Minggu, 15 Mei 2011

Tips Agar Tokoh Cerpenmu ‘Kuat’ dan ‘Hidup’

Setiawan Chogah
Tips Agar Tokoh Cerpenmu ‘Kuat’ dan ‘Hidup’
*Oleh Setiawan Chogah-Dimuat di Annida-Online, 15 Mei 2011  (postingan dengan teks asli)

            Yuhuu Sobat Nida, bagaimana dengan aktivitas menulis kalian? Masih semangatkah? Oya, sebelum kita membahas judul di atas, saya punya oleh-oleh buat sobat Nida sekalian. Beberapa hari yang lalu saya bermain ke lapaknya Mas Fahri Asiza. Tau kan siapa dia? Omigoot, jangan bilang gak tau ya Sobat! Ada quotes dahsyat yang cukup menjadi bahan pemikiran bagi saya, Mas Fahri bilang begini “Dalam setiap menulis, saya tidak punya pretensi apa-apa. Saya juga tidak ingin terkesan pintar, saya juga tidak mau menggurui. Yang saya berikan, saya hanya ingin menghibur dengan memberikan sedikit pencerahan (andaikata memang itu bisa masuk dan diterima). Hal lain, terkadang saya tidak pernah memikirkan tokoh-tokoh saya. Semuanya tercipta begitu saja.”      
            Oke, silahkan dihayati dan semoga menginspirasi. Well, Sobat Nida yang selalu ceria, hehee. Ngomongin soal tokoh, saya termasuk penulis pemula yang sulit untuk menciptakan karakter tokoh yang kuat dan hidup. Dalam beberapa cerpen yang saya tulis (Kayak cerpen saya udah banyak aja ya? Hehee) selalu mendapatkan kritikan dari pembaca, awalnya memang membuat kuping panas, tapi kemudian saya berfikir, cerpen saya dikritik bearti mereka membaca dan memperhatikan tulisan saya, bukankah itu sebuah anugerah? Hehee.
            Lalu saya mencari cara bagaimana menguatkan tokoh yang saya ciptakan dalam cerpen-cerpen selanjutnya. Beberapa siasat pernah saya lakukan, dan Alhamdulillah cukup mampuni, berikut saya coba share sama Sobat sekalian:
  • ·         Gunakan Nama Orang-Orang yang Kita Kenal
Dalam cerpen saya Ibuku Sahabatku (Dimuat Annida April 2010) saya menggunakan nama Ridho. Ridho sendiri adalah nama sahabat saya waktu SMA (dan Alhamdulillah sampai sekarang kita masih bersahabat.) Di cerpen itu saya gambarkan bagaimana Ridho sehari-sehari bersikap. Bagaimana cara dia berbicara, saya seperti menulis buku diary, saya menceritakan tokoh Ridho apa adanya, sehingga tidak ada kesan ‘pemaksaan karakter’, semuanya terasa menjadi begitu natural. Jurus ini mungkin juga bisa Sobat gunakan dalam menulis cerpen. Masukkan saja karakter teman-teman Sobat ke dalamnya, gambarkan seperti apa adanya si tokoh itu dalam dunia nyata. Itu akan sangat terasa feelnya saat Sobat membaca ulang tulisan Sobat.
  • ·         Dirikan Bank Nama
Tidak mampu mendirikan Bank yang berisikan uang? Ya sudah, kita dirikan saja bank nama. Cara ini saya dapatkan saat mengikuti sebuah pelatihan menulis bersama mbak Reni Erina (Managing Editor Majalah Story) di Kebun Raya Bogor bulan lalu. Ternyata saya cukup berhasil. Prosesnya seperti ini; Sobat tentu hapal nama-nama orang yang ada di sekitar Sobat, baik itu di lingkungan kompleks, di sekolah, di kampus, atau di kantor. Nah, dari sekian banyak orang-orang tersebut, cobalah membuat list nama mereka dalam sebuah catatan (sebaiknya dalam note khusus, biar tidak gampang hilang/ rusak). Di bawah namanya tulislah karakter orang yang punya nama tersebut. Misalnya; Dedi = Cowok, 22 Tahun, Kurus, Humoris, Kocak, Suka Traktir, Banyak Temennya, dan Lumayan Ganteng *hihihi. Ardan = Cowok, tinggal di komplek sebelah, orangnya begeng, galak, ngerokok, suka nongkrong di pos ronda, suka ngajakin nyolong mangga, dsb. Dari contoh di atas, kita sudah punya dua tokoh dengan karakter yang berbeda. Gampang kan? Ketika Sobat membutuhkan tokoh yang antagonis, maka Sobat tinggal buka Bank Naskah dari cari nama yang mempunyai karakter antagonis, dst.
  • ·         Wawancara Tokoh
Cerpen ‘Bukan Sultanurbaya’ (Annida, November 2010), saya membuat beberapa dialog antara tokoh aku dengan ibunya. Sebenarnya dialog itu benar-benar terjadi antara saya dan Amak di kampung. Lalu saya adopsi dalam cerpen BS. Ketika saya membaca ulang naskah tersebut, saya merasakan karakter tokoh aku dan si ibu begitu kuat dan seakan ‘hidup’ (Hal ini pun dibenarkan beberapa sahabat saya yang membaca BS). Jadi, ketika Sobat ingin meng-‘hidupkan’ sebuah tokoh, cobahlah dengan memanfaatkan teknik dialog. Wawancaralah tokoh si A (yang ada di bank naskah), ingat kalimat yang diucapkannya dan perhatikan bagaimana dia mengucapkannya, lalu tuangkan dalam tulisan Sobat. InsyaAllah ketika dibaca akan ada kesan hidup dan emosianal yang lebih terbangun dalam dialog tersebut. Sebab dialog tersebut pernah ada dan nyata, tidak kita buat-buat.

Nah, gimana Sobat? Ayo segera tulis cerpenmu dengan mencoba tips asli pengalaman pribadi yang pernah saya lakukan lalu kirim ke Annida. Semoga bermanfaat ya. ^^

About the Author

Setiawan Chogah / Author & Editor

Penulis buku "SMS Terakhir" | Corporate Communications Dompet Dhuafa Banten | Pemimpin Redaksi biem.co (Banten Muda Online) CP: +62 821 1040 9641

2 komen dari temen² gue:

  1. Waw bener yah mas.. mau coba deh. makasih yah Mas...

    BalasHapus
  2. Wah,, bener yah mas. makasih mas, saya pengen nyoba :)

    BalasHapus

Silakan dikomentari, Sob! : (◠‿◠)