Senin, 03 Desember 2012

Orang Dewasa Tak Boleh Takut!

Setiawan Chogah
Orang Dewasa Tak Boleh Takut!

Jika ada lelaki mentah, pulas dengan dengkur halus ketika malam tak lagi muda, jelas itu bukan saya. Ya, saya penderita insomnia akut. Entah bermula dari mana, saya pun tidak tahu, dan tak ada niat untuk mencari tahu. Namun lain soal dengan insomnia saya semalam....

Jam di ponsel saya menunjukkan angka 11.55 PM. Langit Kota Serang menguning berhias bulan berwarna gading. Ada Fandi dan Dony di samping saya, sengaja kami menghabiskan malam di Alun-alun Barat, lalu menikmati makan malam di angkringan depan Pendopo Gubernur. Bukan hal yang aneh, kan, makan malam selarut ini bagi darah muda seperti kami?

Lima menit berikutnya, BB saya bergetar, berkedip-kedip, pertanda ada pesan masuk. Awalnya BBM, lalu disambung nada SMS, Facebook, dan mention di Twitter. Saya mengulas senyum, mengulum haru ketika membaca bermacam-macam gaya ucapan selamat ulang tahun dari para sahabat saya.

Ya... malam ini genap sudah 23 tahun saya mengahabiskan jatah hidup yang diberikan Tuhan. Memasuki gerbang 24, tiba-tiba saja saya menjadi takut. 24 bukanlah angka yang kecil, bukan?

Saya membuang pandang ke langit luas. Mematut diri. Siapa saya, dan kemana tujuan saya sebenarnya? Tak ada jawaban, ah, bukankah tidak semua tanya punya jawaban? Saya pun jadi bosan bertanya. Saya lebih menikmati apa yang bisa saya nikmati sekarang, tentang tanya apakah besok saya akan makan, apakah besok saya masih bernapas, apakah kelak saya bisa menjadi apa yang diharapkan keluarga, apakah ada perempuan yang mau menikah dan memiliki keturunan dengan saya? Pertanyaan-pertanyaan yang tak butuh jawaban.

Bertambahnya usia menuntut saya untuk jadi dewasa. Sejujurnya saya tidak menyukai menjadi dewasa. Dewasa itu tidak bebas! Dewasa membuat saya tidak bisa tertawa lepas, dewasa membuat pusing sebenarnya. Dewasa, dewasa, dewasa... Saya benci dewasa, tapi harus menjadi dewasa.

***

Saya sudah kembali ke toko, toko sekaligus kamar saya, tempat saya merangkai angan, merajut mimpi, tempat saya berkeluh kesah, merengek pada Tuhan, juga tempat saya menatap bingkai-bingkai foto di dinding saat rasa rindu pada Mak, Mak Wak, adik-adik mencuat di penghujung malam.

Saya pernah berpikir, andai jatah waktu yang dijanjikan Tuhan tiba, dan saya mati di ruang ini, barangkali ketika bangkai saya telah membusuk, baru orang-orang akan menemukan saya terbujur kaku, sendiri. Ah, terkadang pikiran-pikiran ekstrim itu begitu mengganggu saya.Padahal apalah arti sebuah kehidupan, kalau bukan berujung pada sebuah kematian. Sesuatu yang hidup pasti akan mati, kan?

Seringkali, saat mata saya mengalah, lelah, dan mungkin juga bosan menangkap pemandangan monoton di sekeliling saya, saya suka mengajaknya memejam beberapa menit. Bersimpuh di sajadah dengan kepala tertunduk, bercerita tentang apa saja pada Tuhan. Tentang betapa sulitnya untuk menanggalkan gelar mahasiswa dari diri saya, tentang toko yang sepi pelanggan, tentang keinginan saya menaikkan berat badan, tentang hasrat menghilangkan pitak, tentang harapan memiliki pacar, tentang semuanya... tentang dosa-dosa, yang pada akhirnya saya menjadi pandai dan hobi menangis...

Bayangan tentang surga dan neraka suka sekali mengusik ruang pikiran saya. Apakah kelak saya bisa melihat surga, atau justru meraung kesakitan di neraka? Ah, saya selalu berusaha untuk menjadi orang baik, tapi...

Orang baik tidak pernah menyebut dirinya baik. Ya, saya tidak akan mengatakan kalau saya orang baik. Banyak sekali yang membenci saya. Mengapa saya dibenci? Karena saya berbuat salah!

