalan. Itu hanya pada musim-musim tertentu, biasanya ketika ada proyek pembangunan jalan atau ketika ada juragan yang memesan untuk membangun rumah.

Dengan begitu, bisa-bisa tiap minggu aku mempunyai uang lima ribu sampai sepuluh ribu rupiah. Hei! Itu jumlah yang luar biasa banyak untukku dan kawan-kawanku di desa ini. Dengan uang itu kami bisa pergi menonton orgen tunggal[8] ke kampung tetangga di Padang Ganting atau Lintau Buo, atau bisa makan martabak kacang bila hari pakan[9] tiba. Tapi itu hanya dilakukan oleh kawan-kawanku yang memilih untuk berhenti bersekolah. Namun tidak denganku. Uang-uang itu aku gunakan untuk memenuhi hasrat bacaku. Aku gunakan untuk membeli majalah Bobo bekas di Balai Jamat. Begitulah, aku lebih memilih bacaan dari pada sekadar hura-hura, berdendang semalam suntuk, atau berjoget ria dengan artis kampung di orgen tunggal.

Tahun 2002 aku menamatkan es-de dengan nilai yang cukup gemilang. Tertinggi di kampungku. Ya! Kampungku, kalian bisa membayangkan tentunya, seberapalah tingginya nilaiku itu bila dibandingkan dengan nilai kalian. Namun bagiku itu sebuah anugerah luar biasa. Nasihat Abak dan kata-kata Amak begitu erat menempel di otakku. Sarjana!

Aku melanjutkan ke es-em-pe yang aku sebut di awal kisah tadi. Tak mudah, Kawan. Abak sampai harus berutang di sana-sini untuk biaya sekolahku. Namun itulah Abak, beliau seperti telah terikat oleh janji dan nasihat-nasihatnya padaku. Apapun dia lakukan agar aku bisa melanjutkan sekolah ke es-em-pe.

Dan mungkin ini yang disebut orang, Allah tidak pernah tidur. Pasti ada jalan dalam setiap kemauan. Alhamdulillah, aku mendapatkan beasiswa di semester dua kelas satu sampai lulus es-em-pe di tahun 2005. Kegiatanku sewaktu es-de yang mencari kayu bakar, pasir-kerikil, dan berjualan tidak banyak berubah. Bahkan makin menjadi-jadi. Kini ditambah dengan agenda mengembalakan ternak paduaian[10] di sawah-sawah yang habis dipanen, atau sekadar manggoro di sepanjang jalan. Ah! Peduli apa aku dengan pandangan miring orang terhadapku. Sudah es-em-pe masih menggembalakan sapi, di sepanjang jalan pula. Hei! Ini demi mimpiku, Kawan.

Malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat dicari. Begitu pepatah orang-orang tua yang sering aku dengar di kedai-kedai kopi. Lagi-lagi keadaan ekonomi ‘nakal’ mencoba memintaku untuk menyerah pada nasib.

“Berhenti saja sekolah!”

“Hei! Lebih baik jadi karyawan fotokopi ke Jawa, kau bisa kaya!”

Kalimat-kalimat itu berseliweran di telingaku. Godaannya semakin hebat ketika aku menamatkan es-em-pe tahun 2005. Mau lanjut ke es-em-a? Ah! Aku mau sekali. Namun tidak semudah itu tentunya. Apalagi adik-adikku kini telah siap menyambung estafet tradisi menyusuri hutan, pinggir sungai, dan pematang sawah menuju es-de tiga kilometer dengan berjalan kaki.

Aku menyerah! Aku memutuskan untuk menggantungkan mimpi menjadi sarjana di sini. Di Juni 2005.

Dalam keadaan berduka aku pergi ke Payakumbuh, satu-satunya niat hanya ingin bekerja, menjadi karyawan fotokopi. Entah mengapa, Kawan. Fotokopi seperti magnet bagi orang-orang di kampungku. Kalian tanya saja juragan-juragan fotokopi yang ada di kota Bandung itu, dari 100 yang kalian tanya, 80 di antaranya mungkin berasal dari kampungku, Nagari Atar. Memang bukan sembarangan aku mengatakan fotokopi macam bius. Lihat saja bila lebaran tiba. Kampungku tiba-tiba bertransformasi menjadi kota besar. Mobil di mana-mana, para juragan fotokopi pulang kampung. Balai Jumat pun jadi seperti mall. Para istri juragan tumpah ke tengah pasar dengan dandanan yang up to date, leher yang berkilat dengan kalung emas. Ya! Seperti itulah hidup yang dijanjikan usaha fotokopi bila di lihat dari juragan-juragan yang pulang kampung itu.

Hati siapa yang tak kan ciut, maka tak heran, bila orang di kampungku akan merasa paling kaya bila mempunyai seorang anak gadis nan kamek, Ai! Itu adalah aset buat mereka. Biasanya tiap lebaran datang, juragan-juragan yang masih bujangan pulang kampung untuk mencari istri. Peduli amat mereka dengan level pendidikan, yang penting bisa membaca, bisa menghitung uang! Itu sudah modal untuk menjadi nyonya fotokopi di tanah Jawa.

