Kamis, 02 Februari 2012

Stop Berteriak yang Tidak Penting!

Setiawan Chogah
Stop Berteriak yang Tidak Penting!


Saya percaya Sobat telah membaca artikel saya di Teropong eLKa No. 5 TH. XIX 8 Desember 2011/ 12 Muharram 1433 tentang Mengkritik Secara Santun. Memang benar adanya, bahwa kritikan yang kita keluarkan berpengaruh besar terhadap sisi psikologis seseorang. Dalam artikel pada nomor tersebut saya mencontohkan pada penelitian yang dilakukan terhadap dua toples nasi. 

Nah, ulasan tersebut akan semakin afdol apabila Sobat membaca beberapa fakta lain yang berkaitan dengan energi positif dan negatif dari sebuah kata-kata.

Sobat, salah satu kebiasaan menarik yang ditemui pada penduduk yang tinggal di sekitar kepulauan Solomon (Pasifik Selatan) yakni meneriaki pohon. Apakah Sobat tahu bahwa kebiasaan ini sesungguhnya dilakukan untuk sebuah tujuan? Kepualauan Solomon dikenal sebagai sebuah pulau yang banyak terdapat pohon dengan akar-akar yang sangat kuat dan sulit untuk dipotong dengan kapak. Ketika penduduk merasa terganggu dengan keberadaan pohon tersebut maka mereka akan menebanginya. Namun ternyata penduduk Solomon telah mengetahui bahwa kata-kata ternyata mempunyai kekuatan ajaib jauh sebelum Emoto (Jepang) melakukan penelitian partikel air tahun 2003 itu, dan inilah fakta menarik yang mereka lakukan; 

Dengan tujuannya supaya pohon itu mati, beberapa penduduk yang lebih kuat dan berani akan memanjat hingga ke atas pohon tersebut. Lalu, ketika sampai di atas pohon itu bersama dengan penduduk yang ada di bawah pohon, mereka akan berteriak sekuat-kuatnya kepada pohon yang mereka kelilingi. Mereka melakukan teriakan berjam-jam dalam kurun waktu kurang lebih empat puluh hari. 

Dan, apa yang terjadi sungguh sangat menakjubkan. Sama halnya pada penelitian pada dua toples nasi pada artikel di eLKa No. 5, pohon yang diteriaki perlahan-lahan daunnya mulai mengering. Ini fakta! Setelah itu dahan-dahannya juga mulai rontok dan perlahan-lahan pohon itu akan mati dan mudah ditumbangkan. Sebuah kebiasaan dan ilmu pengetahuan yang tidak diketahui sebelumnya. Kalau diperhatikan apa yang dilakukan oleh penduduk primitif ini sungguhlah aneh. Tapi saya yakin Sobat sekalian pernah mendengar kalimat "saya ada karena saya berpikir", "kita adalah apa yang kita pikirkan dan tanamkan pada diri sendiri dan orang lain", dan "apabila kita berpikiran positif, maka hasilnya adalah positif begitu pula sebaliknya". 

Sobat, menurut penelitian, komponen pikiran kita tersusun dari kumpulan partikel dan atom, jadi semesta ini bergerak karena atom tersebut saling menarik dan sinkron untuk menjadikan hal-hal di sekitar kita saling berkaitan. Hal ini tentu sudah kita ketahui dari pelajaran kimia atau fisika SMA, tapi pernahkah Sobat memerhatikan praktek nyatanya? 

Untuk membuktikan teori ini, silakan Sobat menabur senyuman pada orang lain, energi dari atom yang dihasilkan adalah positif. Lain halnya ketika Sobat berada di tengah kumpulan orang senang, tapi pikiran Sobat sendiri sedang galau, hasilnya adalah Sobat menyebarkan energi atom negatif, yang membuat suasana yang sebelumnya menyenangkan karena melihat Sobat yang murung dan dengan muka masam, pasti suasana berubah menjadi kaku dan tidak asyik lagi. Silakan dibuktikan! 

Kita bisa belajar sesuatu yang amat berharga dari kebiasaan ‘aneh’ penduduk Kepulauan Solomon tadi. Mereka telah membuktikan bahwa teriakan-teriakan yang dilakukan terhadap mahkluk hidup seperti pohon akan menyebabkan benda tersebut kehilangan rohnya. Akibatnya, dalam waktu singkat, makhluk hidup itu akan mati. Nah, sekarang, yang jelas dan perlu diingat bahwa setiap kali Sobat berteriak kepada mahkluk hidup tertentu maka berarti Sobat sedang mematikan rohnya. Pernahkah Sobat berteriak pada para sabahat, adik, atau bahkan orang tua, orang di sekeliling Sobat atau siapa pun? 

Berteriak seperti; Ayo cepat! Dasar lelet! Bego banget sih! Begitu aja nggak bisa dikerjakan? Jangan main-main di sini! Berisik! 

Sahabat eLKa, marilah! Setiap kali kita berteriak pada seseorang karena merasa jengkel, marah, terhina, terluka, saya rasa sudah saatnya kita bercermin pada apa yang diajarkan oleh penduduk kepulauan Solomon ini. Mereka mengajari kita bahwa setiap kali kita mulai berteriak, kita mulai mematikan roh pada orang yang kita cintai. Kita juga mematikan roh yang mempertautkan hubungan kita. Teriakan-teriakan, yang kita keluarkan karena emosi-emosi kita secara perlahan-lahan, pada akhirnya akan membunuh roh yang telah melekatkan hubungan kita. 

Dalam kehidupan sehari-hari. Teriakan, hanya diberikan tatkala kita bicara dengan orang yang jauh jaraknya, bukan? 

Nah, mengapa orang yang marah dan emosional mengunakan teriakan-teriakan padahal jarak mereka dekat bahkan hanya bisa dihitung dalam sentimeter. Hal ini penjelasannya sangat sederhana. Pada realitanya, meskipun secara fisik dekat tapi sebenarnya hati begitu jauh. Itulah sebabnya mereka harus saling berteriak. Selain itu, dengan berteriak, tanpa sadar mereka pun mulai berusaha melukai serta mematikan roh orang yang dimarahi karena perasaan-perasaan dendam, benci atau kemarahan yang dimiliki. 

Kita berteriak karena kita ingin melukai dan kita ingin membalas. Jadi mulai sekarang jika tetap ingin roh pada orang yang kita sayangi tetap tumbuh, berkembang dan tidak mati, janganlah menggunakan teriakan-teriakan! Dengan berteriak kepada orang lain ada dua kemungkinan balasan yang akan kita terima. Kita akan dijauhi atau kita akan mendapatkan teriakan balik, sebagai balasannya. Sesederhana itu bukan? 

About the Author

Setiawan Chogah / Author & Editor

Penulis buku "SMS Terakhir" | Corporate Communications Dompet Dhuafa Banten | Pemimpin Redaksi biem.co (Banten Muda Online) CP: +62 821 1040 9641

0 komen dari temen² gue:

Posting Komentar

Silakan dikomentari, Sob! : (◠‿◠)