Minggu, 01 Mei 2011

Derita Senampeteen

Setiawan Chogah
            Rega Pratama Chaniago, 17 Tahun. Sehari-hari berstatus sebagai pelajar SMA dan bermimpi ingin kuliah di pulau Jawa, namun sudah beberapa hari ini status itu resmi ditinggalkan Rega dengan pengorbanan yang teramat memprihatinkan. Hari-Hari Rega selalu gak pernah jauh dari dapur, sumur, dan kandang kambing. Selain di ketiga tempat itu Rega menghabiskan hari-harinya dengan sahabatnya yang lain . Rega sendiri merasa udah mengasa satu tubuh dengan mereka. Sebenernya sich Rega punya alasan yang kuat untuk gak bisa lepas dari ketiga tempat-tempat yang menurutya paling seksi itu. Sebagai anak yang baik, Rega tahu betul tentang wajibnya mengabdi  kepada orang tuanya. Nah, hanya dengan membantu Amak memarut kelapa atau memasak air di dapur adalah bentuk pengabdian yang paling tepat menurut Rega yang terlahir sebagai anak pemilik Rumah Makan Pasan Mandeh yang terkenal di Kota Padang itu. Rega adalah cowok kampung yang selalu merasa paling menderita katika harus berhadapan dengan hal-hal baru. Apalagi disaat-saat keberangkatannya dari lembar kehidupan purba menuju kota Metropolitan Jakarta. Waw!...”Gue bakal jadi  membernya komunitas gaul Jakarta, Cuy…” Rega nyengir-nyengir kuda binal.
            Berhasil menjebol Senampeteen dengan perjuangan yang teramat memilukan merupakan prestasi luar biasa yang patut diancungi jempol buat Rega. Bagaimana tidak, Rega berjuang sampai tetes darah penghabisan. Gak cuma darah biru Rega yang dikuras sampai kering, tapi juga isi dompet Rega pun diperas sampai licin. Usut-punya usut, ternyata kebangkrutan Rega berawal dari keikutsertaanya dalam layanan sedot pulsanya Ki Jaka Geblek sama Mama Orange.
            “Mau sukses SNMPTN dengan tanpa susah-susah belajar? Gampang! Kamu tinggal Ketik REG (SPASI) AURA kirim ke 1234. Kamu bisa download poto-poto ekslusif saya sepuas-puasnya dan SMS yang kamu terima langsung dari Handpone saya. Buruan” Lho???!!!
            Akhirnya berkat usaha yang berkesinambungan dan disertai doa yang mendalam, Rega sukses menjawab soal-soal Senampeteen yang teramat kejam itu. Dari dua puluh lima soal, Rega berhasil membuat sembilan  soal Matematika Dasar bertekuk lutut. Lima soal Fisika terkapar tak berdaya dan tujuh soal Kimia menyerah setelah Rega praktekin sikap lilin segala cuma buat mutusin jawaban A atau B. Penderitaan Rega gak berakhir sampai di situ. Menurut Rega perlakuan lembut terhadap LJK senampeteen merupakan ujian yang sangat berat. LJK gak boleh kena keringat, gak boleh ketilep, dan gak boleh kena kotoran. Selama ini Rega sudah terampil ngelakuin sesuatu dengan powerfull dan bersimbah keringat. Katanya sich, pamali kalo cowok ngerjain sesuatu gak keringetan. Pokoke be a Man, kudu berkeringat. Wuih...! Opini Rega sich cukup masuk akal. Kapan selesainya kalo marut kelapa kayak nyebokin bayi atau susu kambing gak bakalan keluar kalo gak disertai dengan energy yang optimal, tentunya juga mempertimbangkan keergonomisan posisi kerja. Kadang-kadang Rega juga ikut menyertakan sedikit napsu agar keluarnya susu lebih lancar. Napsu merampas susu kambing buat dijadiin suplemen penambah tenaga. Kata kakeknya sich begitu. Dadih susu kambing dicampur madu akan membuat stamina terjaga dan fit selalu. Benar apa gak, Rega sendiri pun gak tahu.
***
            Juli 2008, udara Kota Padang semakin kering, sekering mata Rega yang selalu meluapkan kristal-kristal bening bersama butir-butir doa yang dia lambungkan setiap sujud sepanjang malam.
            “Ya Allah, luluskanlah hambaMu  yang ganteng ini dari Senampeteen yang sangat kejam. Amin.”
