Kamis, 05 Mei 2011

Membuat Ending yang Menarik

Setiawan Chogah
Sobat, merasa sering bingung ketika menulis pada saat di akhir cerita agar ending dari cerita yang kita buat menjadi lebih menarik dan greget? Nah secara teori, ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan loh pada saat pembuatan ending :

 1. Ending hendaknya berhubungan erat dengan konflik yang kita munculkan di awal cerita, ini dapat kita lihat pada ahsanul qoshosh (the best story) dalam Al-Quran surat Yusuf. Awal cerita ada pada ayat ke-3 (dua ayat pertama adalah endorsment Allah tentang kisah ini) yang menceritakan mimpi Yusuf kecil. Kita baru menemukan jawaban dari makna mimpi itu pada ending cerita, yaitu ayat ke-100, di sana disinggung lagi tentang mimpi itu.
Dari sini kelihatan banget kalau Al-Quran sangat bisa dijadikan rujukan penulisan. Secara ... memang di dalam Alquran itu banyak cerita, kisah dan sejarah yang kalau diperhatikan maka teknik penulisannya tingkat tinggi dan selalu mempunyai ending yang baik.
Jadi terinspirasi untuk belajar lebih jauh teknik menulis dari AlQuran kan?

2. Ending jangan terkesan kita paksakan atau kita dramatisir, melainkan tetap dalam bingkai “kausalitas” (sebab-akibat). Jadi antara adegan satu dengan adegan yang lain dalam alur cerita itu harus logis, jangan sampai buat kejutan yang tidak rasional, alias “teori mati”, yaitu rata-rata para penulis pemula, karena tidak tahu cara mengakhiri cerita, maka mereka matikan sang tokoh, baik itu ditabrak mobil, disambar petir, jatuh dari tangga, dst. Biasa banget nih dalam sinetron -sinetron.

 3. Ending harus memiliki “suspense” (kejutan) yang membuat kita terkejut, terpesona, terharu, marah, gembira, dst.

4. Ending hendaknya sesuai dengan bangunan cerita, kalau cerita kita memang lebih dominan kesedihan, elegi, maka buatlah sad ending, sebaliknya kalau dominan ceritanya gembira, maka buatlah happy ending, jangan sampai dari awal kita ajak pembaca mengharu biru, eee, pada kalimat terakhirnya, kita ajak tertawa terpingkal-pingkal.

5. Ending itu beragam, cuma secara global ada yang bersifat tertutup, alias inti cerita atau konflik kita selesaikan di sana, namun ada yang terbuka, membiarkan para pembaca untuk melanjutkannya, namun jenis kedua ini, kita harus hati-hati, sebab bila tidak tepat, justru itu akan meruntuhkan bangunan cerita sebelumnya

Ah masih banyak kalo teori, mendingan langsung yang praktis aja:

1. Coba cari kumcer baik dalam bentuk buku, e-book, maupun di blog, coba cari 10 cerpen, lalu baca keseluruhannya, setelah baca semua, coba fokuskan pada endingnya, lalu bandingkan satu sama lainnya, maka Sobat Nida akan menemukan cara membuat ending yang baik.

2. Agar pembelajaran tersebut (nomor 1) efektif maka cobalah cari cerpen yang memang menurutmu bagus, atau menurut orang lain bagus. Terus bagaimana cara menentukan bagus atau tidaknya? Pertama cerpen itu pemenang lomba, dimuat di media yang memang nomor satu, misalnya Horison, Annida-Online (iklan sembunyi-sembunyi), atau penulisnya memang sudah diakui banyak orang, misalnya mbak Helvy Tiana Rosa, Muhammad Yulius dst.

3. Baca kembali cerpen-cerpenmu, lalu lakukan hal yang sama terhadap cerpenmu lihat alur ceritanya, selanjutnya fokus pada ending. Yakin deh kamu bisa menemukan sesuatu pada cerpenmu. Bila sudah ketemu, baru kamu bandingkan, hasil temuanmu pada cerpen2 orang lain; Selamat mencoba!

Annida

About the Author

Setiawan Chogah / Author & Editor

Penulis buku "SMS Terakhir" | Corporate Communications Dompet Dhuafa Banten | Pemimpin Redaksi biem.co (Banten Muda Online) CP: +62 821 1040 9641

0 komen dari temen² gue:

Posting Komentar

Silakan dikomentari, Sob! : (◠‿◠)