Sabtu, 14 April 2012

Di Balik Fenomena Menjamurnya Komunitas Penulis

Setiawan Chogah
Di Balik Fenomena Menjamurnya Komunitas Penulis
(eLKa Sabili, 15 Maret 2012)


*Oleh Setiawan Chogah 

Kata komunitas yang bearti sebuah kelompok sosial dari beberapa organisme yang berbagi lingkungan, umumnya memiliki ketertarikan dan habitat yang sama. Dalam komunitas manusia, individu-individu di dalamnya dapat memiliki maksud, kepercayaan, sumber daya, preferensi, kebutuhan, risiko dan sejumlah kondisi lain yang serupa. Komunitas berasal dari bahasa Latin communitas yang berarti "kesamaan", kemudian dapat diturunkan dari communis yang berarti "sama, publik, dibagi oleh semua atau banyak (Wikipedia). 

Bertolak dari pengertian di atas, dapat kita menarik kesimpulan bahwa komunitas penulis merupakan perkumpulan orang-orang yang mempunyai tujuan tak lain adalah untuk menulis. Namun, perlu lagi kita kaji seberapa efektifkah keberadaan komunitas penulis bagi penulis itu sendiri?

Tidak ada yang tahu siapa pencetus ide untuk mendirikan komunitas penulis atau yang lebih dulu mengproklamirkan sebagai pelopor lahirnya berbagai komunitas penulis, yang jelas terbilang semenjak jejaring sosial seperti facebook membuat fasilitas grup online di pertengahan tahun 2010 silam, kelahiran grup (komunitas) penulis menjadi trend. Memang, sebelumnya telah ada komunitas serupa yang memanfaatkan fasilitas dari yahoo (millis), tapi gaungnya tidak seberapa, begitu pun dengan komunitas yang didirikan oleh Helvy Tiana Rossa dengan nama Forum Lingkar Pena yang mengusung tema fiksi Islami di awal tahun 2000-an sempat meramaikan dunia literasi Indonesia. Namun seiring berkembangnya teknologi internet, dalam hal ini jejaring sosial facebook, trend ini kembali booming dengan kelahiran berbagai komunitas kepenulisan online. 

Dengan sangat mudah dapat dilihat efek dari kelahiran komunitas semacam ini. Berbagai event (lomba) menulis berkedok komunitas menjamur di dunia maya. Mulai dari iming-iming hadiah pulsa, paket buku, sampai janji akan menerbitkan naskah yang terkumpul dalam bentuk buku dengan memanfaatkan fasilitas penerbit indie, tentu menjadi daya tarik bagi penulis pemula yang berhasrat ingin mempunyai buku. Sudah dapat ditebak, peminatnya akan membludak, dan kesempatan untuk menyantumkan nama di sampul buku terbuka lebar. 

Apalagi keberadaan komunitas dan antusias penulis pemula yang tidak tanggung-tanggung itu berbanding positif dengan kelahiran penerbit-penerbit indie yang memfasilitasi untuk menerbitkan naskah mereka dalam bentuk buku. Cukup dengan mengeluarkan beberapa rupiah saja, naskah penulis sudah dapat dicetak tanpa harus antri berlama-lama seperti halnya menerbitkan buku di penerbit massal. Inilah fenomena baru yang cukup membuat tokoh penggerak literasi berpotensi untuk cemas, dimana indie publishing lebih mengedepankan profit perusahaan mereka dibandingkan kualitas naskah yang akan diterbitkan. 

Memang, bila dilihat dari sisi manfaat bagi penulis pemula, ajang seperti ini dapat dijadikan interface untuk memasuki dunia kepenulisan. Ratusan penulis-penulis baru terlahir dari berbagai komunitas yang menerbitkan antologi sendiri. Sisi positifnya, hal ini tentu saja akan memperkaya referensi bacaan pembaca dengan warna karya yang beaneka ragam. 

Tidak hanya itu, kehadiran komunitas penulis sangat membantu bagi mereka yang pemula untuk belajar dan mendapatkan materi kepenulisan dari senior mereka. Komunitas penulis mewadahi para pemula untuk sharing tentang tulisan mereka. Hal ini pantas untuk kita apresiasi sebagai sarana pengembangan link bagi pemula, sehingga mempermudah langkah mereka untuk memasuki dunia kepenulisan itu sendiri melalui bimbingan dari pendahulu mereka (senior. Red). 

Namun, tidak adil rasanya bila kita menilai dari satu sisi saja. Kelahiran penulis-penulis pemula dari komunitas ini tidak diiringi oleh kualitas tulisan yang dapat diketegorikan ‘layak’ terbit. Cerpenis nasional, Benny Arnas menyebutkan dalam sebuah wawancara majalah nasional, bahwa beliau cemas dan pesimis dengan banyaknya orang-orang yang ingin instan menjadi pengarang dengan membundel (membukukan. Red) karangan mereka, lalu mencetak dan mengedarkannya. Kepada orang-orang seperti ini Benny menyangsikan kelayakan kualitas bundel tulisan mereka untuk disebut sebagai buku. 

Dalam hal ini, tentu saja pandangan seorang tokoh penulis fiksi nasional tidak dapat dianggap angin lalu. Apa yang dipikirkan Benny memang ada baiknya untuk kita kupas demi tetap menjaga sisi kualitas sastra Indonesia. 

