Senin, 21 Januari 2013

Tuhan Maha Baik #2

Setiawan Chogah
Tuhan Maha Baik #2

Brrr... Malam ini, seperti biasa saya selalu sulit untuk memejamkan mata. Insomnia saya kambuh. Saya tidak tahu bagaimana cara keluar dari lingkaran penyakit susah tidur ini. Insomnia itu penyakit bukan sih? Au ah! 

Saat mata ngejreng seperti ini, kegiatan saya palingan bergentayangan di Facebook, Twitter, dan blog walking. Padahal, folder skripsi saya baru berisi tiga buah file saja. Hahaha. Entahlah, berat sekali rasanya mengerjakan sesuatu yang tidak prinsipil. Ya ya ya, bagi saya skripsi bukan sesuatu yang prinsipil saat ini. Saya brengsek sekali ya? Whatever!

Oh ya, dalam satu minggu ini saya merasakan Tuhan begitu baik pada saya. Memang Tuhan selalu baik, sebab Dia Maha Baik, bukan? Tapi saya merasakan Tuhan begitu dekat dengan saya. 

Banyak sekali bukti tangan Tuhan begitu lembut membelai saya. Perasaan saya begitu damai. 

Dulu, saya adalah orang yang gemar sekali mencemaskan hidup. Apakah saya bisa makan? Apakah ada perusahaan yang mau menerima saya dengan IPK yang tidak pernah mencapai 3? Apakah... Apakah... Saya  diliputi keraguan pada kemampuan saya sendiri. 

Tuhan memberikan saya sahabat yang begitu baik. Mbak Erin yang seperti kakak kandung saya sendiri. Bertanya kabar saya saban hari. Saya sangat suka ketika Mbak Erin memanggil saya dengan kata "Adikku". Terima kasih Tuhan, akhirnya saya merasakan bagimana rasanya punya kakak. Belajar bagaimana cara berterima kasih. Belajar untuk selalu ingat kebaikan dan jasa orang lain pada saya. Belajar banyak hal.

Tuhan memberikan Erlang pada saya. Sahabat yang gigih dan tangguh. Sahabat yang menampar saya dengan sikapnya yang 'anggun'.  Setiap Erlang mampir ke toko saya, selalu dengan pertanyaan khasnya yang kadang seperti mempermalukan saya. "Sudah shalat, Da?" Hahaha. Erlang itu ahli ibadah! Pernah saya menunggunya sehabis shalat Jumat. Saya tidak tahu dia shalat sunnah berapa rakaat, yang jelas lama sekali. Saya tidak tahu doa apa saja yang dibaca Erlang setelah sujud terakhir, yang jelas Erlang adalah sahabat saya yang selalu datang dengan wajah tersenyum seperti tanpa beban dalam hidupnya. Kemarin malam saya dan Erlang makan di Mc' D Serang. Saya yang mentraktir, dan sepanjang perjalanan pulang, saya tak mau menghitung berapa kali Erlang mengucap kata 'terima kasih' pada saya saking seringnya. 

Tuhan memberikan saya Kerio, sahabat yang seperti kakak laki-laki bagi saya. Saya memanggilnya Mas Yo. Tapi dia tidak mau dipanggil Mas. Entahlah, Io lebih senang saya panggil Monyet. Hahaha. Tak apa-apa, walaupun panggilan Monyet itu adalah panggilan saya buat Ridho, sahabat juara satu saya. It's Ok, Mas Yo dan Ridho sama-sama juara satu di mata saya. Mas Yo adalah satu-satunya orang yang bisa membuat saya tertawa ketika saya dipanggil dengan kata 'Setaaan, Monyeet, Bodooh'. Hahaha. 

Saya belajar banyak hal dari Mas Yo. Tentang cara memandang hidup, nasib, ambisi, mimpi-mimpi, juga cinta. Mas Yo paling tidak suka kata-kata "Dosa-Pahala, Baik-Jahat, Normal-Abnormal, Surga-Neraka". Bagi Mas Yo, banyak hal-hal kecil di antara kedua pasang kata-kata itu yang harus dikatahui oleh makhluk Tuhan yang bertama manusia. Saya jadi ingat pada percakapan kami di BBM suatu hari. Mas Yo mengatakan saya dungu, lebih dungu dari kerbau, ketika saya bercerita tentang permasalahan hidup saya pada dia. Dari Mas Yo saya jadi tahu, bahwa hidup bukan untuk diratapi. Great! Dari Mas Yo saya belajar tentang kesetiakawanan, tentang menerima takdir, dan tentang cara bersyukur. 

