Selasa, 12 Juni 2012

I wish to be a teacher

Setiawan Chogah
I wish to be a Teacher


Mei 2008. Sudah 4 tahun saya meninggalkan zona waktu itu. Rasanya baru kemaren saya lulus SMA. Yaa yaaa, mungkin inilah yang dimaksud Einsten dengan relativitas. Saya masih begitu hapal wangi seragam SMA saya yang gagah itu. Dengan panggat di bahu, dan sepatu hitam yang mengkilap. 

Gagah? Hahahaaa. Saya suka tertawa ketika iseng-iseng membuka folder foto-foto jaman saya SMA. Dengan balutan seragam ala militer itu saya memang terlihat gagah kok. Oke, saya sudah siap kalau kalian pasti tidak setuju bagian ini. Tapi saya tidak peduli, wong Amak saya juga bilang kalau dulu itu saya gagah. Itu artinya saya memang gagah. Titik!

Tapi waktu itu impian cita-cita saya tidak segagah penampilan saya, suka plin-plan. Saya suka heran, dulu, setiap kali ditanya soal cita-cita, setiap kali itu juga jawaban saya berbeda-beda. Waktu SD saya pingin jadi dokter (padahal saya tidak tahu yang namanya dokter itu seperti apa, wong ke rumah sakit aja belom pernah), saya juga pernah bercita-cita ingin jadi pelukis handal gara-gara waktu kelas 4 SD saya menang lomba lukis tingkat kabupaten Tanah Datar, di kampung saya Sumatera Barat sana. Lalu saya juga pernah berkeinginan untuk jadi seorang artis (untuk mewujudkannya, beberapa kali saya pernah ikutan ajang pemilihan bakat di Jakarta dan di kota saya saat ini, Serang-Banten; tepuk tangan dong buat saya :))), saya juga pernah bermimpi untuk jadi dai kondang gara-gara ketua dewan pembina saya waktu sekolah di Agam Cendekia bilang saya berbakat jadi pendakwah. Woow! 

Ternyata dari kesemua cita-cita saya yang gak pernah konsisten itu, saya pernah punya keinginan untuk jadi seorang guru. Hei! Saya baru ingat itu barusan, ketika saya melihat kembali foto-foto di folder komputer saya. Hahahaaa. Oh Tuhan, saya ini benar-benar aneh. 

Saya ingat! Kalimat itu pernah saya ucapkan waktu interview test beasiswa REI ke Amerika, 4 tahun yang lalu. Yaaa, saya hanya bisa mengulum senyum ketika mengingat potongan episode paling jaya dalam hidup saya ini. Saya pernah bercerita di note saya yang lain, kalau waktu SMA itu saya tergolong siswa yang cerdas *ehmmm*. Buktinya waktu itu saya dipilih oleh yayasan (tentunya atas rekomendasi dari pihak sekolah) untuk ikut test beasiswa ini. Kalau saya tidak lupa, saat itu ada 20 siswa yang diuji, lalu mengerucut menjadi 8, lalu difilter lagi menjadi 5 calon, lalu jadi 4, dan saat itulah saya tersisih dan gagal menginjakkan kaki di tanahnya si Obama itu. Yang berangkat ke Amrik hanya 3 orang, dan beruntung itu teman saya Ruddi Nefid, Mas Nugroho, dan soulmate saya Chevy S Saputra. Awalnya sih cukup menyedihkan buat saya. Saat itu saya benar-benar diuji, gagal ke Amrik, tidak lulus tes IPDN, dan masalah internal kelurga yang tertubi-tubi. Saya sempat down dan memutuskan untuk mengantung cita-cita yang saya sebut di atas tadi.

Kembali ke test beasiswa REI ke Amerika tadi. Potongan-potongan adegan ketika saya diwawancara oleh dua orang bule berambut pirang itu masih bisa saya saksikan dalam ruang ingatan saya. Mr. Eddy Ruble dan Mrs. Janet Williams, yaaa, mereka yang menginterogasi saya dalam bahasa Inggris. Walaupun waktu itu bahasa Inggris saya gak jelek-jelek amat (kalau sekarang, tidak diberitahukan pun semua orang sudah tahu kalau di otak saya punya tersisa kata I, love, You, and, thank you) saya tetep deg-degan di detik-detik awal duduk berhadapan dengan mereka.