            Hari-hari dilewati Rega dengan penantian yang terasa amat panjang. Rega bener-bener kepikiran dengan kemungkinan terburuk yang akan terjadi saat dia memasukkan kode akses ke www.snmptn2008.ac.id dan dengan manis akan keluar statement yang paling mengesankan seumur hidupnya.
            “Selamat! Anda REGA PRATAMA CHANIAGO dinyatakan lulus di jurusan Ilmu Pijit Universitas Mak Eerot”. Tragis!
            Bisa dibayangin, saat itu ayan kronisnya Rega bakal kambuh  ditandai gejala kejang-kejang, klepek-klepek gaya ayam kena cekek dengan mulut berbusa. Lalu dia bakal ngesot dengan mata juling ke arah pintu. Hahahaha, sebenernya itu cuma akal bulus Rega biar bisa kabur dari warnet. Dasar muka gratisan! Bener-bener kriminal. Belakangan Rega berpikir kalo ide ngeluarin busa dari mulut bisa juga dijadiin andalan untuk buka usaha cuci mobil. Wakakakaka. Garing!
            Tapi ternyata Dewi Fortuna masih berpihak pada Rega. (Sayangnya Dewi Persik malah milih gabung dengan mas Dani.) ” Knapa gak sama gue, coba?” pikir Rega. Padahal kalo diliat dari kacamata Bung Karno, Rega gak beda-beda amat ama Rezky Aditya. Hanya saja Rezky Aditya lebih ganteng dan terkenal sementara Rega lebih jelek dan Mak Lampir ajah amit-amit mau kenalan sama dia. Masa?
            Rega semakin panik setelah mendapat telpon dari Irfal. Sahabat Rega yang tingginya sungguh biadab untuk ukuran orang Indonesia. Apalagi bila dibandingin dengan rata-rata tingginya teman-teman Rega yang kebanyakan gak lebih dari Smekot. Smeter Kotor! Selidik-punya selidik ternyata ranji keluarganya Irfal membuktikan kalo dia merupakan hasil kloning DNA Rega sama Jerapah.” Pantesan rada-rada ganteng dikit. Mungkin bawaan gennya gue kali yah?” Rega kegeeran.
            “Sayaaang... ada teelpoon ..Angkat dooong! Hoooy, ada telpon. Lo budek ya?” YESKIA 1980 klasic Rega nyerocos. (Emangnya ada Ringtone bunyinya kayak gitu????)
            “Hallooo... Dude Herlino disini. Can I help you?” Rega ngangkat hapenya dengan lemas.
            “Ga...ga’, gue lulus di Itebeeee..mbeee...kkk” Si Irfal ngembek dari seberang sana.
            “Apah??...Lo diperkosa embek?” Rega memastikan pendengarannya yang belakangan ini rada-rada terganggu akibat sindrom senampeteen.
            ‘Iyah, gue lulus di itebe, Cuy!” Si Irfal Binti Jerapah malah gak nyambung.
Rega makin gelisah. Geli-geli basah. Pikirannya melayang di udara. Menyeruak kegelapan malam yang semakin pekat. Suara-suara jangrik semakin membuat suasana hatinya semakin galau tak menentu. Oh Tuhan, apakah hamba akan mendapat kabar buruk? Oh tidaaaak!
            “Helloooo, are still with me?” Samar-samar Rega kembali mendengar suara Irfal. Rega diam seribu bahasa.
            “Hellooow, Hey...Gaaa...Gaaa..” yang jelas Rega gak bisa ngomong apa-apa, dia takut kalo kemungkinan terburuk itu benar-benar terjadi.
            “Ga...Slamat yah, lo lulus di UNPAD, yee brati kita deket dong”
Rega kembali diam, namun kali ini dengan mulut sedikit menganga.
            “Whaaaat.....???!!!! are you sure?”
            “Iyah, Exactly... Lo kok kayak gak percaya gitu?”
            “Masa sich Faaaal”
            “Beuh, masih gak pecaya! Swear dech...”
            “Huaaaaaaa.....Unpaaaaaad” Rega berteriak sekencang kencangnya. Sampe-sampe semburat sinar muncul di ufuk timur diiringi kokok ayam jantan dan suara alu yang bertalu-talu. Lho, kok kayak ceritanya Dayang Sumbi dan Sangkuriang?
            “Yah, telat lo ekspersinya!”