Tapi, kembali kepada definisi komunitas itu sendiri dalam artian yang lebih sempit-dimana pendirian komunitas tentu saja mempunyai tujuan yang jelas dan untuk dicapai secara bersama. Bilamana tujuan komunitas adalah untuk mendidik para pemula dalam kegiatan menulis, tentu saja hal seperti ini patut kita hargai. Toh, kalaupun maraknya kelahiran penulis baru, tidak menutup kemungkinan bahwa komunitas yang memayungi mereka telah berhasil menggodok para pemula tersebut dalam melahirkan karya yang pada akhirnya menjadi pantas untuk dikategorikan sebagai tulisan yang layak. Lain halnya dengan komunitas yang hanya didirikan untuk menampung tulisan para pemula, lalu diterbitkan tanpa ada didikan dari mereka yang berpengalaman. 

Memang ada beberapa komunitas yang benar-benar fokus pada tujuan mendidik para pemula untuk matang dalam menulis. Hal ini dapat dilihat banyaknya penulis-penulis pemula yang tulisan mereka diloloskan oleh redaksi berbagai media. Kajadian ini sudah dapat kita jadikan parameter untuk mengukur sejauh mana kualitas sebuah karya pemula hasil godokan komunitas. Sebab, untuk dapat menembus sebuah media, tentu saja naskah penulis melewati seleksi yang panjang dan antrian yang cukup lama. Ketika tulisan mereka terbit di media, satu kesimpulan dapat kita tarik bahwa keberadaan komunitas mempunyai peran penting dalam keberhasilan ini. Bisa saja berbagai kemungkinan kelolosan naskah mereka karena beberapa sebab. Memang naskah mereka layak muat, atau ada faktor kedekatan penulis dengan redaktur yang kebetulan berada dalam komunitas yang sama, kita tidak tahu dan kurang etis rasanya untuk meng-judge seperti itu. 

Namun, terlepas dari kedua sisi positif dan negatif di atas, kita akhirnya tahu bahwa keberadaan komunitas penulis berperan dalam menentukan peluang penulis pemula untuk terjun ke dalam dunia kepenulisan itu sendiri secara kaffah. Sebab yang namanya komunitas tentu akan memfasilitasi anggotanya dengan tips, trik, dan ilmu kepenulisan dari pengalaman senior-senior mereka. Keberhasilan ini tentu juga ditentukan oleh seberapa jauh konsistensi komunitas itu sendiri dengan komitmen dan tujuan pendirian komunitas mereka. Semoga maraknya grup-grup penulis yang lahir di dunia maya membawa angin segar bagi perkembangan literasi Indonesia, terutama dalam mempersiapkan kelahiran penulis-penulis masa depan yang layak dan berkualitas. (*)

About the Author

Setiawan Chogah / Author & Editor

Penulis buku "SMS Terakhir" | Corporate Communications Dompet Dhuafa Banten | Pemimpin Redaksi biem.co (Banten Muda Online) CP: +62 821 1040 9641

4 komen dari temen² gue:

  1. Bagus anak muda, terusksn, saya amat senang. Luahan rasa orang mudo!

    BalasHapus
  2. Ada lagi hal yang perlu diangkat Chogah. Saat ini ada beberapa komunitas yang ternyata punya tujuan untuk membesarkan nama penulis (baca senior) saja. Tujuannya memang membentuk mereka yang bergabung jadi penulis tapi sayangnya mereka tidak memberikan pembelajaran pengalaman dan proses pada anggota sehingga mereka seringkali bangga berkomunitas karena bisa dekat dengan penulis tertentu.

    Pun dengan kualitas bacaan yang mereka baca, saya kerap kali menghadapi penulis pemula yang punya semangat menulis tinggi dan berkomunitas kesana kemari, namun sayangnya mereka tidak pernah menambah kualitas referensi bacaan mereka. Disinilah letak kegagalan beberapa komunitas penulis yang ada di Indonesia. Sebab mereka ternyata hanya membuat anggotanya berpikir instan tanpa harus jatuh bangun seperti foundernya.

    BalasHapus
  3. @Dunia Patriot Cahaya:

    Iya Mas Senda. Terkadang miris juga dengan beberapa komunitas yang menciptakan anggotanya menjadi fanatik dengan komunitas mereka. Misal, di mana-mana mereka selalu bawa-bawa nama group mereka, seperti menjadi tumpul akan rasa tenggang rasa. Bahkan ada yang berani menyerang komunitas lain cuma untuk eksistensi mereka agar diakui. Kalau sudah begini, apakah komunitas hanya sekedar menggodok kemampuan menulis lalu mengabaikan etika penulis?

    Kadang juga sedih siy ngeliat mereka yang antusias sekali punya antologi, karena selama ini mungkin belum pernah menerbitkan karya. Mereka menjadi hiperbolis menanggapinya. Euforia berlebihan. Sebenernya gak dilarang juga siy, asalkan tetap membaca bacaan lain selain produk komunitras mereka. Tapi kalau sudah mereka paling keren dan hanya mau membeli dan membaca buku terbitan komunitas mereka, kan sudah sesat namanya.

    BalasHapus

Silakan dikomentari, Sob! : (◠‿◠)