Kamis, 06 Desember 2012

Sudah Ada Kadarnya Masing-Masing

Setiawan Chogah

Sudah Ada Kadarnya Masing-Masing

Siang ini saya sengaja mengutak-atik akun Facebook saya. Beberapa pengaturan saya ubah untuk alasan keamanan. Saya kapok, apalagi pasca kasus saya dengan Mas FZ, saya jadi malas mengintip Facebook. Hanya sekadar setor status, upload foto, lalu saya abaikan. Komen-komen ‘rempong’ dan serius banyak yang tidak saya tanggapi. Begitu juga chat dan inbox. 

Siang ini, entah mengapa, hati saya tergerak untuk mengklik icon message di pojok kiri halaman Facebook saya. Rentetan pertanyaan seputar kasus saya beberapa hari yang lalu masih mendominasi. Dari yang turut prihatin, memberi semangat, sampai yang menghujat dan mengatai-ngatai saya. :))

Saya hanya tersenyum. Atau mungkin lebih tepatnya mencoba berdamai dengan keadaan. Jujur, saya akui saya sakit sekali dengan kejadian ini. Tiga hari yang lalu sakit itu masih begitu terasa, konsentrasi saya menjadi terganggu dengan komentar-komentar ekstrim dari beberapa sahabat Mas FZ. Istirahat saya menjadi tidak maksimal, gelisah, kadang merasa bersalah. 

Semalaman saya berpikir tentang ini. Saya mencoba membongkar memori saya tentang Mas FZ. Tidak ada yang istimewa dengan perkenalan kami. Saya telusuri jejak percakapan saya dengan beliau, tidak ada yang aneh. Kami hanya pernah terlibat obrolan singkat di inbox sekitar satu tahun yang lalu, saat saya mengirimkan tiga cerpen saya ke media beliau. Hanya itu. 

Lalu ketika secara tiba-tiba Mas FZ menyatakan kemarahannya pada saya gara-gara status Twitter saya yang terintegrasi ke Facebook, sungguh membuat saya meradang. Apalagi setelah membaca komentar sahabat-sahabatnya Mas FZ yang tidak seharusnya berkomentar (karena mereka tidak tahu apa yang mereka komentari), saya ingin meledak sebenarnya. Yang lebih membuat saya bertanya-tanya, status Mas FZ menjadi ramai dengan komentar, sementara tidak satu pun yang berani me-mention saya di sana. Semua berkomentar sesuka hati dan mengaitkan kasus saya dengan masalah karya, eksistensi, juga iri dan dengki gara-gara cerpen saya tidak pernah tebus media Mas FZ. Apa pasal? Entahlah... Pantas saja, hari itu inbox Facebook saya jadi ramai, begitupun dengan BBM. 

Tapi, saya kembali berpikir lebih dalam. Saya merapa-raba, yang pada akhirnya membuat saya sampai pada titik ini. Saya termenung sangat lama, membaca beberapa inbox yang mengabarkan kondisi Mas FZ. Beliau lagi sakit.... 

Ah, saya menjadi sangat kecil sekali. Ini adalah teguran paling bijak yang diberikan Tuhan pada saya melalui seorang FZ. Saya membaca kembali status saya yang membuat Mas FZ begitu dibaluti amarah, status itu memang keras, walau tidak ada satu kata pun yang menyatakan kalau status itu saya tujukan pada beliau. :)) Padahal saya tidak pernah diajarkan untuk melakukan kekerasan. Lalu siapa yang salah? Entahlah... Jawabannya tidak ada. 

Inbox-inbox itu saya skip, bukan bermaksud tidak mau menjawab tanya, tapi saya berpikir itu adalah cara terbaik yang saya lakukan saat ini. Birkan mereka mencari tahu sendiri, bila benar-benar ingin tahu yang sebenarnya terjadi. 

Tapi, satu inbox yang menggelitik saya untuk menberikan jawaban. “Uda, kenapa gak nulis cerpen lagi? Kapan lagi cerpennya dimuat di S****? Ada salam dari Mak Wo, dia suka bgt sama tulisan Uda.” 

Saya mengulas senyum. Entah senyum ini merupakan refleksi dari kenarsisan saya atau justru ini satu-satunya inbox yang bernada lain dari inbox sebelumnya. Saya juga tidak tahu. Yang pasti, saya senang membaca inbox yang satu ini. 

Baiklah, mengenai mengapa saya berhenti menulis cerpen, saya akan menjawabnya dengan tiga versi. Versi serius, setengah serius, dan serius banget! 

Saya masuk ke dalam dunia penulisan sekitar tiga tahun yang lalu. Saya lahir di Annida, lalu dibesarkan oleh Story (aih, ini pengakuan saya yang paling berani mengatakan saya besar). Di awal-awal saya menulis, saya memang seperti orang kecanduan. Tiada hari tanpa menulis cerpen. Lubang hidung saya akan mengalami osmosis ketika di kampus teman-teman memanggil saya dengan sebutan “Bapak Teknik Sastra”. Saya bahkan berani mengatakan bahwa saya bercita-cita menjadi seorang penulis! 

