Sabtu, 14 Januari 2012

Mengkritik Secara Santun

Setiawan Chogah
Mengkritik Secara Santun
(ElKa Sabili No. 5, Desember 2011)

Sobat, pernahkah kalian dikritik, atau malah sebaliknya suka mengkritik? Dan apakah Sobat tahu, ternyata begitu besar efek dari sebuah kritikan? Hmm, berikut akan kita coba kupas apa saja efek yang disebabkan oleh sebuah kritikan itu.

Begini; dalam beberapa hari terakhir, aku belajar banyak hal tentang kritik mengkritik. Dimulai dari seorang sahabat yang curhat kepadaku mengenai judul skripsinya yang ditolak mentah-mentah oleh dosen pembimbing, sampai cerita seorang teman tentang laporan praktikum yang wajib revisi dari asisten. Tanggapan mereka menunjukkan satu keseragaman setelah menerima dua hal berbeda namun sama, sama-sama sebuah penolakan.              

Sahabatku yang pertama mengungkapkan perasaannya melalui status-status galau di facebook. Status yang bermuatan kesedihan dan putus asa. Sedangkan sahabat yang kedua, dengan muka marah memperlihatkan laporan praktikumnya yang penuh coretan ‘tak senonoh’ padaku. Aku berpikir, ternyata begitu besar efek yang disebabkan oleh sebuah kritikan. 

Kritik memang sesuatu hal yang ‘menyenangkan’ bagi si pengkritik. Bagaimana aku berani menulis begini? Oh, tentu-sebab aku sendiri pun pernah merasa bangga setelah mengkritik. Rasanya sesuatu banget. :)) 

Padahal, kalau kita mau melihat akibat yang ditimbulkan oleh sebuah kritikan, tentu kita akan lebih berhati-hati dalam memberikan kritikan. 

Begini, Sob. Sahabatku yang kedua tadi, di laporannya tertulis kata-kata yang mengungkapkan ketidaknyamanan, marah, dan tidak senang seorang asisten terhadap laporan yang dibuat praktikannya. Kalimat pernyataan revisi yang ditulis caps lock, ukuran yang tidak lazim, dan kalau dibaca sungguh membuat setan-setan terbangun. Kalimat yang mengalirkan energi negatif, menyulut api dendam, dan membuat semangat yang sempat jatuh menjadi semakin terpuruk. Down! 

Kisah dua sahabatku hanya sebagian kecil dari efek negatif sebuah kritikan yang disampaikan dengan tidak sehat. Kita perlu lagi belajar, setidaknya mengetahui kalau kata-kata yang kita ucapkan, yang kita tuliskan meberikan efek luar biasa terhadap sisi kejiwaan seseorang. 

Mungkin Sobat sudah tahu mengenai sebuah penelitian yang pernah dilakukan terhadap dua toples nasi. Pada toples yang satu dituliskan kata-kata “kamu pintar, cerdas, cantik, baik, rajin, sabar, aku sayang padamu, aku senang sekali melihatmu, aku ingin selalu di dekatmu, dan terima kasih”, sedangkan toples yang kedua dituliskan kata-kata “kamu bodoh, goblok, jelek, jahat, malas, pemarah, aku benci melihatmu, aku sebel tidak mau dekat dekat kamu.” 
Dua toples nasi ditempeli kata-kata positif dan negatif
Lalu kedua toples tersebut diletakkan di tempat yang sering terlihat, dan setiap orang yang lewat mengucapkan kata-kata yang tertulis pada kedua toples tersebut. Dan apa yang terjadi?

Efek dari kata-kata itu benar-benar mengejutkan. Nasi dalam toples yang dibacakan kata-kata negatif ternyata cepat sekali berubah menjadi busuk dan berwarna hitam dengan bau yang tidak sedap. Sedangkan nasi yang dibacakan kata-kata positif masih berwarna putih kekuningan dan baunya harus seperti ragi.

Nasi setelah penelitian
Penelitian sejenis pun pernah dilakukan seorang peneliti dari Hado Institute di Tokyo pada tahun 2003, Masaru Emoto.