Tuhan memberi saya Uda Nando. Uda adalah salah satu sahabat yang pernah membuat saya berpikir lebih keras tentang rezeki. Barangkali Uda tidak menyadari bahwa di antara komentar-komentar konyolnya saya belajar tentang kegigihan dan keyakinan akan janji Tuhan. Pernah suatu hari Uda nge-BBM saya, "Chogah, udah dhuha belom?" Toweweng! Belum pernah orang bertanya itu pada saya selain Uda. 

Tuhan juga memberikan saya Bude Eno, wanita luar biasa! Mengingat Bude Eno, saya seperti mengingat Ibu. Entahlah... Bude orang yang sangat baik. Bude adalah sahabat yang... ah, saya mau menangis ketika setiap kali mengingat ini; Pernah, ketika saya sangat butuh uang dan pekerjaan. Toko yang saya kelola sekarang belum hak milik saya waktu itu. Tuhan menjawab doa saya lewat Bude. Bude adalah orang yang mengenalkan saya pada dunia editor. Dari bude saya jadi peka dengan ejaan. Pertama kali menerima gaji, jujur, saya menangis. Itu adalah gaji pertama saya. Uangnya langsung saya belikan monitor LED yang sampai saat ini masih mengalirkan manfaat buat saya. Beberapa hari yang lalu saya menelepon Bude, bertanya sedikit banyak tentang edit mengedit. Di seberang sana, saya mendengar suara riang Bude, suara Bude yang membujuk Khalid yang bawel bertanya tentang telepon yang sedang diterima maminya, suara Bude yang 'berisik' membujuk Khalid untuk menyuap makanannya... Suara-suara yang mengingatkan saya pada Ibu... Ya... pada Ibu. :)) 

Hf... Tuhan amat baik. Saya jadi terkenang kalimat Aray pada Ikal tentang pesan ayahnya. Bermimpilah, maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu. Mimpi! Tuhan benar memeluk mimpi saya. Saat ini saya tengah mengedit novelnya Davonar Bersaudara. Itu salah satu mimpi saya dari dulu. Davonar meng-invite saya di BBM, Davonar mem-follow saya di Twitter. Itu seperti mimpi. Tapi itu nyata.

Lalu tentang mimpi saya yang ingin jadi artis. Saya suka tersenyum bila mengingat mimpi konyol ini. Di awal-awal saya kuliah dulu. Baru hitungan bulan menginjak tanah Tirtayasa. Saya sudah berani ikut audisi ini itu. MOKA 3 yang pertama kali membuat saya kenal Jakarta dan Grand Indonesia. Banten Star yang membuat saya jadi tahu rasanya berakting di depan kamera, Cover Quest Aneka Yess yang membuat saya merasakan sensasi luar binasa ketika foto ukuran 3 x 4 saya nongol di majalah. Hahaha. Mimpi-mimpi itu saya pending dengan alasan kuliah. Mimpi-mimpi yang pernah membuat saya jadi bahan tertawaan kawan-kawan di kampus. Hahaha. Mimpi jadi artis.

Saya sudah kenyang ditertawakan. Bagi saya ditertawakan adalah cara lain orang lain mencintai saya. Yaaa, itu artinya mereka masih mau meluangkan waktunya untuk memikirkan saya. Hahaha. Dan Tuhan begitu cerdik memberikan kejutan-Nya buat saya. Saya gagal jadi artis, gagal jadi newscaster di TV lokal, gagal juga jadi model di majalah. Tapi Tuhan mememberikan saya kesempatan untuk jadi peliput berita, memberikan kesempatan saya untuk diwawancara dan foto saya pun muncul di majalah dan koran. Hmmm, Tuhan memang baik. Tuhan Maha Baik.

Terima kasih pada kalian yang telah hadir dalam hidup saya. Yang telah ikut memberi warna, sehingga saya menjadi tahu perbedaan antara merah dengan putih, hijau dengan biru, juga antara gelap dengan terang. Semoga Tuhan membalas kabaikan kalian. Amin. :))







About the Author

Setiawan Chogah / Author & Editor

Penulis buku "SMS Terakhir" | Corporate Communications Dompet Dhuafa Banten | Pemimpin Redaksi biem.co (Banten Muda Online) CP: +62 821 1040 9641

0 komen dari temen² gue:

Posting Komentar

Silakan dikomentari, Sob! : (◠‿◠)