Namun ketika nasihat Abak kembali menari-nari di benakku, kata-kata sarjana kembali datang dan tiba-tiba menyeruak, memenuhi angan-anganku. Lalu menyembul menjadi sebuah mimpi besar.

Aku menangis! Aku hujat Tuhan yang telah melupakanku. Tidak lagi memihak padaku. Tidak lagi memberikan jalan dan kesempatan untukku melanjutkan sekolah.

Namun akhirnya aku juga yang malu. Mana pantas Tuhan dihujat! Bisa-bisa aku yang celaka. Begitu kata Angku[11] Neman dulu, guru mengajiku di Surau Botung.

Dengan alasan ingin sekolah, aku memohon pada Allah, agar aku diberikan jalan. Aku utarakan kalau aku mepunyai janji besar pada Abak dan Amak. Setiap malam aku mengadukan hal ini....

Itu Kawan, Allah ternyata begitu cerdas memberikan kejutan dalam hidup hambaNya. Tidak aku sangka-sangka sebelumnya. Etek Rus, saudara sepupu Amak mendatangiku di suatu sudut siang. Dia tanyakan apakah aku mau bersekolah, ikut tinggal bersamanya di Payakumbuh, di kedai fotokopinya.

Antara haru yang membiru, tawaran itu seperti oase dalam kehausanku akan sekolah. Mulai saat itu, terhitung Juni 2005 aku tercatat sebagai siswa di SMAN 1 Harau, di Tanjung Pati. Sebuah kota kecil di provinsi Sumatra Barat. Atau mungkin kalian pernah mendengar nama Lembah Harau? Nah, di dekat lembah itulah sekolah itu berada.

Aku makin menikmati keseharianku sebagai siswa SMA sekaligus karyawan fotokopi. Pagi-pagi aku berseragam sekolah, belajar, merajut mimpi sampai tengah hari, lalu separuhnya lagi aku menjelma sebagai karyawan di kedai Etek Rus.

Satu semester seperti itu, lagi-lagi ujian tak pernah mau berhenti mengajakku bergurau. Amak dan Abak becerai! Hah!!! Aku down, entah apa yang ada di pikiran Abak dan Amak. Bukankah dulu mereka yang menyuntikkan virus haus ilmu padaku, lalu membuaiku dengan mimpi jadi sarjana. Dan kemudian mereka pula yang menjatuhkanku dengan berita perceraian mereka. Saat itu Desember 2005. Aku genap 17 tahun. Manis betul kado yang diberikan Amak dan Abak, sehingga begitu membekas.

Man Jadda Wa Jada! Siapa yang bersungguh-sunguh maka dia akan sukses. Ah! Itulah modalku untuk tetap memacu perahu mimpiku sampai dermaga sarjana.

Lagi-lagi Allah tidak tidur, Februari 2006 aku mendapat beasiswa pe ke sebuah sekolah unggulan Sumatra Barat di Kabupaten Agam. Sebuah sekolah asrama di pinggir Danau Maninjau sana. Sebuah sekolah yang menerapkan pendidikan agama yang kental dan semimiliter. SMAN Agam Cendekia!

Semuanya gratis! Makan gratis! Seragam gratis! Buku-buku gratis! Dan tempat tinggal pun gratis! Ah! Nikmat mana lagi yang tak harus aku syukuri saat itu. Allah ternyata benar-benar memeluk mimpiku yang bersungguh-sungguh.

Agam Cendekia, sebuah boarding school di pinggir Danau Maninjau, di sanalah aku menemukan kenikmatan baru. Hobi baru. Aku begitu tergila-gila dengan tulisan. Majalah Annida, buku-buku sumbangan dari para donatur begitu membuat aku terpacu untuk menjadi penulis. Maka di sela-sela sekolah yang full time, aku sempatkan menulis. Aku ceritakan tentang nagari-ku, tentang Lembah Harau, tentang daerah Salingka Danau, tentang berburu durian di kampung kawan-kawan baruku di sini. Aku kisahkan semuanya.

Pun tentang pengalamanku berenang ke Pulau Legenda di Muko-Muko, berdekatan dengan PLTA Maninjau, tentang kisahku berkunjung ke Tanjung Sani, atau ketika menyaksikan pesona birunya air danau saat aku lihat dari bus Harmonis di kelok ampek-puluah ampek setiap kali kami dapat jatah pulang kampung. Ah, semuanya begitu indah.

Yang paling indah adalah ketika cerpen perdanaku terbit di koran Padang Ekspres tahun 2006. Aku masih ingat, cerpen yang aku tulis di kertas double folio itu diketikkan lagi oleh Bu Silvia, guru bahasaku yang orang Koto Baru, Maninjau itu. Beliau juga yang mengirimkan ke redaksi. Ah! Begitu bangganya aku kala menyaksikan namaku terpajang di halaman sastra koran itu, aku bawa pulang, aku lihatkan pada Amak. Saat itu tangan beliau bergetar hebat, matanya berbinar, pun begitu denganku. Tiba-tiba pipiku memanas, dan dadaku menggelembung saat Amak mengucapkan “Kau hebat, Nak! Sabanta lai yo Nak, waang akan jadi sarjana!”