Tapi lama-lama saya menikmati juga percakapan kami. Jannet dan Eddy begitu baik, pertanyaan-pertanyaan yang mereka lontarkan ternyata diluar dugaan saya sebelumnya. Mereka cuma menanyakan tentang ayah saya, ibu saya, dan impian saya saat itu. Yaps, impian. Ketika itu saya menjawab," I wish to be a teacher," kalimat itu terlontar begitu saja. Saya sudah katakan, jawaban saya selalu berubah-uba setiap kali orang menyanyakan cita-cita saya. Ya, itu kan hanya sebuah impian. I wish... I wish...

Jadi guru? Saya berpikir lagi tentang jawaban saya waktu itu. Saya mau jadi guru. Jadi guru itu pasti menyenangkan. Setiap hari bertemu dengan banyak orang, saya suka dengan keramaian. Saya suka berdiskusi. Aha! Sepertinya cita-cita yang tak sengaja saya ucapkan dulu ini, cocok juga untuk karir saya setelah lulus nanti.

Tapi tunggu, kalau saya jadi guru, saya akan mengajarkan tentang apa kepada murid-murid saya? Matematika? (oh tidaaaak, saya begitu membenci angka-angka), fisika? (masih ada angka-angka kan?), biologi? (mustahil, tidak satu pun mata kuliah saya yang berkaitan dengan biologi). Kalian pasti menjawab, "Ajarin aja apa yang lo pelajarin sekarang!" Heuheuheu. Mengajarkan murid-murid bagaimana merancang sebuah meja belajar yang ergonomis? (cukup 4 tahun ini saya salah masuk kamar, jangan ditambah lagi, Tuhaan, Plissss.) 

Tidak ada yang tahu kelak saya akan akan menjadi apa. Walaupun saat ini ngos-ngosan mengejar gelar sarjana teknik, belum tentu pekerjaan saya akan berhubungan dengan background teorical saya. Bisa jadi saya jadi jurnalis, artis (mau bangeet), dai, atau jangan-jangan kesampaian juga jadi guru. Hanya Dia yang tahu. 

Bhayangkara, 12 Juni 2012. (sepertinya saya mengalami kelelahan muskuluskeletal, punggung ini pegal sekali... )


About the Author

Setiawan Chogah / Author & Editor

Penulis buku "SMS Terakhir" | Corporate Communications Dompet Dhuafa Banten | Pemimpin Redaksi biem.co (Banten Muda Online) CP: +62 821 1040 9641

10 komen dari temen² gue:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. Hampir semua orang waktu kanak-kanak kalo ditanya cita-citanya selalu ganti-ganti sesuai arah angin berhembus hahaha

    BalasHapus
  3. @Fila

    jangan bilang lo nyama-nyamain gue :p hahahaaa

    BalasHapus
  4. idiiih, siapa yang nyama-nyamain lo. Waktu kecil, gue pernah bercita-cita jadi dokter, trus cita-citanya berubah pengen jadi penjahit trus pengen jadi karyawati, dan pengen jadi guru. Cita-cita jadi guru cuman bertahan sampe kelas 2 SMA. Daaaan, sekarang gue terdampar di fakultas MIPA jurusan Biologi. Gak sama kan? Gaaak. Hehehe

    Sesi curhat kelar. :D

    BalasHapus
  5. @Fila

    Ya ampuuuuun, tuh kaaan lo nyama-nyamain guh, pileeeh. lo lo lo lo tuih, ah... gue kecewa sama lo. kita putus!

    BalasHapus
  6. Putus? Kenapa gak dari duluuu. Eh seti kapan gue jadian. elu kali jadi-jadian hahaha
    gue santet lo *bakar menyan

    BalasHapus

Silakan dikomentari, Sob! : (◠‿◠)