Rabu, 16 Mei 2012

Ketika Saya Mengaku Kalah

Setiawan Chogah

Ketika Saya Mengaku Kalah

Semalaman saya berpikir, sebuah kejadian yang boleh saya katakan sangat langka dalam beberapa tahun terakhir ini. Memang, sudah menjadi kebiasaan saya, atau mungkin lebih tepatnya pelarian yang kemudian menjadi kebiasaan. Saya tidak mengerti, ketika selama ini saya selau berusaha terlihat tegar dengan ‘kekalahan’ yang saya dapatkan dalam 4 tahun berkompetisi. Ya! Bagi saya ini tidak ubahnya seperti sebuah kompetisi. Dan sebagai pihak yang kalah, maksud saya yang tidak terbiasa kalah, saya seperti diajarkan mencari celah untuk tidak mengakui kalau sebenarnya saya sudah kalah. Sangat kalah.

Hari ini, 15 Mei 2012. Selasa. Mungkin akan menjadi salah satu hari yang tidak akan pernah saya lupakan. Dimana ketika saya menonton kekalahan saya sendiri, dan saya hanya bisa tertawa. Bodoh memang, tapi itulah kenyataannya. Ya sudahlah! Tapi, tunggu. Beberapa tahun terakhir ini kata “Ya sudahlah’ selalu bisa membuat saya tenang ketika saya berhadapan dengan kekalahan. Ujian semester yang gagal, indeks prestasi saya yang memalukan, belum lagi kekalahan-kekalahan saya dalam hal spritual. Ah, betapa berdosanya saya. Saya tidak sanggup menghitung, apabila saya mengakumulasi dan waktu bisa dibuat berwujud, entah berapa wadah yang saya butuhkan untuk menampung jumlah waktu saya  yang alpa mengingat Dia. Saya sangat ‘kering’ dan gelisah. Tidak seperti saat-saat saya remaja dulu. Entah mengapa, ego begitu menguasai saya saat ini. Saya menjadi malu untuk menangis, hal yang sering saya lakukan dulu. Saya masih ingat, ketika di awal-awal keberadaan saya di SMAN Agam Cendekia, saya stres dengan nilai-nilai ulangan saya yang sering kali harus remedial. Saya sering mengunci diri di kamar mandi, lalu membayangkan wajah ibu saya, lalu saya terisak, menangis sepuas hati saya, dan kemudian saya akan lega.

Hal itulah yang sempat saya pikirkan, bahwa menangis itu sebuah kebodohan. Terlalu cengeng bagi seorang laki-laki bila harus menangis hanya demi deretan angka-angka itu. Saya mencoba membuat paradigma tentang nilai bukanlah sesuatu yang layak untuk diagungkan. Oke! Saya berhasil mebuat otak saya untuk men-set pemikiran yang seperti itu. Saya biasakan untuk melihat permasalahan dari satu sisi yang sayang anggap paling benar bagi saya. Saya tidak memikirkan orang lain, ibu saya, ayah saya, sahabat saya, dan....Tapi pada akhirnya saya tahu, bahwa hati tidak bisa dikecoh. Saya tidak mau mengakui kalau saya ‘bodoh’, maka saya ber-excuse yang macam-macam. Saya kan bekerja, saya kan menulis, saya bisa hidup dengan usaha yang saya jalankan sekarang, saya pun bisa punya banyak teman dengan kegiatan menulis saya. Saya tidak pernah lagi bercerita dengan Tuhan, saya juga tidak pernah lagi merengek pada Dia. Hidup saya menjadi sangat idealis!

Awalnya saya berpikir, pencapaian-pencapaian saya selama beberapa tahun ini adalah prestasi yang patut membuat saya menjadi layak untuk menepuk dada. Tapi ternyata saya salah. Bukan itu sebenarnya yang saya cari. Ada hal lain yang lebih esensial yang saya pikirkan. Saya sungguh sedih dan menyesal, betapa kelalaian, dan pelarian saya selama beberapa tahun ini ternyata sudah begitu menumpuk, lalu luber kemana-mana, malam hari ini.

Saya selalu mendongak ketika saya melihat tulisan-tulisan saya di majalah, koran, atau apapun itu. Dan banyak yang menyebut itu keren. Tapi..., bukan itu yang yang saya cari sebenarnya. Mungkin ini bodoh. Tapi biarlah, saya sudah terbiasa untuk tidak terpengaruh dengan perkataan orang. Hidup mengajarkan saya untuk mandiri dan percaya dengan diri saya sendiri. Saya tahu, saya sanggup. Saya bisa seperti teman-teman saya yang hari ini sudah membuat ibu dan ayah mereka tersenyum dengan janji yang sudah mereka tebus di waktu yang tepat.

Kalau saja dari awal saya tidak terlalu banyak beralasan, mungkin tidak seharusnya saya menertawakan kebodohan saya sendiri, ketika diadili teman sendiri.