Ujianku makin berat, dan janjiku makin dekat. Ujian Nasional tertaklukkan sudah dengan NEM 8, 24. Hebat! Begitu komentar Amak dan juga Abak saat aku berkunjung ke rumah istri barunya.

2008 aku ikut SNMPTN. Atau bagi kalian yang lebih dahulu mengenyam asam garam kehidupan dariku mengenalnya dengan nama Sipenmaru. Mati-matian aku mempersiapkan diri. Mengikuti bimbingan belajar bersama Bu Sil dan guru-guru lain, belajar bersama kawan-kawan yang memilih bimbel gratis bersamaku.

Tak sia-sia, aku lulus di Teknik Industri Univ. Sultan Ageng Tirtayasa. Ai! Di mana pula itu? Begitu pikirku dulu, memang saat mengisi formulir SNMPTN aku asal-asalan. Bah! Itu di Banten, Kawan.
Maka berangkatlah aku ke Banten dengan uang pinjaman 1,5 juta dari Uwo Nansir, saudara jauh keluargaku. Masih ingat aku, Kawan. Mata Amak berpendar saat melepasku ke negeri Jawa. Dengan secawan rendang dan semangkuk doa aku berangkat meninggalkan Nagari Atar. Mengejar mimpiku ke tanah Banten.

Hah! Kegilaanku pada tulisan ternyata tak hanyut ketika aku menyeberangi selat Sunda dari Bakauheni menuju Merak. Hobi itu berbawa di bungkusan kain panjang pemberian Amak, atau mungkin tersangkut dan terbang bersama doa-doa Amak lalu diijabah oleh Allah. Entahlah.

Yang jelas aku makin asyik dengan hobiku itu, di sela-sela kuliah aku menulis, mengirimi redaksi majalah, koran, tabloid dengan tulisan-tulisanku. Awalnya banyak yang ditolak. Tetapi seperti kata yang aku kutip tadi tadi, Man jadda wa jada, cerpen-cerpenku terpajang di koran lokal, majalah nasional, dan situs-situs sastra di internet. Honor? Ya, honornya lumayan, dari menulis itulah aku mendapat uang tambahan membeli pulsa. Ternyata aku tetaplah orang Atar yang berdarah Atar! Fotokopi tak aku tinggalkan. Mungkin saat kalian membaca ceritaku ini, aku tengah melayani orang-orang di kedai fotokopi, ya; aku masih karyawan.

Begitulah Allah dengan indah merencanakan hidup untukku. Tak hanya untukku, tapi untuk kalian juga tentunya. Siapa yang bersungguh-sungguh maka dia akan beruntung, mungkin karena kesungguhanku memeluk mimpi dan nasihat Abak-Amak untuk jadi sarjana, maka keberuntungan-keberuntungan itu selalu aku dapatkan.

Saat ini aku telah semester 6. Itu artinya tinggal 2 semester lagi janjiku pada Abak dan Amak akan aku penuhi, Aku ingin mengundang mereka untuk hadir di hari wisudaku. Memperlihatkan pada mereka sebuah jalan yang aku lewati menuju Merak, menuju Banten ini. Semoga aku masih beruntung. [*]

Serang, di ujung deadline, 27 Mei 2011 - 11:43 PM
(* Kalau boleh aku mengutip kalimat Arai dalam film Sang Pemimpi itu, aku begitu terbius dengan perkataanya pada Lintang “Beranilah bermimpi! Maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu."

Keterangan:
[1] Manciak dalam bahasa Minang bearti menangis, dalam hal diartikan tangis pertama ketika terlahir ke dunia.
[2] Level RW
[3] Niar! Mau dibawa ke mana lagi itu si Awan?
[4] Mandi
[5] Sejenis mangga
[6] Bekerja
[7] Mobil sejenis L300
[8] Hiburan musik di kampung-kampung
[9] Pasar
[10] Ternak orang lain yang digembalakan dengan hasil bagi dua
[11] Penggilan untuk guru mengaji




About the Author

Setiawan Chogah / Author & Editor

Penulis buku "SMS Terakhir" | Corporate Communications Dompet Dhuafa Banten | Pemimpin Redaksi biem.co (Banten Muda Online) CP: +62 821 1040 9641

3 komen dari temen² gue:

  1. Wawwwwh...luar biasa storymu, membuatku meridnding membacanya
    Mengingatkan juga pada masa putih merahku :)

    sukses selalu buatmu :)

    BalasHapus
  2. @Desty Das-ril Terima kasih Mbak Desty. Salam kenal ya. Salam sukses! :)

    BalasHapus
  3. Dan Tetap Berdo'a Pada ALLAH...

    BalasHapus

Silakan dikomentari, Sob! : (◠‿◠)