Sabtu, 19 November 2011

Detik-Detik Menuju Workshop Bergengsi Ceban

Setiawan Chogah


Detik-Detik Menuju Workshop Bergengsi Ceban

4.40 AM. Begitu angka yang tertera di pojok kanan bawah netbook saya. Hampir pukul 5 pagi, dan adzan subuh sudah sedari tadi berkumandang dari musholah samping kontakan saya. Ya Allah, sementara kedua bola mata saya belum juga menunjukkan tanda-tanda kelelahan atau minta untuk dipejamkan. Keduanya masih saja bergairah melahap layar 10 inc di hadapan saya. Memerhatikan aktivitas manusia lain yang mungkin diantara kami ada kesamaan. Insomnia! Hfff…, tapi kali ini bukan sekedar insomnia biasa.
Entah kenapa, saya selalu terbiasa susah memejamkan mata di saat akan menghadapi hari-hari penting dalam hidup saya. Penerimaan rapor, Tes SNMPTN, Audisi, bahkan ketika saya menantikan hari H terbitnya cerpen saya di suatu media-malam menjadi begitu panjang. Pun demikian kali ini, 20 November 2011-masuk list hari paling penting dalam hidup saya. Hari ini, saya akan menjadi pembicara dalam sebuah workshop kepenulisan di kota Tangerang. Sebenarnya, semua keperluan sudah saya siapkan jauh-jauh hari. Mulai dari materi, simulasi, bahkan masalah dresscode sekalipun masuk ke dalam daftar perhatian saya. Mungkin ada yang menganggap ini lebay, tapi tunggu dulu, dalam ilmu strategi korporasi saya belajar bagaimana teknik bersaing. Memang, workshop ini bukanlah sebuah persaingan, tapi tidak menutup kemungkinan, kalau kelak ini akan menjadi pekerjaan saya. Makanya saya selalu berpikir positif, kalau kuliah saya di jurusan teknik bukanlah sebuah tragedy ‘nyasar’ yang dulu begitu amat saya takutkan. Toh, ada begitu banyak ilmu-ilmu teknik yang bisa saya adopsi ke dalam dunia penulisan. Termasuk masalah strategi. Bicara soal workshop; ini adalah kali keduanya saya sebagai pembicara, menyebarkan virus menulis, membagi sedikit ilmu yang kebetulan saya punya, setelah sebelumnya memengaruhi anak-anak unyu di SMPN 1 Cisata Pandeglang untuk ikut bermimpi menjadi penulis.
Oke, sebelumnya saya ingin menggarisbawahi. Saya bukan penulis besar yang namanya sudah wara-wiri di berbagai media dan selalu hadir di acara penting bertajuk sastra. Hei! Saya hanya seorang mahasiswa teknik yang kebetulan suka menulis dan beberapa kali tulisannya tidak sengaja dimuat di media dan beberapa antologi. Saya perlu mem-bold point ini. Sebab, ada ketakutan yang tiba-tiba mendera saya ketika saya dicap sebagai ‘pemula tak tau diri’. Beuh! Sadis meeen. Saya berprinsip, ketika saya punya dan ada yang membutuhkan kepunyaan saya itu, maka dengan senang hati saya akan membagikannya, walaupun sedikit. Dengan prinsip ini pula saya mendirikan Forum Tinta Sahabat bersama keempat teman-teman saya lainya. Prinsip kami sama. Berbagi. Syukur-syukur bermanfaat.
Dulu, kira-kira dua tahun yang lalu, lebih-kurang ya sekitar dua tahun yang lalu. Waktu itu saya tengah berangkat kuliah ke Cilegon. Melewati pintu tol Serang Timur, saya berhadapan dengan spanduk ucapan selamat datang kepada jubir presiden kala itu, Bapak Andi Malarangeng yang berkunjung ke Serang. Ketika itu saya berbicara pada diri saya sendiri, “Suatu saat nanti, pengen deh nama gue juga ditulis gede kayak yang di spanduk itu.” Lucu memang, saya sendiri tidak tahu mengapa saya sangat suka berandai-andai. Mungkin akibat dari kesukaan yang tidak baik ini saya tidak bisa gemuk. Mengapa saya mengatakan kalau berandai-andai adalah kebiasaan tidak baik? Begini; saya pernah membaca sebuah artikel yang menyatakan bahwa berandai-andai ternyata menyerap energi paling besar dibandingkan kegiatan lainya. Terlepas dari benar atau tidaknya pernyataan ini, itu bukan salah saya, toh saya juga baca dari artikel. Heheeee. Dan Alhamdulillah, walaupun masih dalam keadaan ‘tidak gemuk’ hari ini andai-andai itu terwujud. Norak!
Ah, saya seperti masih belum percaya, kalau beberapa jam lagi saya akan berbicara di depan puluhan pasang mata tentang ‘hobi dan mimpi’ yang dulu menjadi makanan sehari-hari saya. ‘Hobi yang menjadi piti’ begitu saya menyebutnya. Piti dalam bahasa kampung saya bearti uang alias duit. Hmmm, saya tidak mau menjanjikan banyak hal dan membuat seakan-akan saya ini begitu ‘wah’. Saya hanya ingin berkisah kepada mereka apa adanya, ada yang selama ini saya rasakan, saya jalankan, dan saya hasilkan. Itu saja. Saya hanya akan membagikan pengalaman saya yang masih terlalu sedikit dan mudah-mudahan melalui workshop ini, yang sedikit itu akan menjadi banyak. Amin.
Sudah 5:13 AM. Sepertinya sudah saatnya untuk mandi dan bersiap-siap menuju Tangerang. Menjumpai para sahabat saya, orang-orang yang sama seperti saya, berani bermimpi untuk menjadi penulis, dan berupaya menggapai mimpi itu walau tak jarang harus terjatuh, terbangun, lalu kembali bermimpi, dan …, akhirnya mimpi itu menjadi nyata.
Bismillah.
Dengan nama Allah, saya niatkan ini untuk ibadah. Untuk penambah amal saya yang belum seberapa. Andaikata, hari ini Allah memanggil saya, aduhai-saya sangat belum siap untuk memenuhi panggilan itu, sodara-sodara! Saya belum siap. Ah, kenapa jadi ngambang begini? Heheheee. Oke, saya hanya meminta doa sahabat semua. Semoga acara besar ini berjalan sukses dan lancar. Bermanfaat buat semua yang hadir. Oya, kalau mau mampir, silakan. Nanti siang saya akan ada di Offroom Gedung Cisadane Pemda Kota Tangerang. Jalan KS. Tumbun No. 1 Karawaci, Tangerang bersama tiga narasumber yang tentu saja jauh lebih beken dari saya. Eh, bearti saya termasuk beken dong? Ah, lupakan saja. Sampai jumpa di sana ya. Wassalam

About the Author

Setiawan Chogah / Author & Editor

Penulis buku "SMS Terakhir" | Corporate Communications Dompet Dhuafa Banten | Pemimpin Redaksi biem.co (Banten Muda Online) CP: +62 821 1040 9641

0 komen dari temen² gue:

Posting Komentar

Silakan dikomentari, Sob! : (◠‿◠)