Jumat, 15 Juli 2011

Writing Motivation , Menggairahkan Semangat Menulis

Setiawan Chogah

Ikuti Kompetisi Blog Kebahasaan dan Kesastraan 2011. Klik di SINI

Writing Motivation...



*Sudaryono Achmad
 Untuk apa menulis? Barangkali banyak orang masih bingung ketika disodori pertanyaan tersebut. Wajar, karena persoalan menulis memang belum membudaya di tanah air. Jangankan masyarakat umum, mereka yang menyandang gelar doktor bahkan profesor sekalipun bisa jadi banyak yang masih kesulitan dalam soal menulis (menuangkan gagasan dalam bentuk tulisan).

Ini terbukti dengan masih minimnya publikasi karya ilmiah (populer). Untuk merangsang para ahli dibidangnya berbagi gagasan, muncul beberapa situs internet agar ilmu pengetahuan bisa diakses dengan luas. Munculnya situs semisal www.beritaiptek.com, www.netsains.com atau www.kolumnis.com patut kita apresiasi karena para pendiri dan aktivis situs ini setidaknya punya andil dalam rangka menggiatkan dunia tulis menulis. Sehinga bisa menjadi ajang berbagi ilmu.

Persoalan menulis, tentu bukan hanya persoalan para pengarang, penulis atau wartawan saja. Siapapun diri kita, kemampuan menulis itu diperlukan. Sepanjang kita masih punya otak dan hati, aktivitas menulis akan senantiasa menyertai. Dalam kehidupan keseharian, komunikasi kita tentu tidak hanya sebatas ucapan saja. Sering kita harus membangun komunikasi dengan orang-orang yang jauh. Maka, tulisan menjadi penting sebagai alat komunikasi sekaligus media yang lebih memungkinkan orang mengeluarkan gagasan secara serius dan sistematis.

Biasanya, kalau ucapan kerap kali hanya luahan spontanitas saja. Sedangkan, tulisan lebih mempunyai bobot tersendiri karena sudah pasti kita memikirkan dan merenungkannya terlebih dahulu sehingga gagasan lebih sistematis. Kegagapan dan ketidakmampuan dalam menulis, bisa jadi akan menyebabkan salah persepsi dan kegagalan komunikasi. Dan, ini bisa berakibat fatal dalam bisnis, kariel maupun hubungan personal.

Lantas, bagi mereka yang akan berprofesi terkait dengan dunia tulis menulis (misalnya wartawan, editor, pengarang), persoalannya akan lebih kompleks lagi. Sebab, persoalan menulis tidak hanya sebatas alat komunikasi saja. Tetapi lebih dari itu, menyangkut soal kemanusiaan, panggilan hidup, estetika kebahasaan, bahkan keberpihakan kepada masyarakat kecil yang terpinggirkan oleh zaman yang semakin tidak adil ini.

Nah, dalam artikel singkat ini, saya akan memberikan semacam tips-tips segar kepada Anda agar lebih bergairah dan lebih serius menulis;

1.         Jangan  sekedar hobi

Masih banyak orang yang menjadikan aktivitas menulis sekedar hobi belaka. Tak salah memang. Hanya saja, ternyata menulis pun bisa dijadikan alternatif profesi, dalam arti mereka mendapatkan nafkah dan penghasilan. Barangkali muncul pertanyaan, bisakah hidup layak dengan menjadi seorang penulis ?. Saya kira ini tergantung kerja keras masing-masing individu. Sudah terlalu banyak contoh orang-orang yang sukses menjadi seorang penulis full time. Sebut saja Ahmad Tohari, penulis  novel “Ronggeng Dukuh Paruk” yang kini juga menjadi kolumnis sosial keagamaan di rubrik “Resonansi” Koran Republika. Atau JK Rowling, pengarang “Haryy Potter” yang kini menjadi miliyader dari hasil penjualan bukunya.

2.         Prioritaskan bacaan

Agar ide dan pikiran tidak buntu, baca buku adalah solusinya. Seorang penulis sejati, tidak bisa tidak ia harus akrab dengan buku. Bukan hanya menjadi kutu buku, lebih dari itu, ia perlu menjadi “predator buku”. Melahab berbagai buku, seperti kata Hernowo penulis buku “Quantum Writing” menjadikan buku ibarat sepotong pizza.