Lalu masalahnya di mana? Hk! Akhir-akhir ini saya berpikir, lalu menyimpulkan sendiri bahwa cinta-cita menjadi penulis itu sangat tidak realistis. Oke... oke, itu pernyataan saya untuk saya sendiri, saya tidak bermaksud menyinggung siapapun. :)) 

Saya ini orang yang high demanding, mimpi-mimpi saya terlalu besar. Tadi, dengan menjadi penulis cerpen, mimpi-mimpi itu bisa saya gapai. Ternyata tidak, dunia penulisan tidak senyaman itu. Manusia tetap butuh makan, butuh hang out, butuh jalan-jalan, butuh shopping; dan saya menyatakan diri saya adalah manusia. Dengan menulis cerpen, saya tidak bisa mendapatkan itu semua (saya lho, yaa, tentu lain hal dengan orang lain), ada pekerjaan lain yang bisa saya kerjakan untuk mendapatkan itu semua. Inilah jawaban serius saya. 

Bekerja dan menjadi entrepreneur, bukan bearti serta merta memangkas semua waktu saya untuk menulis satu cerpen dalam satu minggu. Tentu saja! Saya masih menulis kok, hanya saja, saya mencoba untuk menekan kadar narsis saya yang sangat over ini. Terkadang saya suka malu mengaploud gambar tulisan saya ke Facebook. Facebook itu tempat umum, dan semua orang bebas untuk melihat dan berkomentar. Pernah saya memosisikan diri saya sebagai pengguna Facebook biasa. Rasanya kok saya narsis sekali? Kok bangga nian? Kok seperti haus pujian? Perlahan-lahan, saya berhenti mengapload gambar yang berhubungan dengan cerpen ke Facebook, juga tidak mau lagi menandai friendlist saya di gambar-gambar itu. Ketika saya meng-tag mereka, otomatis kadar narsis saya akan bertambah, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan saya akan menjadi sampah di beranda teman-teman saya. Hahahaa. Ada kejadian lucu, salah seorang teman saya protes. Dia bilang begini, “ Gah! Lu narsis amat sih! Tiap gue buka efbe, yang nongol elu lagi eluu lagi. Bosen tau!” Saya hanya ngakak, ngakak padahal bete sekali dibilang begitu. :p Inilah jawaban setengah serius saya. 

Saya memang mencintai dunia penulisan. Cinta sekali. Dengan menulis, saya menjadi kaya dengan teman. Teman saya ada di mana-mana. Oktober lalu, waktu saya nekat kabur ke Bali. Tujuan awalnya adalah untuk sekadar tahu Bali; saya ingin sekali melihat Denpasar itu seperti apa, benarkah di Kuta saya bisa menemukan bule-bule berbikini, juga ingin menginjakkan kaki di Ubud yang sangat hijau itu, atau berfoto di monumen Bom Bali di Legian St. Tapi ternyata, di Bali saya bertemu Guntur Alam, orang yang membuat saya kekeuh untuk bisa menulis cerpen ketika membaca tulisannya di Annida dulu, juga bertemu Mbak Sannie B Kuncoro, Bang Saut Poltak Tambunan, Kang Acep Zamzam Noor. Bahkan Bang Saut yang baru pertama kali saya temui, begitu ramah mengajak saya ‘numpang mandi’ di penginapan beliau, berenang sepuas hati. Yang paling mengharukan ketika Rika Riyanti dan Paulus Nugroho (ilustrator majalah Story) sengaja datang dari Denpasar dan Sanur, naik motor ke Ubud di malam penutupan UWRF. Paulus sengaja membawa koleksi majalah Story-nya yang memuat cerpen-cerpen saya untuk saya tandatangani. Edan! Ini sangat edan menurut saya. Juga Rika yang memberikan sandal asli Bali dan kacang Bali untuk saya bawa ke Serang sebangai oleh-oleh. Atau Teh Adel yang mau mengantarkan saya ke Monkey Forest dan mengizinkan saya menginap di mobilnya. Oh Tuhaan, limpahkanlah rizki-Mu pada mereka. Amin. 

Alasan-alasan itu yang membuat saya merasa beruntung sekali merasa bisa menulis cerpen. Tapi... untuk saat ini saya memutuskan, bahwa menjadi cerpenis sejati bukanlah jalan hidup yang tepat untuk saya. :)) Saya tetap terjun ke dunia penulisan, tanpa harus eksis menulis cerpen. Alhamdulillah! (pakai tanda seru), cerpen menjadi jembatan bagi saya untuk memasuki gerbang lain. Beberapa bulan yang lalu saya menjadi editor di sebuah penerbitan (nuhuuun pisan Budhe), walau pada akhirnya saya melepaskan profesi itu, juga masih menjadi kontributor berita di beberapa media. 

Apapun keputusan saya sekarang, apapun pekerjaan saya saat ini; tidak akan terlepas dari yang namanya masalah. Hanya kadarnya saja yang berbeda. Semua profesi mempunyai kadar masalah masing-masing, termasuk menjadi penulis cerpen. Seperti kasus saya itu. Heheheee. 

Bhayangkara, 6 Desember 2012. Akhirnya Serang hujan juga. :)) 

About the Author

Setiawan Chogah / Author & Editor

Penulis buku "SMS Terakhir" | Corporate Communications Dompet Dhuafa Banten | Pemimpin Redaksi biem.co (Banten Muda Online) CP: +62 821 1040 9641

0 komen dari temen² gue:

Posting Komentar

Silakan dikomentari, Sob! : (◠‿◠)