            Blessing banget dech. Akhirnya obsesi Rega buat kuliah ke Pulau Jawa kesampaian juga. Di benak Rega tiba-tiba bermunculan serangkaian rencana yang bakal dia lakukan di Pulau Jawa nanti.
            “Hmmmm.... gua bakal poto-poto sama Luna Maya, Aura Kasih, Dewi Persik, Asmirandah dan Olga Syaputra. Eitzz tunggu! Kayaknya Olga gak masuk list dech. Hahahaha, Olgaaaa pipis, lup, n gauli dong!
            Namun kegembiraan Rega harus pending sementara waktu. Rega lupa akan hal terburuk yang bakal dia hadapi. Dia bakal ninggalin Ranah Minang yang begitu elok. Tak kan ada lagi tangan lembut amak yang menepuk bahunya di pagi hari untuk bangun. Tak akan ada lagi kambing-kambing kakek yang menurutnya binatang paling setia. Tak kan ada lagi para sahabatnya yang imut-imut..tak kan ada lagi semuanya. Tidaaaaak……!
            Rega yang awalnya begitu hepi dinyatakan lulus di Unpad berubah menjadi sosok yang amat menjijikkan. Rega jadi malas mandi, malas makan,  malas tidur, dan malas semuanya. Wajah Rega kucel banget, rambut acak-acakan, pipi cekung, dan ingus dimana-mana . Ditambah lagi dengan boxer yang udah bau banget dan kaus Miki Curut yang sobek di sana-sini. Sebenernya Rega butuh sedikit keberanian saja buat turun ke jalan sambil ngorek-ngorek tong sampah sehingga perannya sebagai gembel semakin sempurna.
            Rega memang tipe orang yang gak bisa menerima setiap perubahan besar dalam hidupnya. Dia benar-benar belum siap kehilangan teman-temannya yang sehati tak serahim. Apalagi Si Irfal yang selalu nyebokin dia, Nepit yang selalu nina bobokin Rega kalo lagi rewel, dan Syawelly yang kadang-kadang mirip Amaknya Rega. Kalo rega lagi laper dan nangis kenceng Syawelly langsung netekin Rega ampe merem. Damai banget hidup yang dijalani Rega dikelilingi orang-orang yang ia cintai. Walau kadang-kadang mereka usil ngerjain Rega, seperti Syawelly yang sering netekin Rega pake jempol kaki. Huek!
            “Sayaaang...ada telpoon..Angkat dooong! Hoooy, ada telpon. Lo budek ya?” YESKIA peliraan Rega kembali berdering.
            “Halloooo....” Rega menjawab.
            “Ga...Ga...ternyata lo lulusnya gak di Unpad Bandung, Ga”
            “Maksud lo, Fal?” yang nelpon Rega adalah Irfal
            “Iyah, ternyata lo lulus di Unpad Padang”
            “Apah???!!! Emang Unpad ada di Padang? Rega makin tak percaya
            “Ada Ga...Unpad. Universitas Negeri PadangPariaman!”
Rega shock banget ngedenger penjelasan Irfal. Baginya ini ibarat mimpi saja. Mimpi untuk kuliah ke pulau Jawa yang akhirnya benar-benar pupus. Namun setidaknya Rega harus bahagia karena masih tetap bisa gila-gilaan sama sahabat dan tentunya kambing-kambing seksi yang sudah gak bisa dipisahin lagi sama Rega.
                                                                                                            Serang, September 2008

                  *Teriring salam buat kawan-kawanku di Kota Padang...Lup U Guys!
            NB: Cerpen ini terinspirasi waktu awal-awal saya jadi mahasiswa, lagi telponan sama temen yang di Padang. “Eh, si Fulan lulus di mana sih?, “Katanya sih di Unpad, “Hah? Akhirnya kesampean juga impian tuh bocah kul di Bandung ya”, “Bukan unpad Bandung, Det!, “Lahh? Jadi?”, “Unpad Padang,!!! “,,,,,,????”.

Kembali saya tekankan: Tidak ada unsur pencemaran mana baik di sini. Okey? Be Real, Guys!!! Lo semua udah pada gede, ini negara demokrasi.

About the Author

Setiawan Chogah / Author & Editor

Penulis buku "SMS Terakhir" | Corporate Communications Dompet Dhuafa Banten | Pemimpin Redaksi biem.co (Banten Muda Online) CP: +62 821 1040 9641

0 komen dari temen² gue:

Posting Komentar

Silakan dikomentari, Sob! : (◠‿◠)