Memang, tidak semua buku harus kita baca. Memilah buku-buku bermutu serta memprioritaskan jenis dan waktu membaca itu perlu. Helvy Tiana Rosa Pendiri komunitas penulis Forum Lingkar Pena (FLP) punya saran yang baik. Yaitu membaca 3 jenis buku dalam sebulan, tentang keagamaan, tentang hobi atau minat kajian yang diminati, dan tentang buku yang terkait latar belakang pendidikan seseorang. Dengan pengaturan seperti itu, pikiran kita akan lebih fokus, ide-ide bermunculan sehingga aktivitas menulis terus berkembang.

3.         Gunakan hati

Aktivitas menulis tak cukup dengan wawasan pikiran dan referensi semata. Kita perlu  menggunakan hati. Seperti dalam kehidupan keseharian, orang akan lebih senang diajak bicara secara lembut, siapapun pasti tak akan suka dibentak-bentak, diperlakukan kasar oleh orang lain. Bahkan seorang premanpun tak mau diperlakukan begitu.

Dalam menulis juga perlu melakukan hal yang sama. Kalau ingin melakukan kritik pada seseorang atau lembaga, cara yang halus perlu dimunculkan pada karya tulisan kita. Jika memang perlu disindir atau disentil, lakukan dengan cara yang tidak frontal dan memerahkan kuping. Prinsipnya, menulislah dengan hati, karena biasanya sesuatu yang dari hati, akan sampai ke hati pula. Siapa tahu, dengan begitu, orang akan berbalik pikiran dan berubah menjadi lebih baik setelah membaca karya kita. Kalau seorang penulis bisa melakukan kebajikan semacam ini, betapa mulianya dia.

4         Mulailah dari hidupmu

Banyak orang yang kesulitan mau menulis apa. Tidak menyadari bahwa setiap manusia, perjalanan dan pengalaman hidupnya pasti punya sesuatu yang menarik, sesuatu yang unik. Bukankah ini inspirasi tersendiri ?. Ya, menuliskan cerita-cerita kita.

Torey Haden penulis buku “Sheila”, buku yang laris manis itu, pernah mengatakan “Aku sama seperti kalian, yang membedakan hanya karena Aku menuliskannya”. Begitulah, ia menuliskan pengalaman hidupnya sebagai seorang guru untuk anak-anak “catat mental”, ternyata buku buku itu digemari masyarakat karena temanya yang menarik, tentu juga karena gaya penceritaannya yang menyentuh jiwa.

Lain dengan Bayu Gawtama (gawtama.blogspot.com), Ia rajin menuliskan catatan hariannya yang sampai saat kini  3 buku telah terhasilkan. Ceritanya cukup sederhana, lagi-lagi menarik karena berbasis pengalaman dengan sentuhan personal yang khas. Begitu juga novel “Laskar Pelangi” Karya Andre Hirata (www.sastrabelitong.multiply.com), kisahnya tak lain adalah pengalaman masa kecilnya.

Kini, saatnya menulis sesuatu yang dirasa menarik dalam hidup, yah siapa tahu kelak layak diterbitkan menjadi buku. Siapa tahu laris, siapa tahu kelak kita menjadi penulis hebat. Siapa tahu...siapa tahu.

5.         Tradisi kaum intelektual

Menulis itu tradisi kaum intelektual. Jika ada problem serius di mata umum (publik), ia menulis untuk menjelaskan duduk masalahnya. Kemudian, punya alternatif pemikiran, bagaimana jalan keluar dari masalah tersebut. Belum cukup rasanya sebutan intelektual kalau ia tak punya karya (tertulis) satupun.

Menulis, sampai hari ini masih menjadi tradisi kaum intelektual. Dengan membaca tulisan, baik artikel atau buku, kita akan mendapatkan pemahaman yang cukup dan utuh tentang sebuah pokok permasalahan. Hal ini kan sangat berbeda kalau hanya sekedar ucapan semata.

Demikianlah sekilas bagaimana gairah menulis itu bisa kita munculkan. Saatnya sekarang adalah mempraktekannya. Seperti kata Kuntowijoyo (alm), Budayawan Jogjakarta), untuk bisa menulis cukup mudah dan sederhana, ”Duduk dan Lakukan”. Itu saja. (*)

About the Author

Setiawan Chogah / Author & Editor

Penulis buku "SMS Terakhir" | Corporate Communications Dompet Dhuafa Banten | Pemimpin Redaksi biem.co (Banten Muda Online) CP: +62 821 1040 9641

0 komen dari temen² gue:

Posting Komentar

Silakan dikomentari, Sob! : (◠‿◠)