Kamis, 28 April 2011

Saat Harus Berpisah

Setiawan Chogah
Sob, sering kali kita tidak adil terhadap kata “perpisahan”. Kita selalu beranggapan perpisahan adalah hal yang negatif, yang menyebalkan, yang harus dihindari, juga hal yang buruk. Padahal kalau ingin melihat dengan adil, perpisahan adalah nama lain dari “awal yang baru”, baik dari pihak yang meninggalkan maupun bagi yang ditinggalkan, keduanya sama-sama memiliki kesempatan untuk memulai sesuatu yang baru setelah perpisahan terjadi.

Permasalahan sebenarnya bukan pada “perpisahan” itu sendiri Sob, melainkan pada bagaimana cara kita menyikapi perpisahan, agar perpisahan itu justru membuat kedua belah pihak sama-sama menjadi semakin baik dan bukan sebaliknya.

Kalau sekiranya perpisahan malah membawa keburukan buat kedua belah pihak, bukankah lebih baik tidak berpisah? Dengan demikian, bisakah Sob rasakan bahwa dalam kata “perpisahan” ternyata juga terkandung unsur harapan. Bisa jadi, tanpa perpisahan tersebut, beban yang dirasakan semakin menghimpit dada dan terasa menyesakkan. Sehingga perpisahan malah menjadi peristiwa pelepasan beban yang melegakan.

Bagi yang sedang mengalami perpisahan, mari kita pahami bahwa perpisahan adalah hukum alam yang tidak bisa kita elakkan selama masih hidup di dunia. Setiap ada perjumpaan, pasti ada perpisahan. Sebagaimana ada kelahiran dan kematian. Perpisahan adalah keniscayaan.

Bila merasa perpisahan tetap saja terasa sulit, menyedihkan dan memberatkan, satu kunci yang perlu kita pegang, “Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, beserta kesulitan ada kemudahan...”

About the Author

Setiawan Chogah / Author & Editor

Penulis buku "SMS Terakhir" | Corporate Communications Dompet Dhuafa Banten | Pemimpin Redaksi biem.co (Banten Muda Online) CP: +62 821 1040 9641

0 komen dari temen² gue:

Posting Komentar

Silakan dikomentari, Sob! : (◠‿◠)