Sehari sebelum saya berada di lingkaran 24 ini, sebuah peristiwa sadis menohok ulu hati telah sukses membuat saya kembali berpikir tentang surga dan neraka. Hfff... ternyata hidup ini begitu keras. Sekalipun saya berkata saya kuat, kenyataannya saya tetaplah rapuh. Saya berkata saya orang baik! Rupa-rupanya ada orang lain yang tersakiti oleh tabiat saya. Inikah yang namanya hidup? Saya bertanya pada Tuhan. Tentu saja. Inilah yang disebut dinamika kehidupan, semuanya bergerak. Seperti air yang mengalir, api yang berkobar, atau angin yang bertiup. Saya menjawab tanya saya sendiri. Badai datang kapanpun dia mau. Dan mengahadapi badai kita harus begerak, bukan diam....

Ya, saya harus bergerak, terus melangkah....

***

Dengan malas saya mengutak-atik folder foto-foto di netbook saya. Mengamati roman-roman saya dari masa ke masa. Sesaat saya menatap lama, lalu tersenyum, terpingkal, dan cercenung, merenung... Banyak sekali yang berubah. Ah, berubah! Saya jadi teringat perkataan Fandi pada saya suatu siang. “Gah, lu sekarang beda banget ya.” “Beda apanya?” saya bertanya. Dan jawaban Fandi membuat saya terdiam beberapa detik, diam dan berpikir dalam. “Lu sekarang banyak ngeluh, padahal mah udah nyaman begini.”

Hm, nyaman... Benarkah sesuatu yang nyaman itu ada di dunia ini? Fandi tidak tahu, betapa tidak nyamannya saya dengan hidup saya. Otak saya bekerja keras, menolak hal-hal yang terlihat nyaman saya lakukan, padahal tidak. Saya begitu gelisah dengan keadaan diri saya. Justru saya ingin hidup seperti Fandi dan sahabat-sahbat saya yang lain. Hidup mereka nyaman sekali! Tinggal bersama kedua orangtua, di rumah sendiri. Tidak perlu memikirkan besok bisa makan apa tidak, mereka tinggal belajar dengan baik, dan membuat orangtua mereka bangga. Nyaman bukan? Sementara saya? Saya belum juga berhasil menyematkan dua huruf kapital di belakang nama saya. S.T. Saya harus berpikir bagaimana bisa memenuhi utang-utang saya ketika tagihan datang, membayar listrik dan uang sewa toko, membayar cicilan ini, itu... sangat tidak nyaman, bukan?

“Tapi lu kan bisa,” kata Fandi pada saya. “Tapi... yaa, tetap saja tidak senyaman yang lu pikirin, Fan!”

Ah, saya terlalu takut dengan hidup saya. Takut dengan IPK yang tidak pernah mencapai tiga koma, takut apakah ada perusahaan yang mau menampung saya setelah lulus nanti, apakah saya bisa hidup dengan gaji dua juta di Jakarta, takut... dan selalu saya dihantui ketakutan. Saya selalu melihat orang lain lebih nyaman hidupnya dibandingkan saya.

Saya bermimpi ingin bekerja dengan kemeja berdasi. Itulah alasan saya untuk terus belajar. Betapa nyamannya duduk di belakang meja di ruangan sendiri, berangkat pagi dengan setelan rapi lagi wangi, lalu sore-sore kembali ke rumah dan menghabiskan malam bersama keluarga... Ideal sekali! Saya jadi teringat dengan pesan guru SD saya dulu, “Nak! Bagaimanapun susahnya hidup, namun jangan pernah mau putus sekolah! Berjuanglah, tak apa mencari orangtua angkat asal mau menyekolahkan. Sekolah itu bukan untuk kaya, Nak. Tapi paling tidak nanti Anak bekerja tidak dengan pakaian kotor. Tidak berlumpur seperti ayah dan amak kalian. Kalian bisa bekerja dengan pakaian yang bersih.” Benarkah demikian? Mungkin saja....

Ah, apapun itu. Saya tak mau lagi takut menatap hidup. Orang dewasa tak boleh takut! Memilih hidup bearti memilih jadi pemenang. Karena hidup adalah untuk menang. Hidup bukan untuk berjuang, karena berjuang tidak akan pernah bisa merasa nyaman. Sedangkan menang? Tidak juga, pemenang selalu membuat iri, bahkan dibenci. Jadi, bagaimana? Jalani saja! Memiliki Tuhan saja sudah lebih dari cukup, bukankah kita punya senjata ampuh untuk mengusir rasa takut? Berdoalah, dan amini doa sahabat-sahabat kita. Selamat ulang tahun, Ded! April udah harus wisuda!!! 












About the Author

Setiawan Chogah / Author & Editor

Penulis buku "SMS Terakhir" | Corporate Communications Dompet Dhuafa Banten | Pemimpin Redaksi biem.co (Banten Muda Online) CP: +62 821 1040 9641

0 komen dari temen² gue:

Posting Komentar

Silakan dikomentari, Sob! : (◠‿◠)