Memang, saya mengaku, semenjak saya aktif menulis, teman-teman saya ada dimana-mana. Tapi hal itu berbanding positif dengan orang-orang yang ‘tidak senang’ dengan saya. Ini bukan spekulasi saya semata. Saya sudah katakan, ini adalah kompetisi, dan dalam kompetisi harus ada yang eksis dan ada yang kalah. Oke, saya rasa ini bukan bahasan yang bagus.

Kalau boleh saya jujur, sungguh saat ini saya tengah berada dalam kebimbangan yang bagi saya sangat sulit untuk menerjemahkannya ke dalam bahasa saya. Saya tidak tahu, kebimbangan saya ini tentang apa dan untuk apa? Yang jelas, hati kecil saya berkata ‘ini tidak baik untuk saya. Saya bisa mati bediri kalau lama-lama menjalankan hidup saya yang seperti ini. Saya sering tidak tenang, waktu istirahat saya menjadi tidak optimal, dan otomatis ini berkaitan dengan kesehatan saya. Oke, tidak perlu berbicara sebias itu, ambil saja hal yang paling sederhana.

Dulu saya sangat enjoy dengan kehidupan saya. Saya sangat menikmati hidup, walau terkadang sering juga hidup membuat saya menjadi lelaki cengeng. Tapi sekarang banyak hal yang membuat saya ‘merasa’ tidak tenang dengan kehidupan saya. Saya risau dengan kalimat-kalimat alay di facebook, postingan yang tidak sesuai EyD, atau ketika menerima kritikan pembaca atas tulisan saya. Diskusi soal ini, itu, dan hal-hal yang ‘sedikit-banyak’ membuat saya meluangkan waktu untuk memikirkan hal-hal sekecil itu. Saya juga harus menyiapkan mental saya agar siap dengan hal-hal itu tadi.

Sebenarnya permasalahannya cuma satu. Hati! Ya, sudah saya katakan. Saya berubah menjadi sosok yang mengedepankan ego. Saya selalu mencari-cari alasan untuk pembenaran pikiran dan tindakan saya. Bah! Raga saya seperti dihuni oleh jiwa yang berdeda. Ini bukan saya, Tuhan! Saya tidak seperti ini. Saya kenal betul siapa diri saya kok.

Beberapa hari ini saya cukup interest dengan yang namanya ‘ilmu ikhlas’. Beberapa referensi saya baca, dari beberapa latar budaya dan agama. Saya baca tentang ajaran welas asih-nya Budha, tentang ajaran kasih Isa Almasih, dan tentunya tentang keyakinan saya sendiri sebagai seorang Muslim. Saya rasa tidak ada yang salah mempelajari ajaran kepercayaan orang lain, selama hati masih masih mengaku pada satu kepercayaan dan kita benar-benar ‘ada’ untuk kepercayaan kita.

Akhirnya saya sadar, saya bukan siapa-siapa. Saya manusia yang pernah hidup dari mimpi, mimpi menjadi besar, menjadi orang baik, menjadi sahabat banyak orang. Saya sempat dikalahkan oleh pikiran-pikiran ‘jahat dan pecundang’ saya. Saya pernah dimuat malu oleh ego saya yang berlebihan. Saya sempat dibuat tidak bahagia dengan pilihan-pilihan yang otak saya pikirkan itu adalah pilihan yang paling tepat, tapi hati saya mengatakan lain. Saya sempat dikuasai sifat munafik. Astagfirullah. Ampuni, ampun, ampun..., ampun ya Rabb.

Besok; saya ingin menjadi diri saya yang baru. Saya yang asli, saya yang bisa menikmati hidup, saya yang dicintai sahabat-sahabat saya. Maafkan saya, selama ini saya telah melupakan kalian.

Kepada sahabat-sahabat yang pernah saya sakiti, sahabat-sahabat yang menilai saya terlalu pongah dan amensia akan diri saya benenarnya. Tolonglah maafkan saya. Saya minta maaf. Sungguh, maafkan saya.

(*Untuk sahabat-sahabat saya SDN 15 Atar, SMPN 2 Padang Ganting, SMAN 1 Harau, dan SMAN Agam Cendekia, dan kalian yang pernah mesra dengan saya. Sungguh, saya rindu saat-saat kita bersama. :)

Bhayangkara, 2:44 dini hari. 

About the Author

Setiawan Chogah / Author & Editor

Penulis buku "SMS Terakhir" | Corporate Communications Dompet Dhuafa Banten | Pemimpin Redaksi biem.co (Banten Muda Online) CP: +62 821 1040 9641

7 komen dari temen² gue:

  1. Bener-bener dari hati nulisnya ya, Mas. Sampe berkaca-kaca juga (mungkin) ^^
    *sotoy

    BalasHapus
  2. @Peri Hujan:

    Wekekeee, hasil muhasabah diri semalam. Hohoooo. *sambe berbedak juga malah :p* *umpetin kaca*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hohooo tapi sipp sukasuka :p
      Heuuh pantes tepung di dapur tinggal plastiknya doang, spion juga ilang... :/

      Hapus
  3. Patah tulang ya bang? Hoho *pletak

    BalasHapus

Silakan dikomentari, Sob! : (◠‿◠)