Pada penelitiannya, mengungkapkan suatu keanehan pada sifat air. Melalui pengamatannya terhadap lebih dari dua ribu contoh foto kristal air yang dikumpulkannya dari berbagai penjuru dunia, Emoto menemukan bahwa partikel molekul air ternyata bisa berubah-ubah tergantung perasaan manusia di sekelilingnya, yang secara tidak langsung mengisyaratkan pengaruh perasaan terhadap klasterisasi molekul air yang terbentuk oleh adanya ikatan hidrogen. Emoto juga menemukan bahwa partikel kristal air terlihat menjadi ‘indah’ dan ‘mengagumkan’ apabila mendapat reaksi positif di sekitarnya, misalnya dengan kegembiraan dan kebahagiaan. Namun partikel kristal air terlihat menjadi ‘buruk’ dan ‘tidak sedap dipandang mata’ apabila mendapat efek negatif disekitarnya, seperti kesedihan dan bencana. Lebih dari dua ribu buah foto kristal air terdapat di dalam buku Message from Water (Pesan dari Air) yang dikarangnya sebagai pembuktian kesimpulannya sehingga hal ini berpeluang menjadi suatu terobosan dalam meyakini keajaiban alam. Emoto menyimpulkan bahwa partikel air dapat dipengaruhi oleh suara musik, doa-doa dan kata-kata yang ditulis dan dicelupkan ke dalam air tersebut. 

Begitu dahsyatnya pengaruh dari reaksi yang diperlakukan pada sebuah benda. Percobaan-percobaan tadi hanya dilakukan pada benda mati. Bayangkan apa yang akan terjadi dengan anak-anak kita, pasangan hidup kita, rekan-rekan kerja kita, dan orang-orang di sekeliling kita, bahkan binatang dan tumbuhan di sekeliling kita pun akan merasakan efek yang ditimbulkan dari getaran-getaran yang berasal dari pikiran, dan ucapan yang kita lontarkan setiap saat kepada mereka. 

Maka sebaiknya selalulah sadar dan bijaksana dalam memillih kata-kata yang akan keluar dari mulut kita, kata-kata yang kita tulis, demikian juga kendalikanlah pikiran-pikiran yang timbul dalam batin kita. Saatnya kita bertanya pada diri kita, sudahkan kita berpikiran, berkata-kata, berbahasa dengan menyalurkan energi positif? Kita tidak perlu mencari contoh jauh-jauh. Perhatikan diri kita, jabatan kita yang selalu kita anggap sebuah prestige yang harus dihormati, kekuasaan kita yang memungkinkan kita untuk memberi kritik pada mereka yang membutuhkan jasa kita. Kita sebagai asisten laboratorium yang kerap menemui laporan pratikan yang tidak sesuai prosedur, sebagai pemimpin redaksi yang acap menemukan naskah yang acak kadut, kita yang sebagai dosen atau guru yang dihadapkan pada peserta didik yang terlanjur kita cap ‘bodoh’, dan yang paling sering kita lupa, kita sebagai warga Negara sering kali sesuka hati mengkritik pemerintah yang dinilai tidak becus. Apa salahnya kritikan-kritikan itu kita sampaikan dengan cara-cara terdidik, well educated, sopan, dan yang jelas membawa pengaruh positif bagi mereka yang kita kritik. 

Bayangkan, ketika kritikan kita membuat mereka bersemangat, tentu ini akan menjadi ladang pahala bagi kita. Padahal, Islam telah mengajarkan pada kita adab dalam mengkritik. Salah satu contoh paling sederhana dan begitu dekat dengan kita, ketika kita sholat berjamaah, dan imam melakukan kesalahan dalam bacaan ataupun gerakan sholat, agama telah mengajarkan cara yang begitu santun dan indah. Mengucapkan ‘Subhanallah’, semuanya dikembalikan kepada Allah, tidak asal berkata-kata, apalagi kata-kata yang menjatuhkan. 

Coba kita pelajari lagi kandungan surah Al-Baqoroh ayat 83 ini; 

…serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling. (QS. Al-Baqoroh; 83) 

Ayo, Sob. Kita budayakan mengkritik secara santun dan membangun pengaruh positif bagi orang-orang yang kita kritik. (*)

About the Author

Setiawan Chogah / Author & Editor

Penulis buku "SMS Terakhir" | Corporate Communications Dompet Dhuafa Banten | Pemimpin Redaksi biem.co (Banten Muda Online) CP: +62 821 1040 9641

0 komen dari temen² gue:

Posting Komentar

Silakan dikomentari, Sob! : (◠‿◠)